Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 45. Gangguan di Tengah Jalan.


__ADS_3

"aku juga akan ikut!"


"Apa?"


Ibu Tasya dan kedua anaknya merasa terkejut dengan apa yang Ayah Barra katakan, mereka menatap tajam ke arah Ayah Barra yang juga melihat mereka secara bergantian.


"Suamiku, kau tidak salah?"


Ayah Barra menggelengkan kepalanya, sementara Ibu Tasya refleks meletakkan punggung tangannya ke kening sang suami karna mungkin saja suaminya sedang sakit.


"tidak demam! Tapi, apa kau serius?" tanyanya kembali.


Sebelumnya suaminya itu memang mengiyakan keinginannya untuk ikut dengan Kiki dan Lili, tentu saja karna dia mengancam tidak akan mau berdekatan dengan Ayah Barra jika dia tidak mengizinkannya pergi.


"tentu saja aku serius! Aku tidak mau berjauhan denganmu, aku akan ikut ke manapun kau pergi!" jawab Ayah Barra dengan serius, dia bahkan mengecup bibir sang istri karna sangking seriusnya.


Kiki dan Lili saling pandang, mereka tidak menyangka kalau Ayah Barra ingin ikut dengan mereka.


"Tapi Ayah, apa, apa tidak papa?"


Kiki merasa khawatir kalau Ayahnya kembali bertemu dengan orang-orang yang selama ini mengusik mereka, lebih tepatnya mengharapkan Ayahnya untuk kembali seperti dulu.


"apa yang kau khawatirkan? Tentu semuanya akan baik-baik saja!"


"Aah, aku benar-benar mencintaimu, Suamiku!"


Ibu Tasya merasa sangat senang dengan keputusan yang suaminya buat, dia langsung mengecup seluruh wajah suaminya membuat semua orang memalingkan wajah karnanya.


Akan tetapi, ada satu orang yang malah semakin membulatkan matanya saat melihat semua itu. Siapa lagi kalau bukan Arthur, dia merasa bibirnya sudah sangat kering akibat tidak pernah berciuman seperti itu.


"hey, tutup matamu, anak kecil!" seru Ayah Barra.


"Apa? Anak kecil? Aku ini sudah dewasa, Om! Jangan panggil aku anak kecil!"


Arthur bersungut-sungut marah, usianya susah menginjak 22 tahun tetapi masih dikatai kecil oleh Ayah Barra.


"baiklah, kalau gitu aku akan memanggilmu Siva!"


Krik, krik, krik. Semua orang saling pandang saat mendengar ucapan Ayah Barra, mereka lalu sama-sama berdehem dan kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.


Setelah selesai menyantap makan malam, mereka kembali berkumpul di gazebo belakang. Tugas fisik sudah Arthur dan Masya lalui, tetapi sepertinya itu semua belum cukup untuk Ayah Barra.


"Kau! Kenapa selama ini kau selalu mendekati anakku?"

__ADS_1


Ayah Barra menunjuk tepat ke arah Arthur yang sedang duduk di samping Lili.


"yah karna aku mencintainya, Om!" menjawab dengan cepat dan tepat hingga menusuk ke jantung semua orang.


"cih! Apa yang mau dibanggakan darimu, kemampuan fisikmu saja sangat lemah!" cibir Ayah Barra.


"Bagaimana bisa, nantinya kau melindungi Lili dengan tubuh lemahmu itu?"


Arthur mengernyitkan keningnya, dia paham betul sebagai seorang lelaki sudah jelas harus melindungi wanitanya. Akan tetapi, ucapan yang terlontar dari mulut Ayah Barra terasa berbeda dan mempunyai maksud tersembunyi.


"melindungi? Melindungi dari siapa?"


"tentu saja dari orang-orang jahat! Gimana sih, gitu saja tidak tau!" sarkas Ayah Barra.


"Kau juga! Sebagai Pengacara, seharusnya kau tau ilmu bela diri! Seenggaknya yang dasar saja, ini tidak! Menyusun kayu saja sudah seperti tidak makan 1 tahun!"


Masya menelan salivenya mendengar ucapan Ayah Barra, yah sejak dulu dia memang paling lemah dalam hal ilmu bela diri.


"Cih, dari tadi menceramahi orang saja! memangnya dia bisa bela diri, apa?"


Gumaman Arthur terdengar sampai ke telinga Ayah Barra membuatnya naik darah. "Ke sini kau! Akan ku tunjukkan apa itu bela diri!"


Glek, Ibu Tasya dan kedua anaknya menelan salive mereka dengan kasar. Tidak, mereka tidak bisa membiarkan Ayah Barra beraksi. Kalau sampai itu terjadi, bisa dipastikan kalau Arthur hanya tinggal nama.


"benar, Yah! Besok kita akan melakukan perjalanan panjang, jadi harus banyak istirahat!"


"Tidak! Aku bisa menyelesaikan 1 ronde sebelum istirahat!"


Benar, dan 1 ronde itu pasti akan berhasil mencabut nyawa Arthur. Itulah yang ada dalam pikiran Kiki dan Lili.


"Suamiku, apa kau tidak mau tidur?"


Ibu Tasya lalu berbisik ditelinga suaminya membuat wajah Ayah Barra menjadi cerah, dia lalu menggandeng lengan sang istri dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Hah, untung saja!"


Lili bernapas lega melihat Ayahnya sudah masuk ke dalam rumah, dia lalu menatap Arthur dengan tajam.


"Arthur, jangan lagi menantang Ayahku! Kau bisa saja celaka tadi," ucap Lili memperingatkan.


"biarkan saja, Li! Biarkan kepalanya terbelah jadi dua, hahahaha!"


"Cih, memangnya Ayah kalian itu siapa sih? Ketua gengster? Mafia?"

__ADS_1


Deg, Kiki dan Lili terdiam mendengar apa yang Arthur katakan sementara Arthur dan Masya sama-sama melihat mereka dengan penuh tanda tanya.


"Ini sudah malam, lebih baik kita semua istirahat!"


Kiki beranjak dari sana dan masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh Lili, dia juga menyuruh Arthur dan Masya untuk istirahat di kamar yang sudah tersedia.


"Arthur, aku merasa kalau Ayah mereka memang bukan orang sembarangan!"


"Benar, Kak! Melihat tenaganya yang super itu, sepertinya dia bagian dari gengster atau mafia!"


Yah, Masya menyetujui semua itu. Dia juga bisa melihat betapa hebatnya kekuatan Ayah Barra, juga cara bicaranya memperlihatkan kalau dia adalah seorang penguasa.


****


Keesokan harinya, setelah sarapan mereka semua langsung berangkat pulang bersama dengan Ibu Tasya dan juga suaminya.


Sepanjang jalan, wanita paruh baya itu terus bersenandung ria mengikuti alunan musik yang sengaja Kiki putar untuk menemani perjalanan mereka.


"kau senang sekali, yah?" tanya Ayah Barra.


"Tentu saja! Sudah lama aku tidak pergi keluar, apalagi nanti aku akan bertemu dengan cucuku!" jawab Ibu Tasya dengan riang gembira.


Ayah Barra hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kebahagiaan yang ada diwajah sang istri, persetan dengan apapun yang akan terjadi, yang jelas dia ikut bahagia jika istrinya bahagia.


Brak! Tiba-tiba suara benturan yang cukup keras menggema dilokasi mereka saat ini, sepertinya Kiki telah menabrak sesuatu hingga akhirnya mereka semua keluar untuk melihatnya.


"ini jebakan!"


Benar saja, setelah Ayah Barra mengatakannya. Keluarlah beberapa orang dari tempat persembunyian mereka dengan menggunakan topeng.


"serahkan barang-barang kalian jika kalian ingin selamat!" ucap salah satu dari mereka.


"benarkah? Ambil saja kalau kau bisa!"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2