
Lili dan semua keluarganya saat ini tengah sibuk memersiapkan acara lamaran untuk Kiki dan Masya, beberapa orang terlihat keluar masuk dari rumah mereka membawa bingkisan yang sudah dihias dengan begitu cantik dan mewah untuk wanita itu.
"Di mana Ayahmu, Li?"
Ibu Tasya celingukan ke sana kemari untuk mencari keberadaan suaminya, tetapi sejak tadi lelaki itu tidak nampak batang hidungnya.
"Tadi keluar, Bu! Tapi enggak tau mau ngapain."
Lili mengendikkan bahunya, tangannya tetap sibuk menyusun barang-barang yang akan mereka bawa.
"Terus, di mana Kakakmu?"
Ayah dan anak sama saja, pikir Ibu Tasya kesal. Sudah kerepotan seperti ini, bukannya membantu malah hilang ditelan bumi.
"Tadi Kakak bilang mau ke kantor sebentar!"
Lili bangun, dan berjalan ke dapur untuk mengambil makanan yang akan dia sajikan untuk orang-orang yang sudah membantu mereka.
"Assalamu'aikum!"
Arthur yang baru sampai di rumah itu langsung berjalan masuk melewati banyaknya barang-barang yang ada di teras rumah, dia berjalan terus sampai melihat Ibu Tasya yang sedang duduk di atas lantai.
"Kenapa duduk dilantai, Bu?"
Ibu Tasya terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, dia lalu beralih melihat ke arah sumber suara yang membuat tubuhnya tersentak.
"Arthur? Kapan kau sampai?"
Arthur langsung duduk di samping wanita paruh baya itu tanpa disuruh. "Barusan aja, Bu! Tapi, di mana Lili?"
Ibu Tasya tersenyum simpul melihat Arthur, baru saja sampai tetapi lelaki itu sudah sibuk mencari putrinya.
"Dia ke dapur tadi!"
Arthur mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu membantu Ibu Tasya untuk menyusun perlengkapan yang ada di sana.
"Untung kau datang, Arthur! Banyak sekali yang harus disiapkan, kau memang lelaki yang baik tidak seperti Ayah dan Kakaknya Lili!"
Ibu Tasya mendengus sebal, sejak pagi kakinya sudah sangat lelah karna berjalan ke sana kemari. Awas saja jika kedua lelaki itu pulang, dia pasti akan menggunduli kepala mereka.
"tentu saja, Bu! Jangan dibanding-bandingkan!"
__ADS_1
"Apanya yang dibandingkan?"
Ayah Barra yang baru sampai di tempat itu langsung mengecup pipi sang istri, tetapi wanita itu mengelak membuat dia hampir saja terjungkal.
"Serangan anda meleset, Tuan!"
Arthur tertawa geli dan langsung mendapat jitakan dikepalanya, tentu saja jitakan itu berasal dari Ayah Barra yang merasa kesal karna sudah ditertawai.
"Sayang, kau tidak mau kucium?"
Ibu Tasya melirik ke arah suaminya yang sedang memandangnya dengan semirik iblis, dia sangat mengerti dengan apa yang suaminya coba ingatkan padanya.
Cup, Ibu Tasya yang sudah terlanjur berjanji tidak bisa melanggar janjinya sendiri membuat Ayah Barra tersenyum puas.
"Apa kau?"
Ayah Barra tersenyum mengejek dan berlalu ke kamarnya, dia ingin menyegarkan tubuh yang terasa sangat lengket.
Waktu terus bergulir dengan sangat cepat, semua orang sedang bersiap untuk pergi ke rumah Masya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, itu artinya mereka sudah harus pergi ke rumah wanita itu.
Untung saja jarak rumah Kiki dan Masya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 10 menit saja mereka sudah sampai di sana.
"Bu, aku deg-degan!" ucap Kiki, dia memeluk lengan sang Ibu yang berjalan di sampingnya.
"Ibu kok ngomong gitu sih?"
Kiki merasa kesal, bukannya menenangkan, Ibunya itu malah berkata seperti itu.
Ayah Barra yang melihat istri dipeluk sang putra langsung menariknya dan mendekap tubuh wanita itu, sementara Kiki hanya memutar bola mata malas melihat tatapan tajam Ayahnya.
Semua keluarga Masya menyambut kedatangan mereka, termasuk Papa Ari dan Mama Mawar yang memang bersaudara dekat dengan orangtua wanita itu.
"selamat datang di rumah sederhana kami ini, Tuan, Nyonya!" sambut Papa Banu setelah semua orang berkumpul di ruang keluarga.
"terima kasih karna sudah menerima kedatangan kami ini, Tuan Banu! Kami senang karna anda semua menyambut kami!" balas Ayah Barra dengan senyum tipis diwajahnya.
Setelah semuanya berkumpul dan saling bertukar kabar, mereka semua mulai masuk ke bagian penting dari pertemuan itu.
"Kedatangan kami ke sini ingin mengatakan pada anda dan semua keluarga, bahwasannya putra saya ingin melamar putri anda dan menjadikannya istri!" ucap Ayah Barra dengan tegas dan yakin.
Pertemuan itu memang hanya dihadiri oleh masing-masing keluarga saja, karna Kiki dan Masya hanya ingin bersama keluarga dalam momen penting ini.
__ADS_1
"Saya merasa sangat senang mendengar tujuan dari kedatangan anda sekeluarga, dan saya sebagai Ayah Masya tidak bisa menjawab lamaran itu. Alangkah baiknya jika yang punya badan yang langsung menjawabnya!"
Papa Banu mempersilahkan Masya untuk duduk di sampingnya, terlihat wanita itu sedang menunduk dengan malu-malu.
"Bagaimana, Nak! Apakah kau menerima lamaran Kiki dan bersedia untuk menjadi istrinya?"
Masya terdiam dengan debaran jantung yang sangat kencang, kedua telapak tangannya berkeringat dengan perasaan gugup yang mulai merasuki.
Mama Masya beralih mengganggam tangan putrinya, dia tau kalau anaknya itu pasti sangat gugup saat ini.
"Masya?"
Papa Banu kembali memanggilnya, terlihat Masya mulai menegakkan kepalanya dan memandang ke arah Kiki.
"bagaimana yah, kalau tiba-tiba Kak Masya menolak Kak Kiki?" bisik Arthur pada Lili yang duduk tepat di sampingnya.
Wanita itu langsung mencubit lengan Arthur dan menyuruhnya untuk diam, sementara Arthur hanya cemberut sembari mengusap-usap lengannya.
"Saya, saya bersedia!"
Akhirnya jawaban keluar dari mulut Masya walaupun sangat pelan, tetapi masih bisa didengar oleh semua orang.
"benarkah kau menerimanya, Masya?" tanya Papa Banu sekali lagi agar lebih meyakinkan.
Masya menganggukkan kepalanya. "Ya, Pa!"
"Alhamdulillah!"
Semua orang mengucap syukur karna Masya menerima lamaran Kiki, kemudian mereka berdua segera bertukar cincin sebagai tanda pengikat dari lamaran itu.
"Kiki, Masya! Malam ini kalian sudah resmi bertunangan, yang artinya kalian sudah selangkah menuju pernikahan! Hargai, dan jaga semua ini sampai pernikahan kalian terjadi. Jangan sampai melakukan sesuatu yang nantinya akan membuat malu keluarga!"
Kiki dan Masya menganggukkan kepala mereka, mereka berdua paham dengan maksud dari ucapan Papa Banu.
"Pernikahan kalian akan diadakan 2 minggu dari sekarang, jadi bersiaplah dan jangan lupa menjaga kesehatan!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.