
Beberapa hari telah berlalu sejak pengakuan cinta yang Arthur lakukan, dan sejak saat itu, hubungannya dengan Lili berjalan dengan baik.
Wanita itu sepertinya sudah membuka pintu hatinya untuk menerima Arthur, walaupun tidak ada ucapan peresmian dari mulutnya.
Hari ini, Lili dan Kakaknya akan kembali pulang ke rumah kedua orangtua mereka. Awalnya Lili merasa ragu dan belum siap, tetapi atas paksaan Kiki maka mau tidak mau dia harus mengikutinya.
"Assalamu'alaikum!"
Arthur yang baru sampai di rumah Kiki langsung masuk ke dalam rumah setelah mendengar jawaban dari dalam rumah itu.
"tunggu, jangan bilang kalau kau mengajaknya?" tanya Kiki dengan curiga, dia melihat penampilan Arthur dari atas sampai bawah.
"tidak! Aku tidak mengajak Arthur kok, Kak! Tapi, yah dia sendiri yang minta ikut,"
"Apa?"
Kiki menatap tajam ke arah lelaki itu, sementara Arthur sendiri merasa tidak peduli. Tentu dia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan kedua orangtua Lili, dan dia datang untuk membawa misi pendekatan.
"Dasar kau anak setan! Bisa-bisanya ninggalin aku gitu aja!"
Tiba-tiba Masya datang dan menjewer telinga Arthur, membuat Kiki membulatkan matanya.
"Masya? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan heran.
Yah, semenjak kejadian ciuman panas tempo hari, hubungan mereka sedikit merenggang. Bukan karna tidak suka, tapi karna sama-sama merasa canggung jika ingin membahas masalah itu.
"anu, Kak! Aku, aku mengajak Kak Masya juga. Hehe!"
"Apa? Kau pikir kita ini ingin pergi berlibur?"
Kiki mengusap wajahnya dengan kasar, bisa-bisanya adiknya mengajak semua orang untuk pergi bersama mereka.
"ya Allah, keterlaluan sekali sih pelitnya! Padahal cuma mau ikut aja enggak dibolehin!" cibir Arthur sembari mendengus sebal.
"Dek, kau tau kan bagaimana Ayah?"
Sebenarnya Kiki bukan tidak senang mereka ikut, tapi dia takut kalau Ayahnya murka melihat dia membawa orang lain ke rumah mereka.
"Aku tau, Kak! Tapi, semoga saja Ayah enggak marah."
__ADS_1
Kiki mendessah pasrah, sekilas dia melihat ke arah Masya yang membelakanginya. Dia ingin sekali bicara pada wanita itu, tapi sepertinya Masya terus menghindarinya.
Kemudian, Kiki dan semua rombongan berangkat menuju Kota sebelah tempat di mana kedua orang tuanya berada. Dia terus melirik ke arah spion depan untuk melihat Masya tetapi wanita itu enggan untuk melihatnya.
"Kalau mau tukar tempat duduk, aku akan dengan sangat senang hati memberikannya!"
Kiki berdecak kesal mendengar sindiran Arthur, tetapi sesaat kemudian dia menghentikan mobilnya membuat semua orang merasa bingung.
"Aku lelah sekali, Arthur! Kau yang bawa mobilnya yah."
Arthur menahan mulutnya yang ingin tertawa, lelaki di sampingnya ini sok jual mahal tetapi ujung-ujungnya mau juga.
Arthur berpindah kekursi kemudi sementara Kiki masih berada di luar, Kiki memberi kode pada Lili untuk segera keluar dari sana.
"ada apa Kak?"
"Kau duduk di depan, Kakak mau nyantai di belakang!"
"Hah?" Walaupun merasa sedikit bingung, Lili mengikuti keinginan Kiki dan berlalu masuk ke dalam mobil.
Masya yang melihat Kiki duduk di sampingnya menjadi kaku, dia lalu melirik ke arah Arthur yang pura-pura tidak tau apa-apa.
"Ke-kenapa harus aku?"
Kegugupan kembali melanda jiwa Masya, dia kembali mengingat ciuman panas yang lelaki itu berikan padanya.
"Karna kau di sebelahku! Enggak mungkin kan, aku minta tolong sama Lili?"
Arthur dan Lili menahan tawa mereka saat mendengar ucapan Kiki, mereka tidak menyangka kalau lelaki sepertinya akan melakukan hal seperti itu.
Dengan sangat terpaksa, Masya memijat kepala Kiki yang sudah bersandar di sandaran kursi sementara Kiki tersenyum tipis karna Masya tidak lagi menolaknya.
"Aku minta maaf!"
Tiba-tiba pijatan Masya berhenti saat mendengar ucapan Kiki, lelaki itu lalu memiringkan tubuhnya untuk melihat ke arahnya.
"maaf? Kau minta maaf untuk ciumanmu itu?" tanya Masya dengan sedikit emosi, kata-kata maaf dari Kiki menandakan kalau lelaki itu berarti hanya sekedar menciumnya tanpa perasaan.
"Bukan! Aku minta maaf bukan karna sudah menciummu, tapi karna langsung pergi dan tidak mengatakan apa-apa padamu!"
__ADS_1
Masya bernapas lega mendengar penjelasan dari lelaki itu. "Tunggu, kenapa aku jadi lega? Seharusnya kan aku meminta penjelasan darinya?"
"lalu, ke-kenapa kau menciumku?" tany Masya dengan tergagap.
"Tentu saja karna aku mencintaimu! Memangnya hal seperti itu masih harus ditanyakan lagi?"
Masya melongo tidak percaya dengan jawaban dari lelaki itu, memang sih, dia senang dengan pernyataan cinta yang Kiki ucapkan. Akan tetapi, pengakuannya itu tidak keren sama sekali.
"Laki-laki macam apa yang mengatakan cinta seperti itu? Wkwkwk ...."
Tawa Arthur menggema dimobil itu membuat Kiki emosi, dia langsung menarik rambut Arthur membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
"Sayang, lihatlah kakakmu! Dia menganiayaku!"
"Apa?"
Semua orang terjingkat kaget mendengar panggilan Arthur pada Lili, sementara Lili hanya terpaku dengan mulut terbuka sembari melihatnya.
"dasar bocah!" ejek Kiki, dia kembali menyandarkan kepalanya, tetapi bukan ke sandaran kursi melainkan kebahu Masya.
"aku bocah tapi romantis, tidak sepertimu! Hahahaha, Kak! Jangan mau menerima cinta cowok seperti itu!"
"Diam kau!"
Kiki yang ingin kembali menyerang Arthur mendadak tidak jadi saat tangannya ditahan oleh Masya, wanita itu menatapnya tajam membuat dia menelan salivenya dengan kasar.
"apa dia marah padaku?"
"aku akan menganggap ungkapan cintamu tadi tidak ada!"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘