Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 65. Dia Calon Istriku.


__ADS_3

Mereka semua lalu duduk di tempat masing-masing dan mulai memperkenalkan diri secara resmi, walaupun mereka sudah membaca data diri lawan bisnis mereka.


"Saya senang karna anda bersedia untuk bekerja sama dengan kami, Nona Berlin!"


Wanita bernama Berlin itu tersenyum dengan malu-malu. "Kami jauh lebih senang saat menerima tawaran dari anda, Tuan! Kami merasa beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan anda!"


Setelah saling berkenalan dan memuji, mereka lalu membahas semua kerja sama yang akan mereka lakukan. Suatu keberuntungan bagi Arthur, karna dia berhasil mengeluarkan perusahaannya dari jerat kebangkrutan.


Beberapa jam kemudian, pembahasan mereka sudah selesai. Kedua belah pihak sama-sama puas dengan perjanjian yang telah disepakati, terlihat jelas diwajah mereka semua terutama Arthur.


"kita akan mendapat banyak keuntungan jika proyek kita ini berjalan dengan lancar!" seru lelaki paruh baya yang merupakan sekretaris Berlin.


Arthur tersenyum sembari mengambil ponselnya yang sedang bergetar. "Yah, semoga saja! Yang penting proses dari proyek itu sendiri!"


Berlin tersenyum simpul melihat ke arah Arthur, lelaki itu cukup bijaksana dan pintar padahal masih berumur 22 tahun.


"sebenarnya hanya saya sendiri yang diutus oleh Tuan Bobi untuk menemui anda, tapi Nona Berlin memutuskan untuk ikut karna ingin melihat anda secara langsung!"


Arthur mengerutkan keningnya mendengar ucapan sekretaris itu, dia lalu beralih melihat ke arah Berlin yang juga sedang melihatnya.


"benarkah itu, Nona Berlin?" tanya Arthur, jarinya sedang sibuk mengetik pesan diponsel untuk dikirim pada seseorang.


"Benar, Tuan Arthur! Bagaimana menurut anda?"


Arthur tersenyum simpul membuat wanita itu terpukau akan ketampanannya yang bertambah berkali-kali lipat. "Jadi, setelah anda melihat saya. Apa masih ada yang anda inginkan?"


Pertanyaan Arthur sontak membuat Berlin berdebar, dia seperti mendapat angin segar untuk rencananya. Dia lalu memberi kode pada sekretarisnya untuk mengajak sekretaris Arthur keluar dari ruangan itu.


"bagaimana kalau kita keluar, Tuan Nanda! Sepertinya para bos-bos kita ingin bicara dari hati ke hati!" ajak lelaki paruh baya itu.


Nanda melihat ke arah Arthur untuk meminta persetujuannya, dan di balas dengan anggukan kepala bosnya itu membuatnya langsung berdiri dan keluar dari ruangan.


Setelah kepergian dua sekretaris itu, tinggalah Arthur dan Berlian berdua di ruangan. Terlihat Berlin terus mencuri-curi pandang membuat Arthur merasa tidak nyaman, dan ingin sekali lapor polisi.


"Ekhem! Sepertinya anda sedang sibuk, Tuan Arthur?"


Arthur yang memang sedang sibuk dengan ponselnya mendongakkan kepala, dia tersenyum cerah saat seseorang yang dia kirimi pesan sudah mengiyakan keinginannya.


"maaf, Nona Berlin! Apa ada yang ingin anda sampaikan?" tanya Arthur kemudian, dia memandang Berlin dengan tajam tak lupa dihiasi senyuman tampannya.


"bagaimana kalau kita bicara non-formal saja, supaya lebih akrab!" pinta Berlin.

__ADS_1


"Tentu saja!"


Arthur menyetujui apa yang wanita itu inginkan, jelas persetujuannya itu membuat Berlin semakin berharap banyak padanya.


Ting, tiba-tiba ponsel Arthur berbunyi membuatnya cepat-cepat melihat pesan dari wanita yang dia cintai.


"Aku sudah sampai, ini sedang jalan ke ruang 7!"


Senyum Arthur semakin mengembang, dia lalu kembali meletakkan ponselnya dan melihat ke arah Berlin.


"Apa nanti malam kau punya waktu, Arthur? Aku berpikir mungkin saja kau bisa menemaniku untuk berkeliling kota ini!"


Yah, Berlin mulai melancarkan serangan pertama. Sejak dia melihat Arthur, dia sudah jatuh cinta pada lelaki itu, dan akan membuat Arthur juga mencintainya.


"boleh saja, Berlin! Tapi, mungkin aku akan mengajak seseorang," jawab Arthur.


Berlin mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Apa kau ingin mengajak temanmu?" Yah, dia berpikir mungkin saja lelaki itu masih canggung padanya.


Arthur menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Berlin. "Aku akan mengajak calon istriku!"


"Apa?"


"Ca-calon istri? Apa-


Brak, pintu ruangan itu tiba-tiba dibuka oleh seseorang membuat Berlin tidak bisa melanjutkan ucapannya. Sementara itu, Arthur yang melihat kedatangan orang itu langsung beranjak mendekatinya.


"Kau sudah datang, Sayang?"


Berlin semakin terkejut saat melihat kedatangan seorang wanita, terlebih-lebih Arthur memanggilnya dengan sebutan Sayang.


Bukan hanya wanita itu saja yang terkejut, bahkan Lili sampai terpaku di depan pintu karna mendengar panggilan Arthur untuknya.


"Kok malah melamun, ayo masuk! Aku ingin mengenalkan seseorang padamu!"


Arthur menggenggam tangan Lili dan membawanya masuk ke dalam ruangan, terlihat Berlin terus menatap mereka dengan tajam sampai mereka berdiri di hadapannya.


"Berlin, kenalkan ini adalah Lili, calon istiku!"


Lili tersenyum dengan canggung, dia merasa bingung dan senang atas apa yang Arthur katakan.


Lain hal dengan Berlin, hatinya terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jatum saat mendengar ucapan Arthur.

__ADS_1


Lili lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita itu, yang langsung disambut oleh Berlin.


Arthur lalu mempersilahkan Lili untuk duduk di sampingnya dengan tetap berada dalam tatapan Berlin, sungguh wanita itu sedang menahan emosinya saat ini.


"Jadi, anda ini calon istrinya Arthur?"


Tiba-tiba Berlin bersuara, tampak jelas ketidaksukaan diwajahnya saat melihat keberadaan Lili di antara dia dan Arthur.


Lili terdiam mendengar pertanyaan wanita itu, tapi tiba-tiba, tangannya kembali digenggam oleh Arthur seakan-akan lelaki itu sedang menyuruhnya untuk menjawab.


"Be-benar! Saya adalah calon istri Arthur!"


Deg, dia yang bicara tapi dia juga yang berdebar. Dia lalu melirik ke arah Arthur dengan geram, bisa-bisanya laki-laki itu berbohong padanya.


Berlin yang sudah merasa sangat emosi memilih untuk permisi ke toilet, dia harus menenangkan diri sebelum amarahnya mencapai puncak.


"Aw!"


Arthur berteriak sakit saat tiba-tiba lengannya dicubit oleh Lili, wanita itu tampak marah membuatnya langsung tersenyum lebar.


"Kenapa kau berbohong, Arthur? Kau bilang kau sedang butuh pertolongan saat ini!"


Yah, sebelumnya Arthur mengirim pesan pada Lili dan mengatakan kalau dia sedang merasa tidak nyaman dan sakit. Itu sebabnya dia menyuruh Lili untuk datang menemuinya.


"Siapa yang bohong? Aku berkata jujur kok!"


Lili kembali mencubit Arthur dengan kesal, sudah ketahuan seperti ini tapi lelaki itu masih saja berbohong.


"aku benar-benar berkata jujur! Aku memintamu datang ke sini untuk menolongku, karna wanita tadi ingin merebutku darimu!"


"Apa?"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2