
"Pusakanya memang baik-baik saja, tapi pusakaku yang hancur karna perbuatannya!"
Semua orang beralih melihat ke arah Papa Ari, terutama Mama Mawar yang langsung menghampiri suaminya.
"ada apa, Pa? Kenapa dengan pusakamu?" tanya Mama Mawar dengan panik, bisa hancur lebur dia kalau sampai pusaka suaminya tidak bisa bekerja dengan baik dan benar.
Papa Ari bergidik ngilu saat kembali mengingat rasa sakit akibat tendangan Arthur, tangannya bahkan hampir menyentuh asetnya saat teringat dengan semua itu.
Melihat suaminya diam, Mama Mawar langsung berjongkok dan memegang pusaka suaminya membuat semua orang langsung membulatkan kedua mata mereka, terutama Ibu Tasya dan juga Lili.
"Masih utuh, bentuknya juga masih sama walaupun mengerut! Nah, sekarang udah mulai tegang, berarti enggak ada masalah, Pa!"
Papa Ari langsung menjauhkan tangan luknut istrinya yang sudah menjamah pusakanya di depan banyak orang dengan wajah merah padam.
"apa kau sudah gila, Ma?" geram Papa Ari.
"gila kenapa? Aku hanya sedang memeriksa aset berhargamu, Pa! Bisa gawat kalau sampai Papa tidak bisa anu!"
"Mama!"
Semua orang terkikik geli dengan apa yang Mama Mawar lakukan, begitu juga dengan Dokter dan beberapa perawat yang masih ada di tempat itu.
Setelah kondisi Arthur mulai kembali normal, Dokter segera memindahkannya ke ruang perawatan. Arthur masih belum diperbolehkan pulang karna memang lelaki itu belum juga sadar sampai saat ini.
"anda yakin kan Dok, kalau anak saya baik-baik saja?" tanya Mama Mawar sembari memegangi tangan Arthur, saat ini mereka sudah berada di ruang perawatan.
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya! Anak anda tidak sadar karna kami memang memberi obat yang menyebabkan dia tertidur, agar efek dari obat perangs*ang itu bisa cepat hilang!"
Mama Mawar menganggukkan kepalanya mengerti, dia lalu memasukkan tangannya ke dalam selimut untuk memeriksa apakah pusaka Arthur masih tegak atau tidak.
"tapi anunya sudah tidak terlalu tegang yah, Dok! Sudah mulai mengerut," ucap Mama Mawar sembari menepuk-nepuk adik kecil Arthur.
Ibu Tasya dan Lili memalingkan wajah mereka saat melihat apa yang Mama Mawar lakukan, entah kenapa mereka berdua merasa malu.
Dokter itu menganggukkan kepalanya dan berlalu pamit dari ruangan itu dengan masih merasa lucu dengan apa yang Mama Mawar lakukan.
Setelah memastikan keadaan Arthur aman terkendali, Papa Ari, Ayah Barra, Bian dan juga Kiki memutuskan untuk segera ke kantor polisi untuk menemui penjahat itu.
Sepanjang perjalanan, Bian terus melirik ke arah Ayah Barra yang duduk di belakangnya. Dia sedang berpikir keras kenapa keluarga Arthur bisa sampai berurusan dengannya, bisa gawat kalau sampai mereka tau pekerjaan yang sedang dia lakukan.
__ADS_1
"Aku akan mencongkel matamu kalau kau terus melirikku!"
Semua orang melihat ke arah Ayah Barra saat mendengar ucapannya, sementara Bian hanya tersenyum simpul sembari mengangkat sebelah alisnya.
"kenapa kau terus meliriknya, Bian? Apa kau ada masalah dengannya?" tanya Papa Ari tanpa mengalihkan pandangannya, karna saat ini dia sedang mengendarai mobil.
"tidak, Paman!" jawab Bian sembari kembali melirik ke arah Ayah Barra.
"Tapi tunggu, kenapa sepertinya kau kenal dengan orangtua Lili?"
Tiba-tiba suasana menjadi hening, baik Bian maupun Ayah Barra tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Papa Ari.
"benar! Sepertinya Ayah sudah kenal dengan Bian," tiba-tiba Kiki buka suara, dia juga penasaran kenapa Ayahnya bisa kenal dengan lelaki itu.
"Ki, kau harus memanggil Bian dengan sebutan Kakak!" ucap Papa Ari membuat Bian dan Kiki mengernyitkan kening mereka.
"kenapa?" tanya Bian dan Kiki bersamaan.
"karna Bian adalah Kakak kandung Masya, dan Masya adalah pacarmu!"
"Apa?"
"Bagaimana mungkin Masya itu jadi adikmu?"
Ayah Barra terlihat tidak terima, padahal dia sudah mulai menerima keberadaan wanita itu, tapi kenapa Masya malah punya Kakak seperti Bian.
Sementara itu, Bian hanya bisa diam seribu bahasa. Dia masih sangat syok saat mengetahui kalau adiknya ternyata berpacaran dengan anak dari mantan bosnya sendiri.
"ma-maafkan aku, Kak! Aku tidak tau kalau kau adalah kakaknya Masya!" ucap Kiki sembari melihat ke arah Bian, terlihat lelaki itu sedikit terkejut dengan ucapannya.
"Y-ya, tidak apa-apa!"
Bian melirik ke arah Ayah Barra yang juga sedang meliriknya, mereka berdua merasa benar-benar sial karna berada disituasi seperti ini.
"Dasar bod*oh! Kenapa Masya bisa pacaran sama dia sih?"
Bian merasa khawatir kalau sampai Ayah Barra buka suara dan memberitahu adiknya tentang apa yang dia kerjakan, karna sudah pasti adiknya akan mengadu pada kedua orangtuanya.
Sama halnya dengan Bian, Ayah Barra merasa kesal kenapa harus berurusan dengan lelaki itu lagi. Dia juga tidak mau sampai orang luar tau siapa dia sebenarnya.
__ADS_1
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di halaman kantor polisi. Mereka semua segera turun dan berlalu masuk ke dalam dengan semangat membara.
Papa Ari menghentikan langkah kakinya saat melihat seorang lelaki yang sangat dia kenali membuat yang lainnya juga ikut berhenti.
"Tuan Malik?"
Malik yang ternyata sudah ada di tempat itu langsung berdiri dengan angkuh saat melihat kedatangan Papa Ari.
"Kenapa? Apa kau terkejut karna melihatku?"
Dalam kondisi seperti ini pun lelaki paruh baya itu masih saja bersikap sombong, membuat Ayah Barra dan yang lainnya tersulut emosi.
"apa, apa Tuan yang sudah melakukan hal buruk pada Arthur?"
"cih! Sekarang cabut tuntutanmu dan lepaskan anakku!"
"Apa?"
Papa Ari merasa terkejut dengan apa yang Malik katakan, dia dan yang lainnya beralih melihat ke arah samping di mana Gesya sedang duduk dengan senyum sinisnya.
"jadi, anakmu yang telah melakukan itu pada Arthur?"
"Tolong tenang Tuan-Tuan, ini di kantor polisi!"
Salah satu polisi mulai menengahi mereka sebelum suasana memanas, sementara Ayah Barra beralih mendekati Gesya.
"kau yang telah memberi Arthur obat perangsang?" tanya Ayah Barra.
"siapa kau? Apa urusannya denganmu?" jawab Gesya dengan ketus.
"Tidak ada! Aku hanya ingin mengatakan kalau mulai besok kau akan hidup dalam neraka!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘