
"Siapa sebenarnya Ayah Barra ini? Kenapa aku merasa kalau dia adalah orang yang berkuasa? Dan lihat apa yang dia lakukan, ya Tuhan, aku benar-benar tidak habis pikir!"
Masya merasa kalau Ayah Barra bukanlah orang sembarangan, bahkan bentuk tubuhnya saja sudah bisa memperlihatkan betapa gagahnya dia seperti seorang pemimpin dari suatu kelompok tertentu.
Tidak jauh beda dengan Masya, Arthur juga berpikir kalau Ayah Barra memiliki sebuah rahasia tentang identitasnya. Apalagi terlihat dari ucapan lelaki paruh baya itu kalau dia tidak ingin pergi ke Kota manapun.
"Hentikan! Apa kau tidak malu dengan teman-teman anakmu?"
Ibu Tasya mendorong kepala suaminya agar berhenti menciuminya, tetapi Ayah Barra malah menariknya hingga dia terjatuh dalam dekapannya.
"Aku tidak peduli!"
"Ya ya Ayah, lanjutkan saja!"
Kiki beranjak bangun dan mengajak mereka semua untuk pindah ke halaman belakang, karna dia tau apa yang akan terjadi pada kedua orangtuanya kalau sudah sampai seperti itu.
"Waah, indah sekali pemandangannya!"
Masya melihat hamparan hijau yang terbentang di depan matanya, banyak pepohonan yang tumbuh subur dengan bunga-bunga indah yang mengelilinginya.
"Memang sangat indah, aku saja yang sudah lama tinggal di sini selalu terpukau saat melihatnya!"
Masya mengalihkan pandangan ke arah samping, terlihat Kiki sudah berdiri di sampingnya sembari mengambil beberapa potret pemandangan itu dari ponsel.
Masya membalikkan tubuhnya karna enggak untuk bicara dengan lelaki itu, dia masih merasa kesal dengan kejadian yang terjadi di dalam mobil beberapa waktu lalu.
Kiki sendiri tersenyum tipis, dia berjanji akan mengulang pernyataan cintanya di tempat yang lebih baik dari mobil.
Sementara itu, Arthur dan Lili sedang duduk di sebuah gazebo yang ada di halaman belakang rumah. Lili meletakkan makanan dan minuman untuk Arthur yang sibuk menikmati pemandangan alam.
"Apa kau tidak mau istirahat? Pasti lelahkan, karna perjalanan ke sini!"
Arthur menggelengkan kepalanya, mau sejauh apapun perjalanan mereka, kalau bersama dengan Lili dia pasti tidak akan merasa lelah.
"apa sejak lahir, em ... kau sudah tinggal di sini?" tanya Arthur, dia sedikit ragu saat mengatakan kata-kata kau pada Lili.
"Tidak! Kami tinggal di sini sejak aku berusia 12 tahun, setelah itu aku kerja di kota kecil yang kita lewati tadi."
__ADS_1
Arthur mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia beralih ke arah Masya yang baru saja menghempaskan pantatnya di gazebo itu.
"mukanya ditekuk terus, awas kusut loh!" sindir Arthur yang langsung di balas dengan cubitan dilengannya.
Tidak berselang lama, datanglah Kiki dan bergabung dengan mereka membuat Masya mendengus sebal.
"ada apa lagi sih, Kak? Gak habis-habis gangguin Masya!" seru Lili, dia benar-benar tidak habis pikir dengan Kakaknya sendiri.
"apa? Aku enggak melakukan apapun kok!"
"Cih!"
Masya langsung mendengus sebal dengan apa yang Kiki ucapkan, bisa-bisanya lelaki itu merasa tidak bersalah sama sekali.
"Ekhem!"
Mereka semua terlonjak kaget saat melihat kedatangan Ayah Barra dan juga istrinya, refleks Masya langsung berdiri di atas gazebo tersebut.
Arthur yang melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak, sementara Kiki beralih menarik tangan Masya agar wanita itu kembali duduk.
Sangking tegangnya, Masya tidak sadar kalau berdiri di gazebo itu. Padahal dia berniat untuk turun dari gazebo dan berdiri di atas tanah.
"Kenapa malah menyalahkanku? Itukan salahnya sendiri!"
Glek, Masya menelan salivenya dengan kasar. Sungguh, Ayah Barra tampak menakutkan dimatanya.
"Sudah-sudah, kau jangan membuat masalah lagi dengan mereka!"
Ibu Tasya memperingati suaminya, tetapi sepertinya Ayah Barra merasa tidak perduli dan terus menatap Arthur dan Masya dengan tajam.
"Kiki, pergi belanja sana sama Ibu dan Adikmu!"
Kiki terjingkat dengan apa yang Ayah Barra perintahkan, dia sudah bisa menebak kalau Ayahnya akan melakukan sesuatu pada Arthur dan juga Masya.
"belanja? Untuk apa? Jelas-jelas belanjaanku masih banyak!" tanya Ibu Tasya dengan heran.
"Sayang, kita kan harus menyambut tamu kita dengan baik dan benar. Jadi, kau harus menyiapkan makanan dan minuman yang sangat lezat untuk mereka!"
__ADS_1
Ibu Tasya baru mengerti maksud dari ucapan suaminya, dia lalu menghela napas kasar karna kebiasaan suaminya tidak pernah berubah sama sekali.
"ingat, jangan yang macam-macam!" Ibu Tasya kembali memperingati suaminya, kalau sampai dia berlebihan, maka awas saja.
Ayah Barra menganggukkan kepalanya, dia kemudian kembali mengecup pipi istrinya dan berlalu masuk ke dalam rumah.
"ayo, temani Ibu belanja!" ajaknya pada Lili dan juga Kiki.
"kenapa harus bertiga, Bu? kan sama Lili saja sudah bisa!" tolak Kiki, dia tidak ingin Ayahnya berbuat macam-macam pada Masya.
"Kau kayak tidak tau Ayahmu saja, sudah ayo!"
Ibu Tasya lalu masuk ke dalam rumah dengan diikuti kedua anaknya, tetapi sebelum itu Kiki memperingati mereka kalau harus berhati-hati dengan Ayahnya.
"Arthur, kenapa aku merasa kalau kita akan disembelih?" bisik Masya setelah Kiki dan yang lainnya pergi dari sana.
"jangan ngarang deh, emangnya Ayah Barra itu kanibal?"
"Ekhem!"
Arthur dan Lili kembali terlonjak kaget saat melihat Ayah Barra, mata mereka membulat sempurna saat melihat sesuatu yang sedang lelaki paruh baya itu pegang.
"ma-mau apa, Om?" tanya Arthur dengan gugup, kapak yang tergantung dibahu Ayah Barra bersinar karna terkena sinar matahari.
"Menurutmu?"
Glek, mereka berdua saling berpegangan satu sama lain. Bahkan Masya sudah berlindung di balik tubuh Arthur jika saja tiba-tiba Ayah Barra menyerang mereka.
"Ini gila! Aku pasti akan langsung jadi Arthur cincang kalau terkena kapak itu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘