Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 42. Percobaan Pertama Untuk Calon Menantu.


__ADS_3

"Ini gila! Aku pasti akan langsung jadi Arthur cincang kalau terkena kapak itu!"


Arthur bergidik ngeri, tetapi dia mencoba untuk tetap berani menatap Ayah Barra yang juga sedang menatapnya.


"Ikut aku!"


Ayah Barra berjalan melewati mereka ke arah jalan setapak yang ada di balik gazebo, dia kemudian kembali menghentikan langkah kakinya karna Arthur dan Masya tidak mengikutinya.


"Sebelum kapak ini melayang kekepala kalian, lebih baik kalian ikut aku sekarang juga!"


Masya semakin merapatkan tubuhnya ketubuh Arthur, sementara Arthur mulai melangkahkan kakinya mengikuti apa yang Ayah Barra inginkan.


"Arthur, lebih baik kita pergi saja dari sini! Aku belum siap menyandang gelar di depan namaku!"


Arthur mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Masya. "Gelar apa? Apa Kakak sekolah lagi?"


"bukan gelar itu, tapi gelar almarhum!"


Arthur langsung menepuk mulut Masya yang menyebut kata almarhum. Dia masih ingin menikah dengan Lili dan belum siap untuk bertemu dengan malaikat maut.


"Apa kalian tidak dikasi makan? Sampai berjalan seperti itu saja lambat!"


Arthur bergegas mempercepat langkah kakinya mendengar ucapan Ayah Barra, sementara Masya sampai berlari kecil sembari terus memeluk lengan Arthur.


Mereka melewati jalan bebatuan yang terjal yang mengharuskan mereka untuk berhati-hati agar tidak terjatuh, belum lagi keadaan tanah yang tidak seimbang membuat kaki mereka terasa sangat pegal karna harus naik dan turun.


"Hah, hah, hah! Sebenarnya kita mau ke mana sih?"


Masya sudah merasa gemetar dan tidak sanggup untuk melangkahkan kakinya, dia bersandar disebuah pohon sembari meluruskan kakinya yang sangat pegal.


"entahlah, kayaknya kita mau dibawa ke gerbang neraka!"


"Mulutmu!"


Arthur terkekeh pelan melihat raut wajah Masya, dia lalu melihat ke arah bawa di mana Ayah Barra sedang melihat mereka dengan tajam.


"bentar yah, Om! Napas dulu," teriak Arthur, terserah lah lelaki itu mau marah atau tidak, yang pasti dia sudah merasa sangat lelah dengan perjalanan mereka.


Kicauan burung-burung yang beterbangan di atas pohon terasa seperti nyanyian membuat mata Masya mulai sayup-sayup ingin terpejam, tetapi tiba-tiba dia terlonjak kaget saat mendengar suara benturan yang cukup kuat.


"su-suara apa itu?" tanya Masya sembari bangun, dia melihat ke arah bawa di mana sumber suara terdengar.

__ADS_1


"cepat! Kita harus segera jalan sebelum algojo itu marah!"


"A-Arthur, tunggu aku!"


Mereka berlari menuruni bukit bebatuan itu dengan terburu-buru, karna apa yang Ayah Barra lakukan benar-benar membuat mereka merinding takut.


Pasalnya, Ayah Barra mengampak kayu-kayu yang ada disekitarnya seolah-olah sedang memperlihatkan kalau dia akan melakukan hal yang sama jika mereka tidak segera melanjutkan perjalanan.


Tidak berselang lama, sampailah mereka disebuah lembah yang sangat indah dengan banyaknya kayu-kayu yang tergeletak di tempat itu.


Masya berdecak kagum dengan pemandangan yang sedang mereka lihat, begitu juga dengan Arthur yang ingin membawa Lili ke tempat dia berada saat ini.


Brak! Arthur dan Masya kembali terkejut saat Ayah Barra melemparkan kapaknya yang menancap tepat di ujung kaki Arthur. Maju sedikit saja, sudah jelas Arthur akan kehilangan jempolnya.


"kenapa, Om? Oom udah gak kuat bawanya?"


"Kampak semua kayu-kayu yang ada di sini sekarang juga!"


Ayah Barra menunjuk ke arah batang pohon yang ada disekitar mereka dengan diikuti pandangan Arthur dan juga Masya.


"kenapa? Apa Om ini penjual kayu?"


"Ck!"


"aku gak pernah pakai kapak Om, coba Oom praktekkan!" ucap Arthur dengan jujur, dia memang pernah melihat orang memakai kapak tapi tidak pernah memainkannya.


Ayah Barra lalu mengambil kapak itu dan mulai mencincang batang pohon yang ada di hadapannya, sementara Arthur memperhatikan apa yang lelaki paruh baya itu lakukan.


"hey kau, ke sini!"


"Ke-kenapa?"


Masya mendekati Ayah Barra dengan pelan, jantungnya berdebar kencang karna takut dengan lelaki paruh baya itu.


"Kau kumpulkan semua kayu-kayu ini dan susun di sana! Awas kalau sampai berantakan!"


Masya langsung menganggukkan kepalanya dan menjalankan apa yang Ayah Barra inginkan, sementara Ayah Barra kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Ayo Om terus, semangat!"


Ayah Barra menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara Arthur, dia baru sadar seharusnya lelaki itulah yang bekerja tapi malah dia yang melakukan semuanya.

__ADS_1


"Brengsek! Beraninya dia membod*ohi aku!"


Ayah Barra berjalan ke arah Arthur dan langsung mengayunkan kapaknya tepat kekepala lelaki itu hingga Arthur berteriak dengan kuat.


"aaarggh! Astaga, Oom ini becandanya seru sekali sih, hampir saja nyawaku terbang ke atas!"


"banyak sekali ceritamu! Cepat kau kerjakan semuanya, kalau sampai tidak selesai, aku tidak akan merestuimu dengan anakku!"


Arthur terlonjak kaget mendengar uacapan Ayah Barra. "Jadi, kalau aku menyelesaikannya, Oom akan memberi restu padaku?"


"tidak!"


"cih! Lalu untuk apa tadi ngomong seperti itu?"


"Itu adalah tahapan pertama yang harus kau lewati, kalau berhasil kau akan naik ketahap selanjutnya. Begitu juga dengan wanita itu, kalian tidak bisa bersama dengan anakku sebelum aku mengizinkannya!"


Arthur terlihat bersemangat saat mendengar ucapan Ayah Barra, sementara Masya merasa ingin mati saja karna sudah tidak tahan dengan semua ini.


"Tapi, apa dulu Reza juga melakukan ini?"


Deg, pertanyaan Arthur membuat Ayah Barra langsung menatapnya tajam. Dia lalu maju selangkah hingga tersisa beberapa senti saja jaraknya antara dia dan Arthur.


"Jangan pernah mengungkit nama laki-laki bajing*an itu di hadapanku! Atau aku akan merobek mulutmu!"


Glek, Arthur tersenyum lebar sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Akan tetapi, ada satu hal yang melintas dikepalanya.


"tadikan, Tante juga menyebut namanya. Kenapa Oom tidak marah?" tanya Arthur dengan heran, bahkan Ibu Tasya beberapa kali menyebut nama Reza.


"dia istriku, tentu saja aku tidak marah!"


"hoho ... ternyata Oom itu suami takut istri yah?"


"Apa?"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2