Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 55. Pusakanya Baik-baik Saja.


__ADS_3

"benar! Salah paham anda itu mengerikan, Tuan! bisa saja anda membunuhku tadi,"


"Cih!"


Ayah Barra berdecih kesal, sementara yang lainnya melihatnya dan Bian dengan bingung karna ternyata mereka berdua saling mengenal.


"A-Arthur, kau, kau baik-baik saja?"


Lili yang baru menyadari kalau Arthur sudah membuka kedua matanya beralih bertanya padanya, terlihat semua orang langsung melihat ke arah mereka.


"Lili?"


Kening Arthur berkerut saat melihat Lili ada di hadapannya, sementara Lili langsung menganggukkan kepalanya saat melihat wajah Arthur yang kebingungan.


"Arthur, kau baik-baik saja?"


Mama Mawar dan yang lainnya beranjak mendekatinya dan hendak membantunya untuk berdiri.


Cup! Tiba-tiba mereka semua terperanjat kaget saat tiba-tiba Arthur mengecup bibir Lili, terutama Lili yang langsung kaku sembari memandang ke arahnya.


"Lili, aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu!"


Cup, untuk sekali lagi Arthur mendaratkan kecupannya dibibir Lili membuat wanita itu kembali mendapat kesadarannya.


"Apa-apa yang kau lakukan?"


Lili langsung berdiri dengan tangan menyentuh bibir, sementara yang lain terpelongok melihat aksi Arthur yang mencium Lili di depan banyak orang.


"Kau mau mati, Arthur?"


Ayah Barra terlihat emosi, seenaknya saja lelaki itu mencium putrinya di depan banyak orang seperti ini.


"Eeuung ... Lili, tolong aku!"


Arthur menggeliatkan tubuhnya membuat semua orang menjadi panik dan mendekatinya.


"Arthur! Apa yang terjadi padamu?"


Mama Mawar menggoyang-goyangkan tubuh Arthur agar anaknya itu sadar, sementara yang lainnya hanya melihatnya dengan bingung.


"Mama- eenggh ...!"


Arthur mengerrang hebat membuat semua orang kembali terlonjak kaget, terutama Lili yang kembali mendekatinya.


"Apa yang terjadi padanya?"


Lili merasa sangat khawatir, untuk sesaat dia melupakan ciuman yang sempat mendarat dibibirnya. Begitu juga dengan Ayah Barra yang saat ini tampak mengkhawatirkan lelaki itu.

__ADS_1


"dia terkena obat perangs*ang!"


"Apa?"


Tiba-tiba Bian bersuara membuat semua orang sangat terkejut, sementara tubuh Arthur mulai bergetar dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


Semua orang bertambah panik dan langsung membawa Arthur ke rumah sakit sebelum terjadi sesuatu pada lelaki itu.


Sepanjang perjalanan, Arthur terus bergerak-gerak diserta errangan yang keluar dari mulutnya. Bahkan asetnya sudah tergak sempurna membuat semua orang merasa sangat panik.


"Papa! Aku, aku ingin- eenggh ...!"


Arthur menahan sekuat tenaga segala gejolak birahi yang sedang dia rasakan, sementara Ayah Barra, Kiki dan juga Papa Ari terpaksa memegangi tangan dan kakinya yang terus bergerak ke sana-kemari.


"Bertahanlah Arthur- hegh ...!"


Papa Ari menjerit tertahan saat kaki Arthur menendang tepat ke bagian aset berharganya membuat Ayah Barra dan Kiki langsung merapatkan kaki mereka.


"Aku, aku sudah tidak tahan! Aaarggh ...!"


Bian semakin menekan pedal gasnya saat melihat Arthur sudah menggeliat seperti cacing kepanasan, sementara yang lain berusaha untuk tetap memegangi tubuh Arthur yang sudah bergerak sensual.


Lili, Mama Mawar dan Ibu Tasya yang sedang berada dimobil lain juga merasa sangat khawatir, mereka tau benar bagaimana efek samping dari obat perangs*ang yang saat ini sedang menyiksa tubuh Arthur.


"Bertahanlah, Arthur! Aku mohon!"


Lili memejamkan kedua matanya dan terus berdo'a agar Arthur baik-baik saja, dia dan para wanita harus berada dimobil yang berbeda dari Arthur katna takut kalau lelaki itu akan melakukan sesuatu hal diluar kesadarannya.


"Oouh, Aah .... Lili- eengh!"


Arthur terus meracau dengan batangannya yang tegak menantang membuat Lili langsung melepas jaketnya dan meletakkannya tepat di atas aset lelaki itu.


"Apa, apa dia terkena obat perangs*ang?"


Semua orang menganggukkan kepala mereka untuk menjawab pertanyaan Dokter, lalu Dokter tersebut langsung membawa Arthur ke ruang UGD untuk mendapat penanganan.


"Hah!"


Semua orang bernapas lega karna sudah berhasil membawa Arthur ke rumah sakit, malam ini mereka semua seperti terkena serangan jantung atas apa yang terjadi pada Arthur.


"Bian, lebih baik kau obati dulu lukamu!"


Bian baru sadar kalau tangannya tadi sempat terluka. "Ini cuma luka kecil kok, Tante!"


Mama Mawar menatapnya tajam lalu memaksanya untuk ikut menemui Dokter, dia tidak bisa membiarkan luka Bian begitu saja apalagi keponakannya itu sudah menolong putranya.


"Sebenarnya siapa yang telah melakukan semua ini?"

__ADS_1


Tiba-tiba Papa Ari buka suara, dia merasa bingung siapa yang telah membuat anaknya menjadi seperti itu.


"Bian bilang pelakunya sudah berada di kantor polisi!"


"Benarkah?"


Ayah Barra menganggukkan kepalanya, tadi dia sempat bertanya mengenai sosok orang yang telah membuat Arthur sekarat seperti itu.


"Baguslah, setelah ini aku akan melihatnya di kantor polisi!"


Yah, bukan hanya Papa Ari saja yang nantinya akan menemui penjahat itu. Bahkan Ayah Barra saja sudah gatal ingin menghajar pelakunya.


"Ba-bagaimana Dokter?"


Semua orang langsung berdiri saat melihat Dokter keluar dari ruang UGD, lelaki paruh baya itu tersenyum pada mereka semua sebagai pertanda kalau pasiennya baik-baik saja.


"kondisinya baik-baik saja, dia masih dalam proses pemulihan karna kami masih berusaha untuk menghilangkan efek dari obat terlarang itu!"


"Hah!"


Semua orang merasa sangat lega saat mendengarnya, perasaan khawatir yang sejak tadi menyelimuti hati mereka kini sudah hilang seketika.


"tapi, apa saya boleh bertanya satu hal?" ucap Dokter tersebut yang langsung diangguki oleh semuanya.


"apa pasien belum menikah?" tanya Dokter itu kemudian.


"anak saya belum menikah, Dokter!" jawab Papa Ari.


Dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Akan lebih baik jika dia sudah menikah, jadi dia bisa melakukan pelepasan dengan istrinya sendiri!"


Blush, entah kenapa wajah Lili memerah saat mendengar ucapan Dokter tersebut.


"Tapi, pusaka anak saya tidak apa-apakan, Dokter?"


Tiba-tiba Mama Mawar bergabung dengan mereka, dia segera menanyakan tentang masa depan putranya.


"Aah, pusaka anak anda baik-baik saja, Nonya! Malah saat ini, masih tegak menantang!"


Semua orang kembali bernapas lega, begitu juga dengan Lili yang sampai mengucap syukur mendengar ucapan Dokter.


"pusakanya memang baik-baik saja, tapi pusakaku yang hancur karna perbuatannya!"




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2