Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 68. Meminta Restu.


__ADS_3

"Aku ingin kau kembali memberiku anak!" Ibu Tasya kembali mengangguk, tapi sesaat kemudian ...


"Apa? Anak?"


Sungguh dia sangat terkejut dengan apa yang suaminya katakan, bagaimana mungkin suaminya kembali meminta anak sementara mereka sudah punya cucu.


"Benar, beri aku satu anak lagi. Maka aku akan-"


Plak, belum sempat Ayah Barra menyelesaikan ucapannya, tangan Ibu Tasya sudah mendarat dipunggungnya. Wanita paruh baya itu terus memukuli suaminya berharap laki-laki itu sadar dengan apa yang dia inginkan.


"Apa kau sudah gila? Kita itu sudah punya cucu, tapi bisa-bisanya kau masih berpikir tentang anak!"


Ibu Tasya menghembuskan napasnya dengan kasar, dia terus seperti itu karna benar-benar merasa kesal dengan suaminya.


"Sayang, jangan kebanyakan buang napas gitu. Nanti kalau kau kehabisan napas, baru tau rasa!"


"diam kau, ini napasku. Jadi suka-sukaku lah!"


"Cih!"


Kedua suami istri itu sama-sama membuang muka dengan kesal. Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Arthur dan Lili sudah berada di dalam rumah itu.


"Li, sepertinya kita harus cepat-cepat menikah!" bisik Arthur tepat ditelinga Lili.


Wanita itu mengerutkan keningnya dengan bingung. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Tentu saja, kita tidak boleh ketinggalan dari orangtuamu! Anak kita harus lahir duluan daripada adikmu!"


Lili terkikik geli mendengar ucapan Arthur, entah kenapa dia merasa lucu kalau sampai dia dan Kiki punya adik lagi.


"Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu!"


Kedua manusia paruh baya itu terjingkat kaget saat mendengar suara Arthur, mata mereka membulat sempurna saat melihat lelaki itu dan Lili ada di rumah.


"sejak kapan kalian di sini?" tanya Ayah Barra sembari menyodorkan tangannya karna ingin di salim oleh Arthur.


"Sejak Ayah dan Ibu membahas soal anak!"


Wajah Ibu Tasya berubah merah saat mendengar ucapan Arthur, sementara Ayah Barra hanya berdecak saja sembari melihat ke arah sang istri.


Setelahnya Arthur dan Ayah Barra duduk di ruang keluarga, sementara Lili sedang menjemput putrinya yang dititipkan di rumah tetangga.

__ADS_1


"jadi, bagaimana kabar perusahaanmu, Arthur?" tanya Ayah Barra.


Arthur tersenyum mendengar pertanyaan Ayah Barra. "Alhamdulillah sudah mulai stabil, Yah! Terima kasih atas bantuan Ayah dan Kak Bian."


Arthur tau kalau mereka berdualah yang telah melakukan semua ini, walaupun dia tidak tau dengan cara apa mereka mengalahkan Malik, dan membuat lelaki itu saat ini sedang berada dalam kehancuran.


"cih, biasa saja!" ucap Ayah Barra dengan bangga, dia merasa senang karna sudah lama tidak menghancurkan orang lain.


"Ini makanan dan minumannya, selamat menikmati!"


Ibu Tasya bergabung bersama dengan mereka sembari menyajikan minuman dan makanan ringan, dia meletakkannya di atas meja dan mempersilahkan Arthur untuk menikmatiya.


"Terima kasih, Bu!"


Arthur mengambil minuman yang sudah wanita paruh baya itu sediakan, dan meminumnya sampai setengah gelas.


"jadi begini, kedatanganku ke sini karna ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Ayah dan Ibu!" ucap Arthur sembari kembali meletakkan gelas minumannya.


"Jadi, kalau tidak ada yang kau katakan. Kau tidak akan datang?"


Ibu Tasya melotot ke arah Ayah Barra dan meminta lelaki itu untuk diam, suaminya memang selalu saja merusak suasana di manapun dan kapanpun.


"Bukan seperti itu, Yah! Hanya saja saat ini apa yang ingin aku bicarakan sangatlah penting!"


"kenapa? Apa kau mau mengatakan kalau-"


"Kalau kau tidak bisa diam, lebih baik kau keluar!"


Ibu Tasya menunjuk ke arah pintu keluar membuat Ayah Barra langsung menutup mulutnya rapat-rapat, dia ingin sekali melakban mulut suaminya itu agar diam dan tidak menyela ucapan orang lain.


"aku ingin melamar Lili, dan menjadikannya istriku!"


"Benarkah?"


Arthur menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ibu Tasya, terlihat wanita paruh baya itu tersenyum lebar dipenuhi dengan kebahagiaan.


"cih, padahal yang di lamarkan Lili. Kenapa dia yang bahagia seperti itu?" gumam Ayah Barra yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


"kapan? Kapan kau dan keluargamu akan datang, Arthur?" tanya Ibu Tasya, dia benar-benar merasa sangat bahagia mendengar ucapan Arthur.


"Aku akan langsung membawa kedua orangtuaku, kalau Ayah dan Ibu memberi restu pada kami!"

__ADS_1


Arthur melirik ke arah Lili yang baru saja masuk bersama dengan Zia, terlihat wanita itu tersenyum dengan kepala tertunduk membuat dia merasa gemas.


"Ibu setuju, Ibu merestuinya!" ucap Ibu Tasya dengan cepat, dia lalu menggeser duduknya sampai merapat ke tubuh Ayah Barra.


"Suamiku, kau juga merestuinya kan?"


Ibu Tasya menggenggam tangan Ayah Barra membuat lelaki itu melirik dengan tajam, dia lalu beralih melihat ke arah Arthur.


"Apa kau yakin ingin menikah dengan putriku?"


Arthur langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat, terlihat jelas pancaran keyakinan dari sorot matanya saat ini.


"kalau begitu, datanglah-"


"Tunggu!"


Tiba-tiba terdengar suara Kiki yang baru masuk ke dalam rumah itu membuat semua orang melihat ke arahnya, ternyata bukan dia saja yang datang tetapi Bian dan Masya juga ada di tempat itu.


"Kau? Apa yang kau lakukan di rumahku?"


Ayah Barra bangun dan mendekati Bian yang berdiri di belakang Kiki, semua orang terlihat cemas dengan pertemuan kedua lelaki itu.


"Ayah, dengarkan-"


Ayah Barra mengangkat tangannya untuk menyuruh Kiki diam, saat ini dia ingin bicara dengan Bian, dan bukan dengan siapapun.


"apa anda bisa bicara dengan saya sebentar, Tuan?" pinta Bian dengan senyum manis diwajahnya, tentu saja senyum itu semakin membuat Ayah Barra kesal.


"kenapa aku harus-"


"Bisa, tentu saja bisa, Bian! Silahkan masuk ke dalam ruangan itu, dan untukmu suamiku, masuklah dengan tenang dan damai, atau aku akan melakukan apa yang aku katakan tadi!"


Ibu Tasya bicara dengan penuh kelembutan, tapi percayalah, suami dan anak-anaknya sudah merinding mendengar suaranya itu.





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2