
Semua orang terpaku saat mendengar apa yang Lili katakan, termasuk Arthur yang merasa sangat bahagia karna secara tidak langsung, Lili mengakui kalau dia mencintainya.
"Jadi, jangan sekali-kali menghakimi seorang wanita yang berstatus janda, karna dia adalah salah satu wanita hebat yang berani untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri!"
Prok ... prok ... prok prok prok!
Suara tepuk tangan menggema di supermarket itu kala Lili sudah selesai mengucapkan petuahnya untuk Gesya and the geng sementara Gesya sendiri merasa muak dengan mulut manis Lili yang memang sangat pandai bicara.
"cih, kau memang sangat pandai bicara-"
"Dia bukan hanya sekedar pandai bicara, tapi apa yang dia ucapkan memang benar adanya!"
Tiba-tiba wanita bertubuh tambun buka suara, dia yang sudah menyandang status janda sampai 5 kali merasa tidak terima dengan apa yang Gesya katakan.
"siapa kau? Berani sekali kau ikut campur!"
"Diam kau! Apa kau tidak sadar kalau kau sendiri itu perempuan? Berani sekali mulut lancangmu itu mengatai wanita lain, dan perlu kau ingat, tidak semua wanita yang berstatus janda itu buruk. Jangan menghakimi semua orang hanya karna ulah beberapa orang saja, bisa jadi suatu saat nanti kau sendiri yang akan menyandang status itu!"
Ucapan wanita bertubuh tambun itu langsung dibenarkan oleh semua orang membuat Gesya bungkam, dia dan teman-temannya lalu pergi dari tempat itu dengan diiringi sorakan dari semuanya.
"Hah!"
Lili merasa lega karna sudah berhasil membungkam mulut Gesya, dia benar-benar tidak habis pikir kenapa wanita itu sampai seperti itu padanya.
Arthur langsung membubarkan semua orang yang berkerumun di tempat itu, termasuk wanita bertumbuh tambun tadi sembari mengucapkan terima kasih.
"Jadi rupanya, kau sudah mencintaiku yah?"
Lili mengalihkan pandangan ke arah samping. "A-apa maksudmu?"
"Itu tadi! Aku sampai berdebar-debar loh waktu kau mengungkapkan rasa cintamu!"
Blush, wajah Lili memerah saat baru menyadari kata-kata yang dia ucapkan tadi. Dia lalu buru-buru berjalan ke meja kasir untuk menghindari apa yang Arthur katakan.
Arthur langsung tersenyum lebar saat melihat tingkah Lili, setidaknya pengorbanannya tidak sia-sia karna sekarang dia sudah mendapatkan hati wanita itu.
Setelah selesai belanja, mereka kembali ke rumah Kiki dengan menggunakan mobil yang berbeda karna memang Lili tadi membawa mobil sendiri.
"Papa!"
__ADS_1
Seperti biasa, Zia langsung berlari begitu melihat kedatangan Arthur yang tentu saja disambut dengan pelukan dari lelaki itu.
"cih, ku kira kau sudah mati!" sindir Ayah Barra.
Arthur hanya tersenyum lebar saja untuk menanggapi apa yang lelaki paruh baya itu katakan, dia lalu membawa Zia dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Baru saja Arthur mendudukkan pantatnya, dia mendapat pesan dari Papa Ari kalau dia harus segera datang ke perusahaan saat ini juga.
"kalau gitu aku permisi dulu!"
"Mau ke mana kau?"
Ayah Barra yang merasa belum puas melihat Arthur menatapnya dengan tajam, begitu juga dengan Lili dan Ibunya yang merasa heran karna lelaki itu tidak terlihat seperti biasanya.
"kenapa? Apa Om masih merindukanku?"
"A-apa? Jaga ucapanmu!"
Ayah Barra memalingkan wajahnya karna ucapan Arthur tepat sasaran, dia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya merindukan lelaki itu.
"benar, Arthur! Suamiku sangat merindukanmu, itu sebabnya kau jangan terlalu buru-buru untuk pergi dari sini!"
"Apa? I-itu tidak benar!"
Setelahnya, Arthur kembali pamit untuk kembali ke perusahaan. Dia berpapasan dengan Kiki dan Masya yang baru saja sampai di halaman rumah itu.
"Loh, Thur! Sudah mau pulang?"
Arthur menganggukkan kepalanya. "Aku duluan yah!" Dia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat ke jalan raya.
"kenapa dia? Sepertinya dia sangat panik!"
"Ini pasti karna masalah perusahaannya!"
Kiki langsung memalingkan wajahnya menghadap ke arah Masya. "Ada apa dengan perusahaannya?"
Masya lalu menceritakan apa yang terjadi pada perusahaan keluarga Arthur, dia juga mengatakan kalau Arthur sudah tidak kuliah lagi karna sibuk mengurus perusahaan.
Mereka berdua lalu segera masuk ke dalam rumah untuk menanyakan semua itu pada Lili.
__ADS_1
"assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Kiki dan Masya menyalim tangan Ayah Barra dan Ibu Tasya, kemudian mereka bargabung dan duduk diruangan itu.
Yah, Masya dan Kiki saat ini sudah menjalin hubungan yang serius. Sejak kejadian beberapa waktu lalu, hubungan mereka berjalan dengan lancar sampai saat ini.
Bahkan Ayah Barra sendiri sudah menerima kehadiran Masya, walaupun terkadang dia masih bersikap diluar kewarasan manusia.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan keluarga Arthur, Li?"
Semua orang melihat Kiki dengan bingung, begitu juga dengan Lili yang tidak paham dengan apa yang Kakaknya katakan.
"perusahaan Arthur?"
"iya, Masya bilang kalau perusahaan keluarga Arthur sekarang sedang krisis!"
"Apa?"
Semua orang terlonjak kaget saat mendengar apa yang Kiki ucapkan, terutama Ayah Barra yang sampai menggebrak meja membuat semua orang bertambah kaget.
"Kok bisa? Memangnya bocah itu tidak bisa mengurus perusahaan apa?"
Ayah Barra merasa emosi, sebelumnya dia sudah mencari tau seluk beluk keluarga Arthur dan tidak ada yang aneh dengan perusahaan yang sedang keluarga itu jalankan.
"Bukan seperti itu, Om! Arthur bahkan sedang berusaha keras saat ini, mungkin kalau bukan karna kerja kerasnya, perusahaan itu sudah bangkrut sekarang!".
Masya lalu menceritakan apa yang dia dengar dari kedua orangtuanya, di mana perusahaan mereka sendiri terkena imbas karna berusaha untuk membantu perusahaan keluarga Arthur.
"Siapa dia? Siapa yang sudah berani bermain-main dengan calon menantuku?"
Semua orang melihat ke arah Ayah Barra yang saat ini sedang mendeklarasikan kalau Arthur adalah calon menantunya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘