Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 73. Perdebatan di Butik.


__ADS_3

"minggu depan!"


"Hah?"


Arthur langsung berdiri dan menghampiri Mama Mawar. "Mama serius?"


Mama Mawar menganggukkan kepala, dia lalu menyuruh Arthur untuk cepat bersiap karna masih banyak hal lain yang harus mereka lakukan.


Arthur terdiam sampai Mamanya keluar dari kamar itu, untuk beberapa saat pikirannya masih mencerna apa yang Mamanya katakan.


"Jadi, minggu depan aku sudah menikah dengan Lili?"


Arthur langsung bersorak senang saat pikirannya mulai normal, dia merasa bahagia karna pernikahannya dan Lili sudah berada di depan mata.


Dengan semangat 45, Arthur segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia menggosok semua permukaan kulitnya tanpa terkecuali agar tubuhnya bersih, dia tidak ingin nantinya Lili merasa ilfil, walau kenyataannya, tubuhnya itu sangat menggoda.


Setelah selesai bersiap, Arthur dan Mamanya segera berangkat menuju salah satu butik terkenal yang ada dikota itu. Mama Mawar memang sudah menjadi pelanggan tetap di sana, karna kualitasnya memang sangat memuaskan.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ditempat tujuan karna memang hanya berjarak 2 km saja dari rumah mereka, mereka segera turun dari mobil dan masuk ke butik itu.


"Tante!"


Mama Mawar dan Arthur langsung melihat ke sumber suara, terlihat Masya, Kiki dan Lili sudah berada di tempat itu.


"kalian sudah lama?" tanya Mama Mawar.


"Sekitar 15 menitan lah, tapi kenapa Tante lama?"


Mama Mawar langsung menunjuk ke arah Arthur dengan bibirnya membuat Masya berdecak, dia tau kalau putri Arthur itu yang membuat mereka lama menunggu.


"Apa?"


Arthur melotot ke arah Masya yang juga sedang memelototinya, dia lalu beralih ke samping Lili dan tersenyum manis ke arah wanita itu.


"Apa kau sudah sarapan?"

__ADS_1


Arthur tersenyum lebar saat melihat Lili menganggukkan kepala. "Aku belum!"


"Benarkah? Kenapa kau tidak sarapan dulu?"


Lili merasa khawatir, pagi-pagi begini, seharusnya perut diisi dengan makanan atau minuman sebagai pengganjal agar tidak kosong.


"gimana mau makan kalau diburu-buru!" sindir Arthur.


"Cih, salah siapa kau lama bangun!"


Mama Mawar tidak peduli, dia lalu mengajak mereka untuk menemui desainernya agar bisa langsung mempersiapkan gaun mereka.


"Abis ini kita cari sarapan yah!"


Arthur yang sudah melangkahkan kakinya langsung tersenyum cerah mendengar bisikan Lili, dia lalu menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan wanita itu.


Dua orang desainer langsung mengukur tubuh mereka, sementara Mama Mawar sedang melihat-lihat model gaun yang sudah dipersiapkan oleh desainer tersebut.


"bagaimana? Apa anda suka, Nonya?" tanya Desainer itu.


"Bentar, aku harus tanya sama yang memakainya dulu!"


"Pokoknya aku tidak mau Lili memakai gaun yang terbuka!"


Ultimatum telah Arthur berikan, awas saja kalau sampai Mamanya memberi gaun terbuka untuk Lili, dia akan mengkoyak-koyaknya.


"Tentu saja Lili tidak akan memakai gaun terbuka, dia kan berhijab. Lain hal kalau aku!"


Masya merasa kesal, jelas-jelas Lili memakai hijab. Tidak mungkin kan desainer membuat gaun terbuka untuk wanita itu.


"Jadi maksudnya, kau yang akan memakai gaun terbuka?"


Tiba-tiba Kiki bersuara, enak saja Masya akan memakai gaun terbuka dan mempertontonkan tubuhnya di depan semua orang.


"Hah? Bu-bukan seperti itu, hanya saja-"

__ADS_1


"Nona, tolong siapkan gaun yang menutup seluruh tubuh calon istri saya. Pastikan tidak ada angin yang bisa menerpa kulit ditubuhnya!"


Semua orang terpelongok mendengar ucapan Kiki, terlebih-lebih Masya yang sudah membayangkan kalau tubuhnya akan dibungkus seperti lemper.


"Sudah-sudah, jangan berisik! Mereka sudah menyiapkan semuanya, jadi kalian tinggal pakai saja!"


Mama Mawar merasa pusing, banyak kali cerita mereka membuat kepalanya terasa sakit. Dia lalu menyuruh desainer untuk menyiapkan gaun sesuai dengan apa yang mereka inginkan, pokoknya siapkan saja dan jangan bertanya apapun lagi.


Setelah selesai, Arthur segera pergi keluar bersama dengan Lili. Dia meninggalkan Mamanya dan menyuruhnya untuk pulang bersama Masya, sungguh anak yang sangat berbakti.


"Kita kan bisa mengantar Tante pulang dulu, Thur!"


Lili merasa tidak enak, dia takut kalau menyinggung perasaan calon mertuanya dengan apa yang Arthur lakukan.


"Keburu mati aku, kalau ngantar Mama lagi!"


Lili menggelengkan kepalanya, mana mungkin laki-laki itu akan mati hanya karna menahan laparnya setengah jam saja.


Dari kejauhan, seorang wanita sedang menatap tajam ke arah mereka. Dia yang akan pergi menemui temannya tidak sengaja melihat Arthur dan yang lainnya masuk ke dalam butik, dia lalu mengurungkan niatnya dan memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.


"Kalian telah menghancurkan hidupku, aku tidak akan membiarkan kalian hidup. Aku akan membunuh kalian semua!"


Gesya segera menghidupkan mobilnya dengan tetap melihat Arthur dan Lili dengan tajam, dia langsung menekan pedal gasnya dan melaju kencang ke arah mereka yang memang sedang berdiri tidak jauh dari jalan.


Tiiinn ....!


Brak!


Arthur langsung merengkuh tubuh Lili hingga mereka berdua terpental jauh, karna suara benturan yang sangat keras, membuat semua orang yang ada disekitar tempat itu langsung berlari untuk melihat apa yang sedang terjadi. Termasuk Mama Mawar dan yang lainnya yang masih berada di dalam butik.


"Ya Allah ... Arthur, Lili!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2