
"Ada apa dengan Arthur? Apa dia mengangkat tangan pertanda kalau sudah menyerah?"
Kiki melihat Arthur dengan bingung, begitu juga dengan Masya yang hampir tertawa akibat tingkah bocah itu.
Lili dan Ayahnya berpelukan dengan erat, wanita itu tidak kuasa untuk menahan kesedihannya dan menumpahkan segala sesak yang ada didadanya selama ini.
"maafkan aku, Ayah!"
"Diam! Sekali lagi kau minta maaf, Ayah tidak akan mengampunimu!"
Lili sedikit mengulas senyum, yah, seperti inilah sifat Ayahnya. Walaupun terkesan kasar, tapi Ayahnya orang yang perhatian dan peduli pada orang lain.
Lelaki paruh baya itu kemudian melerai pelukannya, tetapi kedua tangannya masih berada dibahu kanan dan kiri Lili.
"Jadi, apa kau bisa menjelaskan kenapa laki-laki yang sejak tadi menempel denganmu ini datang kemari?"
Arthur tersenyum canggung saat Ayah Lili melihat tajam ke arahnya, sementara Lili sendiri menelan salivenya dengan kasar.
"di-dia, dia adalah-"
"saya Arthur, Om!" potong Arthur, dia mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan diri.
Lelaki paruh baya itu beralih melihat ke arah Arthur, dia melepaskan pegangan tangannya dibahu Lili membuat putrinya itu sedikit tegang.
Ayah Lili kemudian menerima jabatan tangan Arthur dan mencengkramnya dengan erat, sampai Arthur meringis merasa kalau telapak tangannya remuk redam.
"Saya Barra, saya bukan Om kamu!"
Ayah Barra kemudian melepaskan genggaman tangannya sembari berdecih, dia merasa kalau Arthur sangat lemah karna baru digitukan saja sudah meringis kesakitan.
"ka-kalau bukan Om, saya harus panggil apa?"
"Mana saya tau!"
Lili yang sudah ingin menghentikan perdebatan itu dihalangi oleh Kiki, Kakaknya itu menggelengkan kepala dan memberi isyarat agar membiarkan Arthur dan Ayah mereka.
"bagaimana kalau Paman?"
"tidak!"
"Bapak?"
__ADS_1
"aku bukan Bapakmu! Sejak kapan aku menikah dengan Mamakmu?"
"Kakek?"
"Apa mulutmu mau ku robek?"
Kiki dan Masya terkekeh geli melihat interaksi antara Arthur dan Ayah Barra, begitu juga dengan Lili dan juga Ibunya.
"Nak, siapa dia? Sepertinya dia sangat cocok dengan Ayahmu," bisik Ibu Tasya pada Lili.
"Apanya yang cocok, Bu? Kalau kita biarkan, bisa-bisa Ayah mengamuk!"
Ibu Tasya hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Lili, untuk pertama kalinya ada yang berani menimpali ucapan suaminya seperti itu.
"ya sudah, kalau gitu aku akan memanggil Ayah!"
"Apa?"
"A-Ayah, bagaimana kalau kita masuk!" ajak Lili, dia melotot ke arah Arthur agar lelaki itu menghentikan ocehannya.
Ayah Barra lalu mengikuti langkah Lili yang membawanya masuk ke dalam rumah, tetapi tatapan tajamnya masih menyorot ke arah Arthur.
"Hahahahah, Arthur! Kau, kau- wkwkwk ...!"
"Sudah-sudah, maafkan suami Tante yah, Arthur!"
Ibu Tasya merasa tidak enak hati dengan lelaki itu, yah walaupun memang sudah begitu sifat dari suaminya.
"tidak apa-apa, Bu! Aku enggak masalah kok, asalkan Ibu mau merestui aku dan Lili,"
"H-hah?"
Sempat-sempatnya Arthur mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti itu, tapi yah dia memang harus memanfaatkan setiap kesempatan dengan baik dan benar.
"dasar bocah!" cibir Kiki.
Kemudian dia mengenalkan Masya kepada Ibunya, dan meminta Ibunya agar tidak memikirkan apa yang Arthur katakan tadi.
Setelah itu, mereka semua berkumpul diruang keluarga. Ibu Tasya terus bertanya pada Lili bagaimana kehidupan yang dia jalani diluar sana, juga bertanya tentang banyak hal mengenai hubungannya dengan Reza.
"aku sudah berpisah dengannya, Bu! Dan, dan aku juga sudah ...," Lili menjeda ucapannya karna masuh ragu untuk mengatakan perihal Zia pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Sudah punya anak!"
Kiki yang ingin mengatakan perihal keponakannya kalah cepat dari Ayah Barra, mereka semua merasa terkejut karena ternyata Ayah Barra sudah mengetahui semuanya.
"a-anak? Kau bilang anak?" tanya Ibu Tasya pada suaminya, Ayah Barra menganggukkan kepalanya dengan cepat dan tegas.
"B-ba-bagaimana Ayah mengetahuinya?"
Lili merasa sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau Ayahnya ternyata sudah tau tentang keberadaan gadis kecilnya.
"kau pikir Ayahmu ini siapa? Tentu saja Ayah tau semuanya, Ayah juga tau kalau Reza menggugat hak asuh Zia Anastasya, cucuku! Ayah tau-"
"Dasar keterlaluan! Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?"
Plak, plak, plak! Ibu Tasya memukuli tubuh suaminya karna merasa kesal atas apa yang lelaki itu lakukan, bisa-bisanya hanya dia yang tidak tau kalau ternyata Lili sudah punya anak.
"gila! Ibu mereka ganas juga yah," bisik Arthur pada Masya, yang sedang duduk di sampingnya.
"hati-hati kau, Thur! Rupanya Ayah mereka itu orang pintar, dia bisa tau semuanya. Jangan-jangan dia juga sudah tau, kalau kau sedang mengejar Lili?"
"orang pintar? Apa Ayah mereka seorang dukun?"
"Ekhem!"
Deheman Kiki berhasil membungkam mulut Arthur dan juga Masya, dia melotot ke arah mereka berdua yang sedang bisik-bisik manja di sampingnya.
"sekarang katakan! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Ibu Tasya dengan ngos-ngosan, capek juga rasanya memukuli suaminya walaupun Ayah Barra hanya diam menerima segala pukulannya.
"Karna kau pasti akan langsung menemui mereka, aku tidak mau jauh darimu, Sayang!"
Ayah Barra memeluk istrinya dengan erat serta memberikan kecupan mesra dibibir istrinya itu, membuat Arthur dan Masya membulatkan mata mereka dengan mulut terbuka, sementara Kiki dan Lili hanya geleng-geleng kepala saja karna sudah biasa melihat apa yang Ayah Barra lakukan.
"Siapa sebenarnya Ayah Barra ini? Kenapa aku merasa kalau dia adalah orang yang berkuasa? Dan lihat apa yang dia lakukan, ya Tuhan, aku benar-benar tidak habis pikir!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘