
"Kenapa kalian diam?"
Ayah Barra menggertakkan giginya karna sudah merasa sangat emosi, sementara mereka hanya diam sembari memelototinya.
"Menantu? Jadi Ayah sudah memberi lampu hijau untuk Arthur yah?"
Kiki menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Ayahnya, sementara Ayah Barra sendiri malah menarik kerah kemeja Kiki membuat yang lainnya menjadi panik.
"kau jangan main-main, Ki! Cepat kasih tau Ayah!"
"Oke-oke, tapi lepaskan dulu cengkraman setan Ayah ini!"
Ayah Barra melepaskan cengramannya dan kembali duduk tenang di samping Ibu Tasya, dia lalu melingkarkan tangannya ke lengan sang istri dengan mesra.
Kiki melirik ke arah Masya untuk menyuruh wanita itu memberitahu mereka siapa yang telah mengguncang perusahaan keluarga Arthur, karna dia sendiri juga tidak tau.
"namanya Malik Ladrama, dia pemimpin dari perusahaan L group!" ucap Masya.
Ayah Barra mengernyitkan keningnya saat mendengar nama yang Masya sebutkan, dia seperti pernah mendengar nama itu disebuah tempat.
"lalu, apa masalahnya dengan keluarga Arthur? Sampai dia melakukan hal sekejam itu!"
Pertanyaan dari Ibu Tasya mewakili rasa penasaran Kiki dan Ayah Barra, mereka semua ingin tau alasan dibalik perbuatan lelaki bernama Malik.
"Tuan Malik ingin menikahkan putri semata wayangnya dengan Arthur, tetapi Arthur menolaknya!"
"Apa?"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Masya, tetapi tidak untuk Lili yang sepertinya mulai paham sosok wanita yang akan menikah dengan Arthur.
"Jaman sekarang masih ada hal seperti itu?"
Ibu Tasya benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Malik lakukan, bisa-bisanya dia membuat perusahaan bangkrut hanya karna Arthur tidak mau menikah dengan putrinya.
"Makanya itu, Tante! Aku merasa kasihan dengan Arthur, dia bahkan tidak bisa melanjutkan kuliahnya gara-gara masalah ini!"
__ADS_1
Kedua orangtua Lili merasa geram dengan apa yang terjadi dengan Arthur sementara Lili hanya diam dengan pandangan kosong lurus ke depan.
"Apa kau baik-baik saja, Nak?"
Ibu Tasya yang baru menyadari kalau sejak tadi Lili diam beralih menggenggam kedua tangannya membuat anaknya itu terjingkat kaget.
"y-ya? A-ada apa Bu?" tanya Lili dengan gelagapan.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau sudah tau mengenai masalah Arthur?"
Lili menganggukkan kepalanya, dia lalu menceritakan semua tentang Gesya pada mereka. Tidak lupa, Lili juga memberitahu kalau saat ini Arthur dan dia sudah dikeluarkan dari Universitas.
"Dasar bajing*an brengse*k! Lihat saja mereka, aku akan membalas apa yang sudah mereka lakukan!"
Ayah Barra sudah tidak bisa tinggal diam, apalagi mendengar cerita Lili bahwasannya dia dan Arthur dikeluarkan dari Universitas akibat perkelahiannya dengan wanita bernama Gesya.
"Tenanglah, Ayah! Ayah tidak boleh melakukan apapun!"
Kiki terlihat sangat tidak setuju, dia tidak akan membiarkan Ayah Barra melakukan sesuatu yang pastinya akan mengundang perhatian banyak orang.
Kiki tidak bisa menjawab pertanyaan sang Ayah, dia juga merasa tidak terima dengan apa yang sudah terjadi pada Lili. Akan tetapi, dia juga tidak bisa membiarkan Ayahnya berbuat macam-macam.
"tapi Yah, Ayah tidak bisa-"
"Aku tidak akan membuat keributan, aku hanya akan membunuh mereka dalam diam!"
Deg, semua orang merasa terkejut dengan apa yang Ayah Barra katakan, terutama Masya yang langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh Kiki.
"sudah berapa kali ku katakan, kau tidak boleh membunuh!" ucap Ibu Tasya dengan penuh penekanan.
Ayah Barra berdecak kesal, dia merasa orang-orang seperti Malik memang pantas untuk dibunuh walaupun dia tidak akan membunuh mereka secara langsung.
"ka-kalian tidak perlu khawatir, aku, aku sudah menghubungi Kakakku agar segera kembali ke negara ini!" ucap Masya dengan tergagap, dia masih merasa sangat syok dengan apa yang Ayah Barra katakan.
"Apa hubungannya dengan kakakmu? Apa kakakmu itu bisa mengatasi segalanya?"
__ADS_1
Ayah Barra merasa ragu, dia tau kalau menghadapi orang seperti Malik harus menggunakan kekerasan dan ancaman. Bahkan bila perlu, dia harus membunuhnya sekalian.
Masya menganggukkan kepalanya dengan ragu, tetapi dia mencoba untuk yakin kalau Kakaknya bisa mengatasi masalah yang sedang membelit keluarga Arthur.
Pada saat yang sama, Arthur dan Papanya sedang melakukan rapat dengan semua pemegang saham yang ada diperusahaan itu. Mereka harus segera memutuskan apa yang harus dilakukan karna harga saham perusahaan itu terus menurun dengan drastis.
"kami meminta pertanggung-jawaban dari anda, Tuan! Anda harus mengganti kerugian kami karna masalah ini!" ucap salah satu pemegang saham yang ada di ruangan itu.
"Benar, anda harus bertanggung jawab! Bagaimana mungkin semua ini terjadi dalam sekejap mata?"
Papa Ari merasa pusing mendengar tuntutan dari para pemegang saham, karna bukan hanya itu saja yang harus dia pikirkan saat ini.
"Saya mengumpulkan kalian di sini bukan untuk mendengar ucapan sampah kalian itu, tapi untuk mencari jalan keluar tentang masalah ini!"
Semua orang terdiam saat mendengar ucapan Arthur, dia lalu menepuk bahu Papanya untuk memberikan semangat.
"Kalian sibuk meminta ganti rugi, apa kalian pikir hanya kalian saja yang mengalami kerugian?"
Suara Arthur menggema di ruangan rapat itu, dia merasa kesal dengan mereka yang hanya memikirkan uang, uang dan uang saja.
"saat ini, ada seseorang yang mencoba untuk menggulingkan perusahaan ini. Seharusnya kita bersatu dan mencari jalan keluarnya, bukan sibuk meminta pertanggung jawaban!"
"Diam kau! Tau apa kau soal perusahaan? Kau cuma anak kemaren sore yang tiba-tiba datang keperusahaan dan membuat keributan! Atau jangan-jangan, kau yang menyebabkan perusahaan ini menjadi bangkrut?"
Arthur terdiam mendengar ucapan salah satu dari pemegang saham, tangannya terkepal erat dengan emosi yang sudah meletup-letup sampai keubun-ubunnya.
"Jaga bicara anda, Tuan! Jangan lupa, Tuan Arthur adalah anak dari pemilik perusahaan ini. Dia juga mempunyai saham sebesar 20%, dan juga, kalau bukan karna kerja kerasnya mungkin saja perusahaan ini sudah ditutup!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘