
"Tidak ada! Aku hanya ingin mengatakan kalau mulai besok kau akan hidup dalam neraka!"
Gesya tersentak kaget saat mendengar apa yang lelaki paruh baya itu katakan, sementara Ayah Barra kembali berjalan ke arah Kiki dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa dia berkata seperti itu?"
Gesya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk melupakan apa yang laki-laki sinting itu katakan, sementara Ayah Barra menatap tajam ke arahnya dengan smirik iblis membuat Bian bergidik ngeri.
"Maaf, apa anda orangtua dari Tuan Arthur Ravindra?"
Salah satu polisi bertanya pada Papa Ari membuatnya langsung mengangguk, dia lalu mempersilahkan Papa Ari dan juga Malik untuk duduk di hadapannya.
Polisi itu lalu mulai bertanya mengenai keadaan Arthur saat ini, juga tuduhan yang dilayangkan oleh dua orang penjaga keamanan terhadap Gesya yang telah melakukan tindak kejahatan terhadap Arthur.
"Kenapa harus dipersulit, buktinya mana kalau anak saya telah melakukan kejahatan pada anaknya?"
Malik melakukan pembelaan, dia tidak sadar kalau seorang saksi dari kejadian itu sedang berdiri tegak di belakangnya.
"bukti kau bilang? Jelas-jelas anakmu telah menyuntikkan obat perangs*ang ke tubuh Arthur sampai membuatnya masuk rumah sakit!"
"kau yakin kalau anakku yang memberinya obat itu? Bisa jadi anakmu sendiri yang memakainya untuk bersenang-senang!"
"kau-"
"Hentikan, Tuan-Tuan! Tolong bekerja samalah dengan kami!"
Ayah Barra, Bian dan juga Kiki hanya menjadi penonton budiman saja saat ini, mereka masih diam melihat bagaimana proses itu berlangsung.
"jadi, apa Tuan punya bukti atas tuduhan terhadap Nona Gesya?" tanya polisi itu pada Papa Ari.
"Kami sudah meminta hasil pemeriksaan dari rumah sakit!"
Papa Ari memberikan hasil pemerikasaan yang menjelaskan di beberapa bagian tubuh Arthur terdapat sidik jari Gesya.
"Bisa saja Gesya dan Arthur hanya sedang mengobrol dan saling berpegangan, apa yang salah dengan itu?"
__ADS_1
Malik kembali bersuara, dia lalu menatap tajam ke arah polisi yang saat ini tampak gugup melihatnya.
"be-begini, Tuan! Jika hanya ini saja, itu tidak bisa dijadikan bukti untuk tuduhan terhadap Nona Gesya. Dua orang yang mengantarnya tadi juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya mengatakan kalau ada seorang pria yang menyuruh mereka membawa Nona Gesya."
"Kalian lihat! Anakku tidak bersalah, kalian bisa ku tuntut karna sudah mencoreng nama baikku!"
Papa Ari mengepalkan kedua tangannya dengan geram, lalu tiba-tiba Bian maju dan berdiri tepat di samping Papa Ari.
"Aku adalah orang yang menyuruh dua penjaga itu untuk membawa wanita itu ke sini!"
Malik membulatkan matanya saat mendengar ucapan Bian, begitu juga dengan Gesya yang baru mengenali siapa laki-laki itu.
"bo-bohong! Aku, aku tidak melihatnya ada di sana!" bantah Gesya, dia berdiri sembari menunjuk ke arah Bian.
"Benarkah? Lalu, apa kau juga tidak ingat bagaimana aku bisa mendapatkan luka ini?"
Bian menunjukkan tangannya yang sedang dibalut dengan perban membuat Gesya menelan salivenya dengan kasar, dia ingat kalau tangan itulah yang telah menghantam kaca mobilnya sampai pecah.
Di tengah perdebatan itu, Ayah Barra menghubungi seseorang untuk memeriksa lokasi kejadian. Dia harus memperlihatkan kondisi di tempat itu sekaligus cctv yang ada di sana.
"Lokasi itu sudah bersih, Tuan! Tidak ada apapun di sana kecuali mobil Tuan Arthur, bahkan cctv juga sepertinya sudah dimanipulasi!"
"begini saja, Tuan-Tuan! Menurut kami, masalah yang terjadi ini hanya kesalah pahaman saja, mungkin Tuan-Tuan bisa menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan!"
"Salah paham kau bilang? Apa kau tidak tau kalau anakku hampir mati karna perbuatan anaknya?"
Papa Ari mencengkram kuat kerah seragam polisi tersebut membuat suasana menjadi panas, sementara polisi yang lain mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Papa Ari.
"bukan seperti itu, Tuan! Hanya saja-"
"Hentikan!"
Semua orang beralih melihat ke arah Ayah Barra yang sedang bersandar di dinding, dia tepaksa menghentikan ocehan mereka karna sudah tau permainan antara Malik dan juga para polisi itu.
"Jika petugas keamanan negara saja bisa serendah ini, lalu bagaimana jadinya para penjahat diluaran sana?"
__ADS_1
Semua orang terdiam saat mendengar ucapan Ayah Barra, khususnya para polisi yang saling lirik karna merasa tersindir oleh ucapannya.
Bian yang mulai mengerti dengan apa yang dimaksud Ayah Barra tersenyum tipis, dia lalu membisikkan sesuatu ketelinga Papa Ari agar lelaki itu mengikuti apa yang Ayah Barra lakukan.
"apa, apa maksud anda, Tuan?" tanya salah satu polisi tersebut.
Ayah Barra hanya mengendikkan bahunya saja untuk menanggapi pertanyaan polisi itu, dia lalu berjalan ke arah Malik yang menatapnya dengan tajam.
"Polisi bilang kita harus menyelesaikannya secara kekeluargaan, jadi, apa anda bersedia ikut dengan kami?" ucap Ayah Barra dengan lembut disertai senyuman manis diwajahnya.
Malik terdiam, dia mulai bertanya-tanya siapakah sosok laki-laki yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
"siapa kau? Kenapa kau ikut campur urusanku?"
"Aku? Aku calon mertua Arthur, jadi, aku berhak ikut campur bukan?"
Malik dan Gesya sedikit terkejut saat mendengar ucapan lelaki paruh baya itu, kemudian Malik menganggukkan kepalanya karna berpikir kalau Ayah Barra adalah orang biasa saja hingga jiwa sombongnya mulai meronta-ronta.
"baiklah, karna semuanya sudah selesai, saya akan menutup kasus pelaporan-"
"B*a*cot!"
Tiba-tiba Bian bersuara membuat polisi itu tidak bisa melanjutkan ucapannya, kemudian dia berlalu keluar mengikuti langkah Ayah Barra dan yang lainnya.
"bereskan mereka!" ucap Ayah Barra saat Bian sudah berdiri di sampingnya.
Bian tersenyum senang mendengar perintah dari Ayah Barra, dia merasa seperti kembali kebeberapa tahun silam saat sedang bersama dengan lelaki paruh baya itu.
"Dengan senang hati, Tuan!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘