Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 79. Ekstra Part (Pemersatu Bangsa)


__ADS_3

Acara pesta pernikahan itu berjalan dengan lancar dan meriah, semua tamu undangan dibuat puas dengan segala kemewahan yang tersaji di depan mereka. Baik dari dekorasi, pelayanan maupun makanan dan minuman yang sangat memanjakan lidah mereka.


Saat ini, keempat pengantin sedang sibuk menyalami semua tamu-tamu mereka. Begitu juga dengan para orang tua, yang sibuk bertegur sapa dengan kolega bisnis mereka masing-masing.


"Waah, selamat untuk mu Bro!"


Dewa dan teman-teman Arthur yang lain dapat giliran untuk naik kepelaminan, dan menyalam pengantin secara langsung.


"Hehe, kalian datang juga rupanya!"


Arthur berpelukan dengan semua teman-temannya, terlihat jelas kebahagiaan yang terpancar diwajahnya saat ini.


"Jelas dong, mana mungkin kami enggak datang!"


Arthur hanya tertawa saja menanggapi ucapan temannya itu, kemudian Dewa beralih melihat ke arah Lili.


"Selamat juga untuk anda, Bu! Kami enggak menyangka kalau Ibu bisa membuat Arthur klepek-klepek!"


Lili tersenyum mendengar ocehan mantan mahasiswanya itu, sementara Arthur berdecih sembari menepuk lengan Dewa.


"terima kasih karna kalian semua sudah hadir dipesta kami, silahkan nikmati hidangannya!" ucap Lili dengan ramah.


Teman-teman Arthur menganggukkan kepala mereka, lalu kembali turun karna masih banyak tamu lain yang ingin bersalaman dengan mereka.


Acara pesta itu berlangsung sampai pukul 10 malam, setelah itu semua tamu mulai meninggalkan tempat itu dan kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.


Bruk. "Kau tidak apa-apa, Ma?"


Papa Ari terkejut saat istrinya menghempaskan tubuh ke atas kursi dengan kasar, untung saja kursinya itu kuat, kalau tidak sudah pasti pantat Mama Mawar mendarat di lantai.


"Aah, aku capek sekali!"


Mama Mawar berteriak membuat orang-orang yang masih ada di tempat itu melihat ke arahnya, dia lalu memijat kakinya yang bergetar karna sejak tadi pagi terus berdiri dan berjalan ke sana kemari.


"Ada apa, Ma?"


Arthur dan Lili mendekati Mama Mawar, mereka khawatir saat mendengar teriakan wanita paruh baya itu.


"Mama capek sekali, huh! Untung Mama cuma punya 1 anak, kalau tidak sudah gak kuat Mama pesta kayak gini lagi!"


Beruntung juga dia cuma punya 1 anak, bayangkan kalau Mama Mawar punya 5 orang anak. Bisa dipastikan kalau hari ini dia tidak lagi bernapas.


Lili yang tau kalau mertuanya itu pasti sangat lelah segera berjongkok dan memijat kaki Mama Mawar membuat wanita itu kaget, begitu juga dengan Arthur dan Papa Ari.


"Apa yang kau lakukan, Sayang? Kalau mau memijat Mama, ayo kita ke kamar!"


Arthur yang mengira Mamanya akan menolak dan segera menyuruh Lili bangun, malah mengajak istrinya ke kamar. Tentu saja dia harus menghalanginya, tidak mungkin dia sendirian dimalam pertama mereka.


"Mama kan bisa minta pijat Papa!"

__ADS_1


Arthur menarik tangan Lili agar bangun, dia mau mengajak istrinya itu istirahat karna dia pun sudah hampir pingsan sangking lelahnya.


"Papa gak pintar mijat, pintarnya anu! Hihihi!"


Papa Ari mencubit lengan istrinya, dan segera membawa Mama Mawar ke kamar mereka untuk istirahat.


"Kenapa kalian masih di sini?"


Arthur dan Lili beralih melihat ke arah samping, terlihat Ibu Tasya dan Ayah Barra sedang berjalan ke arah mereka.


"Ibu kok belum istirahat? kasian Ayah gendong Zia kayak gitu!"


Yah, saat ini Ayah Barra bertugas sebagai baby sitter. Sejak tadi pagi dia menemani Zia ke sana kemari, walaupun ada beberapa orang yang mencoba untuk mendekatinya. Akan tetapi, Bian selalu ada di sana dan menghalau semua orang.


"Ini Ibu juga mau ke kamar, kalian juga istirahat langsung ya!"


Arthur dan Lili menganggukkan kepala mereka, lalu berbalik dan segera keluar dari aula itu untuk ke kamar mereka.


"Sayang, nanti Zia tidur sama siapa?"


Arthur dan Lili yang sudah melangkahkan kaki kembali melihat ke Ayah Barra, saat mendengar ucapannya.


"Ya sama kita lah, Sayang! masa iya sama Lili dan Arthur sih!"


Ayah Barra berdecak kesal, dia melirik ke arah Arthur dan Lili kemudian melangkah lebar pergi dari sana.


"Dasar laki-laki itu!" Ibu Tasya merasa geram sekaligus gemas.


Kali ini Arthur yang merasa kesal, dia melihat Lili dengan tajam membuat Ibu Tasya tergelak karnanya.


"Biar Zia sama Ibu saja, kan gak lucu kalau kalian lagi MP tiba-tiba Zia bangun!"


Blush, wajah Lili langsung merah mendengar ucapan Ibunya sementara Arthur merasa senang atas pengertian dari mertuanya itu. Mereka semua lalu bubar barisan dan kembali ke kamar masing-masing.


Sementara itu, Masya dan Kiki yang sudah berada di dalam kamar langsung menghempaskan tubuh mereka ke atas ranjang. Seluruh tubuh mereka terasa sangat pegal, bahkan untuk membersihkan diri saja rasanya sudah tidak mampu.


"Kamu enggak ke kamar mandi dulu?"


Kiki memiringkan tubuhnya ke arah Masya, wanita itu menggelangkan kepalanya pertanda kalau dia tidak ingin ke manapun saat ini.


Cup, Kiki mengecup bibir Masya sekilas membuat wanita itu membuka kedua matanya. Pandangan mereka berdua bertemu, entah siapa yang mulai duluan, tetapi saat ini bibir mereka sudah saling menghisap dan melummat.


"Eemh!"


Masya mengerrang tertahan saat Kiki mengigit bibirnya, mereka kini sama-sama bermain lidah dan mengabsen isi dari mulut masing-masing.


Ciuman itu terhenti saat mereka sudah sama-sama kehabisan napas, Kiki yang akan kembali menyerang Masya ditahan oleh tangan wanita itu.


"Aku, aku mau ke kamar mandi dulu!"

__ADS_1


Tubuh yang lelah seketika kembali segar, entah karna sudah istirahat atau karna dorongan napsu yang sedang melanda.


"Tidak perlu, kita bisa ke kamar mandi setelah ronde 1 selesai!"


Kiki kembali melummat bibir seksi Masya tanpa membiarkan wanita itu menolak, dia lalu melepaskan gaun yang masih menempel ditubuh wanita itu hingga hanya menyisakan segitiganya saja.


Lambat laun ciuman itu turun keleher jenjang Masya dan membuat tanda kepemilikan di sana membuat Masya mengerrang dan mendessah, lalu ciuman itu beralih ke puncak gundukan sintal yang sudah tegak menantang.


"Aaah, eem!'


Kiki langsung menikmatinya bak seorang bayi yang kehausan, tangannya juga sibuk meremmas-remmas gundukan sintal yang menganggur membuat Masya terus menggelinjang karna rasa geli dan nikmat yang tidak tertahankan.


Dengan cepat, Kiki membuka seluruh pakaiannya memperlihatkan tubuhnya yang sudah polos. Dia lalu segera menarik satu-satunya penutup yang masih tersisa ditubuh Masya.


"Aku akan mulai, Sayang!"


Masya menganggukkan kepalanya, matanya mulai terpejam saat merasakan aset Kiki yang sudah menggesek-gesek bibir lembahnya yang sudah basah.


Kiki berusaha untuk melakukannya dengan lembut, agar istrinya tidak terlalu merasa sakit. Dengan perlahan dia memasukkan asetnya yang menegak sempurna ke dalam kenikmatan Masya.


"Aaargh- em!"


Kiki langsung membungkam mulut Masya dengan bibirnya, dan terus menerobos masuk dalam kenikmatan itu.


Jleb, dengan beberapa kali hentakan akhirnya dia berhasil membobol pertahanan Masya. Terlihat wanita itu memejamkan matanya dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher, menandakan kalau saat ini dia sedang kesakitan.


"Aku mencintaimu, Sayang! Aku sangat mencintaimu!"


Kiki berusaha untuk memberikan ketenangan pada Masya membuat wanita itu membuka matanya, dan tersenyum tipis. Dia lalu mulai memaju mundurkan tubuhnya untuk mencapai kenikmatan dunia.


Sesuatu yang hangat terasa mengalir dikedua pahanya, dia tau kalau itu adalah darah suci milik sang Istri. Kiki memgecupi wajah Masya dengan penuh cinta, dan dibalas dengan senyuman manis wanita itu.


"Terima kasih karna sudah menerimaku, aku mencintaimu, Istriku! Aku sangat mencintaimu!"


Masya mengecup bibir Kiki sekilas dan menatapnya penuh cinta. "Aku juga mencintamu, Suamiku! Terima kasih karna sudah memilihku!"


Mereka menghabiskan malam dengan penuh cinta dan gairah, semua rasa meluap begitu saja hingga kebahagian membuncah dalam relung hati mereka yang paling dalam.





Tbc.


Ternyata masih ada 1 part lagi untuk MP nya Arthur dan Lili 🤣 atau mau sampai sini aja?


Jangan lupa mampir ke karya teman aku ya 😍 dijamin keren dan seru 🥰

__ADS_1



__ADS_2