
Setelah pertemuannya dengan sang adik, Kiki memutuskan untuk memboyong mereka agar tinggal bersamanya.
Dia tidak tega melihat Lili yang harus bekerja keras sendirian, setidaknya dia bisa sedikit meringankan beban adiknya agar Lili bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama putrinya.
"Aku tidak apa-apa, Kak! Aku akan mengunjungi kakak setiap akhir pekan!"
Lili merasa tidak enak, dia sudah banyak merepotkan Kakaknya di masa lalu, dan sekarang dia tidak ingin merepotkannya lagi.
"Kau tidak berhak untuk menolak, Lili! ini keputusan Kakak, kita akan memindahkan barang-barangmu kalau Kakak sudah pulang kerja!"
Lili terdiam, dia tidak berani membantah ucapan kakaknya lagi dan semakin membuat lelaki itu kecewa.
"tapi Kak, aku tidak mau merepotkan kakak lagi!"
"Merepotkan apa? Kakak sama sekali tidak merasa direpotkan! lagipula kau itu adik kakak, sudah seharusnya kakak melakukan ini!"
Kiki menatap tajam, keputusannya sudah bulat dan tidak bisa lagi untuk diganggu gugat.
Akhirnya Lili mengikuti apa yang dinginkan oleh sang Kakak, dia akan memindahkan semua barang-barangnya saat Kiki sudah pulang kerja.
Setelah itu, Kiki pamit untuk pulang ke rumahnya dan bersiap kerja karna saat ini dia masih berada di rumah Lili.
Lili mengantar Kakaknya sampai kepintu depan, lalu kembali masuk saat melihat Kakaknya sudah naik taksi online.
"Mama, Mama enggak kelja?" tanya Zia yang baru selesai mencuci tangan.
"Enggak, Sayang! Hari ini Mama libur, jadi, Mama akan main sepuasnya dengan Zia!"
Zia bersorak senang saat mendengar ucapan Mamanya, dia melompat-lompat bak seekor anak kelinci dan terlihat sangat menggemaskan.
"Cia mau ke Mall, Cia juga mau main kuda-kuda!" celoteh Zia, Lili hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab keinginan anaknya itu.
Hari ini, Lili memang tidak ada jadwal untuk mengajar. Jadi dia akan menghabiskan waktu bersama dengan putrinya, dia juga akan menuruti semua yang putrinya itu inginkan.
Setelah bersiap, Lili mengajak Zia untuk pergi ke Mall. Dia ingim membeli beberapa perlengkapan untuk Zia, dan membawanya ke tempat bermain.
Zia merasa sangat senang, dia tertawa dengan bahagia saat bermain bersama dengan anak-anak seusianya. Momen bahagia itu tentu tidak dibiarkan begitu saja, Lili mengambil banyak foto dan video saat Zia sedang asyik berlarian ke sana kemari.
Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam, Zia tampak kelelahan. Dia menyandarkan kepalanya dilengan Lili sembari menghapus peluh yang menetes dikeningnya.
"capek?" tanya Lili sembari mengusap kepala Zia dengan sayang.
"Mama, Cia lapal!"
Lain yang ditanya, lain pula jawabannya membuat Lili terkekeh pelan. "Ya sudah, ayo kita cari makanan!"
Lili lalu menuntun Zia untuk menuju ke tempat yang menyediakan banyak makanan karna memang waktu sudah beranjak siang.
"Mama, Cia mau ayam goleng!"
Zia menunjuk ke arah kpc untuk meminta pada Mamanya ke tempat itu, terlihat ada banyak orang yang sedang makan di sana.
__ADS_1
Lili segera membawa Zia ke tempat yang diinginkan, dia lalu memesan ayam goreng dan es krim serta minuman yang biasa diminum oleh putri kecilnya.
Pada saat sedang menunggu pesanan, mata Zia menangkap seorang lelaki yang sangat dia kenali, lelaki itu sedang duduk disudut ruangan bersama dengan teman-temannya.
"Papa!"
Teriakan Zia berhasil mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Lili yang sangat terkejut mendengarnya.
"Zia, ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Lili, dia lalu meminta maaf karna sudah membuat keributan.
"Mama, itu Papa!"
Lili melihat ke arah yang ditunjuk oleh Zia, dan benar saja, terlihat Arthur sedang berada di tempat itu bersama dengan teman-temannya.
Sementara itu, Arthur yang sempat mendengar suara teriakan Zia merasa benar-benar kesal. Dia harus segera memeriksakan diri ke rumah sakit jiwa karna sudah berhalusinasi separah itu.
Lili terpaku di tempatnya, dia merasa dunia benar-benar kecil karna selalu mempertemukannya dengan Arthur di manapun berada.
Saat Lili sedang melamun, Zia melepaskan pegangan tangannya dan berlari ke arah Arthur. "Papa!"
"Zia, tunggu!" Lili panik, dan segera menyusul putrinya itu.
Arthur yang kembali mendengar suara teriakan Zia beralih melihat ke arah samping, matanya membulat sempurna karna benar-benar melihat Zia ada ditempat itu.
"Papa!"
Zia melompat ketubuh Arthur seperti biasanya membuat semua teman-teman Arthur merasa sangat terkejut, terutama seorang gadis yang saat itu berada di sampingnya.
"Zia!"
Arthur yang sedang bertanya mengalihkan pandangannya, dia semakin terkejut saat melihat Lili juga ada di tempat itu.
"Zia, sini sama Mama!"
Teman-teman Arthur semakin merasa syok saat melihat dosen mereka ada di tempat itu, apalagi dengan kehadiran seorang anak kecil yang memanggil Arthur dengan sebutan Papa, dan Lili dengan sebutan Mama.
"ka-kalian sudah punya anak?" tiba-tiba Dewa mengeluarkan suaranya, sementara yang lainnya hanya memandang Arthur dan Lili dengan mata melotot dan mulut terbuka.
"bu-bukan seperti itu!" bantah Arthur, dia lalu mendekati Lili dan menyerahkan Zia padanya.
"Papa, Cia mau sama Papa!"
Arthur yang sudah berjalan kembali menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap gadis kecil itu.
"Zia katanya lapar? yuk, itu ayamnya sudah siap loh!"
Lili mencoba untuk mengalihkan perhatian Zia, dia lalu berbalik dan membawa Zia untuk mengambil makanan.
Arthur terpaku, entah kenapa dia merasa tidak tega. Ada sesuatu yang menjalar dihatinya hingga membuatnya sesak.
"Arthur!"
__ADS_1
Arthur terjingkat kaget saat sebuah tangan menepuk bahunya, dia lalu melihat ke arah orang tersebut.
"apa kau tidak merasa harus menceritakan sesuatu pada kami?" ucap Dewa, yang lain juga sudah bertanya-tanya ada hubungan apa antara Arthur dan dosen itu.
"Sebaiknya kita pergi dulu dari sini!"
Gesya bangkit, dan memeluk lengan Arthur dengan posesif. Dia lalu menarik Arthur agar segera pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh yang lainnya.
Lili yang melihat kepergian Arthur hanya bisa memandangnya dari kejauhan, hatinya terasa sedikit nyeri tetapi dia mencoba untuk tidak memikirkannya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Kiki sedang sibuk dengan pekerjaannya. Hari ini dia meminta izin untuk pulang lebih cepat karna harus mengurus kepindahan Lili dan keponakannya.
"Akhirnya!"
Kiki merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, dia lalu menyusun semua berkas untuk bersiap pulang.
"Ki, apa berkas yang baru masuk pagi ini sudah selesai? aku ingin mengerjakannya sekarang!"
Tiba-tiba Masya muncul di hadapannya, membuat Kiki mendongakkan kepala. "Besok saja ya, hari ini aku ada urusan!" Kiki segera bangkit, dan mengambil tas kerjanya.
"mau ke mana kau? tumben pulang cepat?" tanya Masya, tidak biasanya lelaki itu izin pulang cepat seperti saat ini.
Kiki langsung saja mengatakan kalau Lili akan pindah ke rumahnya, itu sebabnya dia harus menyiapkan segalanya.
"kau sudah tidak ada pekerjaankan?" tanya Kiki, setelah selesai menceritakan semuanya.
"kenapa?"
"bagaimana kalau ikut aku, kami membutuhkan bala bantuan nih!" pinta Kiki, semalam dia melihat kalau barang-barang Lili lumayan banyak.
Masya terdiam, dia sedang menimbang-nimbang apakah akan ikut dengan lelaki itu atau tidak.
"duuh, kelamaan!"
"Hey!"
Masya terkejut saat tangannya ditarik oleh Kiki ke dalam ruangannya, Kiki lalu menyusun berkas-berkas yang ada dimeja kerja Masya dan mematikan laptopnya.
"ayo!"
"dasar pemaksaan!"
Masya menggerutu kesal, tapi kakinya tetap mengikuti langkah Kiki untuk meninggalkan tempat kerja mereka.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘