
"Li, maukah kau menikah denganku?"
Lili terpaku mendengar apa yang Arthur katakan, mulutnya terbuka dengan lidah yang terasa kaku dan tidak bisa menanggapi apa yang lelaki itu katakan.
"Aku tau kalau kau pasti sangat terkejut dengan apa yang aku katakan, tapi, aku benar-benar mengatakannya dengan tulus!"
Tanpa bisa menjawab ucapan Arthur, air mata Lili menetes membasahi wajahnya membuat lelaki itu panik.
"Ma-maafkan aku!"
Arthur mengusap air mata yang mengalir dari kedua mata Lili, dia merasa menyesal telah mengatakan hal seperti itu dan membuat wanita itu menangis.
Lili sendiri sedang berusaha untuk mengendalikan diri, sekuat tenaga dia menahan air mata yang terus terjun bebas dari kedua matanya. Dia bukan merasa sedih mendengar ucapan Arthur, melainkan merasa kaget dan tidak percaya karna lelaki itu mengajaknya menikah.
"Arthur, aku-"
"Tidak apa-apa, aku mengerti! Maaf karna membuatmu bersedih!"
Lili menggelengkan kepalanya, dia tidak mau Arthur salah paham dengan reaksinya tadi.
"Arthur, dengarkan-"
"Sudahlah, kalau memang kau merasa tidak nyaman. Lebih baik lupakan saja, anggap aku tidak pernah bicara apapun!"
Lili merasa bingung harus bagaimana menjelaskan pada Arthur, lelaki itu tidak membiarkannya bicara sedikitpun.
"Arthur, aku mohon dengarkan aku!"
Arthur yang sudah akan menjalankan mobilnya terdiam, dia melirik ke arah Lili yang sedang melihatnya dengan tajam.
"Li, aku bilang sudah tidak perlu-"
Cup, Lili yang merasa geram langsung mengecup pipi Arthur membuat lelaki itu tercengang.
"Dengarkan aku dan diamlah!"
Arthur menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, sungguh nyawanya seperti sedang terbang ke langit ketujuh.
"Arthur, aku mengerti apa yang kau ucapkan, dan aku menangis bukan karna sedih atau tidak menyukaimu. Hanya saja ... aku, aku merasa sangat kaget dan tidak menyangka kalau kau akan mengajakku menikah!"
__ADS_1
"Selama ini aku selalu berpikir kenapa kau menyukai wanita sepertiku, padahal kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Apalagi dengan statusku yang seperti ini, sungguh sangat tidak pantas untuk menjadi pendampingmu!"
Tangan Arthur terulur menggenggam kedua tangan Lili, dia merasa sangat bahagia, bahkan rasa bahagianya itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Aku tidak akan menjelaskan kenapa aku lebih memilihmu dari pada wanita lain, karna semua itu tidak perlu! Kau wanita istimewa, apapun yang ada dalam dirimu berhasil membuatku jatuh cinta. Dan kau tidak perlu membandingkannya dengan yang lain, itu hal yang tidak ada gunanya!"
Mata Lili kembali panas, seumur hidupnya dia tidak pernah merasa seperti ini. Bahkan di masa lalunya sekalipun, cinta Arthur benar-benar berhasil membuatnya berderai air mata bahagia.
"Dan masalah status, sebenarnya aku sangat beruntung. Beli 1 dapat 2, siapa yang tidak mau?"
Air mata yang sudah berkumpul dikelopak mata Lili tidak jadi keluar saat mendengar ucapan Arthur, lelaki itu berhasil membuat suasana haru menjadi ceria.
"Apalagi kalau diskon, apa kau bisa memberikan diskon padaku?"
Lili mengernyitkan keningnya karna tidak mengerti dengan diskon yang lelaki itu katakan, sementara Arthur meletakkan jari telunjuknya tepat ke bibirnya seolah memberi petunjuk tentang diskon yang dia maksud.
"Tidak mau!"
Lili memalingkan wajahnya yang bersemu merah membuat Arthur tertawa gemas, kemudian dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Lili karna dia ingin membicarakan masalah ini pada kedua orangtua wanita itu.
Pada saat yang sama, di rumah Kiki telah terjadi perang dingin antara Ayah Barra dan juga Ibu Tasya. Zia bahkan sampai harus diungsikan agar tidak terkena dampak dari perang tersebut.
"Apa? Kau mau apa?" Tantang Ibu Tasya sambil berkacak pinggang, sejak tadi dia sudah merayu suaminya tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Yah tidak melakukan apa-apa!"
Ayah Barra membuang muka kesal, sejak pagi istrinya sudah membicarakan tentang Bian yang membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun.
Ibu Tasya sendiri juga merasa sangat kesal melihat keras kepala suaminya, dia tidak tau lagi harus melakukan apa supaya suaminya mau merestui pernikahan Kiki dan juga Masya.
"Suamiku, Masya itu tidak ada hubungannya dengan Kakaknya. Jadi kenapa kau tidak merestui mereka?" ucap Ibu Tasya dengan penuh penekanan, dia akan mengalah sebentar lagi dan berharap suaminya luluh.
"Bian itu laki-laki licik, dia pasti tidak akan menerima Kiki begitu saja. Sebelum itu terjadi, lebih baik aku dulu yang tidak menerima adiknya!"
Benar-benar pemikiran yang sangat bijaksana, dia harus menginjak lawannya dulu sebelum lawannya menginjaknya. Tapi, ini bukan saatnya sepertu itu.
"aku akan membicarakannya pada Bian, dan aku-"
"Beraninya kau menyebut nama laki-laki lain?"
__ADS_1
Sudah emosi seperti ini, tetapi istrinya masih saja menyebut nama Bian membuat hatinya semakin terbakar. Tidak jauh berbeda dari Ayah Barra, bahkan Ibu Tasya sudah tidak bisa membendung emosinya lagi.
"Aku bukan hanya akan menyebut nama laki-laki lain, tapi akan pergi bersama dengan mereka juga! Apa kau puas?"
Suara teriakan Ibu Tasya menggema di seluruh penjuru rumah membuat telinga Ayah Barra berdengung, tetapi semua itu tidak seberapa dibandingkan hatinya yang berdenyut sakit.
"kau berani?"
"Tentu saja tidak! Tapi kalau kau tetap tidak merestui Kiki dan masya, maka aku akan melakukannya!"
Ayah Barra mendessah frustasi, sebenarnya dia tidak masalah merestui mereka. Hanya saja dia takut kalau Bian mempengaruhi putranya yang lugu, padahal dia tidak tau kalau Kiki sebenarnya tidak selugu itu.
"Baiklah, aku akan merestui mereka! Tapi dengan satu syarat!"
Ibu Tasya yang mendengarnya langsung berlari dan memeluk tubuh suaminya. "Aku akan melakukan syarat apapun yang kau inginkan, Sayang!"
Ayah Barra menyeringai, kenapa tidak sejak tadi saja dia seperti ini pikirnya. Buang-buang tenaga dan waktu saja.
"Kau akan mengabulkan apapun yang aku inginkan?"
Ibu Tasya menganggukkan kepalanya dengan yakin, apapun akan dia lakukan asal anak-anaknya bisa hidup bahagia.
"Aku ingin kau selalu memanggilku Sayang setiap waktu!" Ibu Tasya mengangguk.
"Aku ingin kau menciumku setiap saat aku memintanya!" Ibu Tasya kembali mengangguk.
"Kau tidak boleh pergi ke manapun sebelum mendapat izin dariku!" Dia kembali mengangguk.
"Aku ingin kau kembali memberiku anak!" Ibu Tasya kembali mengangguk, tapi sesaat kemudian ...
"Apa? Anak?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘