
Kiki dan Masya lalu pergi ke rumah Lili, sebelumnya Kiki sudah lebih dulu menelpon Lili dan bertanya di mana keberadaan wanita itu saat ini.
"Loh, ini kan bukan jalan mau ke rumahmu!"
Masya memperhatikan jalanan, seingatnya rumah lelaki itu tidak lewat dari jalan yang sedang mereka lalui saat ini.
"Kita ke rumah Lili dulu!"
Masya menganggukkan kepala sembari ber-oh ria, dia lalu mengambil ponselnya untuk melihat akun media sosialnya.
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di rumah Lili. Terlihat wanita itu sedang mengangkat sebuah kotak ke luar rumah.
Lili meletakkan kotak yang dia pegang di teras, lalu melihat kedatangan Kakaknya dan juga Masya.
"Masya? wah, aku enggak tau kalau kau mau ke sini!" sambut Lili, dia membawa Masya masuk ke dalam rumahnya.
"Aku diculik sama Kakakmu!"
Masya mendengus sebal, sementara Kiki hanya tersenyum lebar dan berlalu mendekati Zia.
"barang-barangmu ini aja, Dek?" tanya Kiki sembari menggendong Zia.
"Iya, Kak! sebagian mau aku sumbangin aja, udah gak kepake juga!"
Kiki menganggukkan kepalanya, dia lalu menurunkan Zia dan berlalu mengangkat barang-barang Lili.
Masya dan Lili yang melihat itu tidak tinggal diam, mereka juga mengangkat semua barang-barang yang ada di rumah itu dan dimasukkannya ke dalam mobil Kiki.
Tidak terasa, dua jam sudah berlalu. Semua barang sudah masuk ke dalam mobil, hanya tinggal mereka saja yang masih duduk diteras melepas lelah.
Lili menyajikan teh manis dingin dan roti untuk mereka yang sudah sangat lelah karna membantunya, tidak lupa dia juga membuatkan susu untuk Zia.
"Aku salut denganmu, Li! kau bisa bertahan seorang diri di tengah kerasnya hidup ini!"
Tiba-tiba Masya bersuara, dia merasa kagum dengan Lili yang berani mengambil keputusan untuk hidup sendiri.
Lili tersenyum mendengar ucapan Masya. "Sebenarnya tidak juga, ada masa di mana aku benar-benar lelah dan merasa tidak sanggup lagi! Tapi, saat aku melihat Zia. Aku berpikir ribuan kali untuk menyerah!"
Kiki merangkul tubuh sang adik, walaupun dulu dia merasa kesal dengannya, tapi dia juga mengakui kalau Lili adalah wanita hebat yang bisa bertahan sampai sejauh ini.
"sekarang kau tidak sendiri lagi, karna Kakak ada di sini!"
"benar, aku juga ada di sini! kita bisa menjadi sahabat baik," sambung Masya.
"Memangnya kau bisa jadi sahabat yang baik?"
Masya mencubit lengan Kiki yang selalu saja membuatnya kesal, sementara Lili hanya tertawa saja melihat mereka seperti itu.
"aku seperti punya Kakak dan Kakak ipar,"
"Apa!"
Masya dan Kiki terlonjak kaget saat mendengar ucapan Lili, mereka saling pandang untuk beberapa saat, lalu sama-sama membuang muka dengan sebal.
Setelah semuanya selesai, mereka pergi dari tempat itu menuju rumah Kiki, Hari sudah petang dan cuaca pun mulai berangin dengan gerimis yang menambah hawa dingin.
__ADS_1
"Mama, kita mau ke rumah Papa?"
Suara Zia berhasil memecah kesunyian di mobil itu, terlihat semua orang langsung meliriknya yang sedang duduk dipangkuan Lili.
"Sayang, dia itu bukan Papa Zia! Jadi Zia jangan memanggilnya Papa lagi yah!"
Suara Lili terdengar getir, dia merasa sesak saat mengingat kejadian di Mall tadi saat bertemu dengan Arthur.
"Telus, Papa Cia siapa?"
Bola mata yang jernih dan bulat memandang bingung, wajah Zia yang selalu tampak ceria kini menggantung mendung.
"Zia bisa memanggilnya Papa!"
Masya menunjuk ke arah Kiki, dia tau kalau Lili pasti bingung untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu.
"Itu Paman, bukan Papa!"
Zia menggeleng, dia lalu kembali memandang Lili dengan pandangan menuntut.
Sakit, itulah yang Lili rasakan saat ini. Perasaan bersalah dan sesal menjalar ke seluruh tubuhnya, dia telah sangat berdosa membuat anaknya tidak punya seorang Ayah.
"Paman dan Papa itu sama, Zia! jadi mulai sekarang panggil Papa yah!"
Walaupun merasa bingung, gadis kecil itu tetap menganggukkan kepalanya. Dia lalu kembali memeluk sang Ibu dan memejamkan kedua matanya.
Lili memalingkan wajah ke arah samping, berusaha untuk menahan kesedihannya walaupun beberapa tetes air mata berhasil lolos dari sudut matanya.
Sementara itu, Arthur yang saat ini sedang bersama teman-temannya tampak tidak menikmati permainan mereka. Dia hanya diam disudut ruangan, dan mengabaikan semuanya.
Gesya merasa kesal, dia sudah seperti radio rusak yang sama sekali tidak dipedulikan oleh laki-laki itu.
Tanpa memperdulikan ucapan Gesya, Arthur bangkit dan berjalan meninggalkan mereka menuju mobilnya.
"Arthur! mau ke mana kau?"
Arthur tetap berjalan lurus kemobilnya tanpa menghiraukan panggilan dari teman-temannya, dia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Arthur mengemudikan mobilnya dengan kencang, tidak peduli ada beberapa kendaraan yang membunyikan klakson karna laju mobilnya yang tidak beraturan.
Pikiran Arthur kembali teringat kejadian tadi siang, di mana dia tidak sengaja bertemu dengan Lili dan juga Zia.
Masih teringat jelas raut wajah mereka saat menatapnya, mata yang biasa melihatnya dengan berbinar-binar, kini tampak sangat redup dan gelap.
"Shi*t!"
Arthur mengumpat kesal, dia berulang kali memukul setir mobilnya untuk meluapkan perasaannya.
"Mereka pasti kecewa padaku! Ah, sial! kenapa aku harus memikirkannya?"
Arthur merasa frustasi, niat hati ingin menjauh dan tidak ingin lagi berurusan dengan mereka malah berbalik membuatnya sangat kesal.
Tiba-tiba, Arthur dikejutkan dengan mobil yang sedang berhenti di depannya membuatnya segera menginjak rem dengan kuat.
Ciiiitt!!!
__ADS_1
"Hah!"
Untung saja Arthur masih sempat menginjak rem, karna kalau tidak dia pasti sudah menabrak mobil itu.
Arthur lalu menyandarkan tubuhnya, dengan tangan berada di atas kepala mencoba untuk menenangkan semuanya.
"apa aku ke rumah mereka aja ya? enggak-enggak!" Arthur merasa dilema, perasaannya sedang digerogoti rasa bersalah saat ini.
"Sudahlah, lupakan semuanya!"
Arthur yang akan menjalankan mobilnya tiba-tiba teringat lagi dengan wajah Zia, dia lalu memutuskan untuk datang ke rumah Lili dan bertemu dengan mereka.
Sesampainya di halaman rumah Lili, Arthur segera turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu. Dia memencet bel dan berharap Lili menerima kedatangannya.
Satu kali suara bel tidak ada jawaban, dua kali masih bersabar, tiga kali masih tetap mencoba untuk sabar. Sampai disuara bel yang ketujuh Arthur merasa kesal dan berteriak memanggil Lili.
Berulang kali dia melakukannya sampai orang-orang yang ada di perumahan itu pada keluar dari rumah mereka.
"hey, ngapain sih kamu teriak-teriak?" ucap salah satu tetangga Lili, dia bertolak pinggang di depan rumahnya sembari melihat Arthur dengan tajam.
"aku sedang mencari Bu Lili!" ucap Arthur dengan ketus.
"Dia sudah pergi!"
Duar, tubuh Arthur langsung membeku saat mendengar ucapan wanita itu.
"Pe-pergi? pergi ke mana?"
Arthur segera bertanya pada orang yang mengatakan kalau Lili pergi, dan wanita itu menjawab sejak siang Lili dan dua temannya memindahkan semua barang-barang ke dalam mobil, dan berlalu pergi dari sana.
Tubuh Arthur mundur beberapa langkah ke belakang, dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"tidak! mereka tidak mungkin pergi!"
Arthur lalu memutuskan untuk menelpon Lili, tetapi nomornya sedang tidak aktif!
"Sial!"
Arthur hampir saja membanting ponselnya, dia lalu ingat kalau kemungkinan Lili sedang bersama dengan Kiki. Dia lalu menelpon Masya untuk meminta nomor ponsel lelaki itu.
Beberapa kali Arthur menelpon, tetapi Masya tidak menjawab panggilannya membuat dia semakin frustasi.
"Brengs*ek! kemana sih Kak Masya? apa dia sudah tidak ada di bumi ini lagi, sehingga tidak menjawab telponku!"
Arthur lalu memutuskan untuk pergi ke rumah Masya saat ini juga, guna untuk menanyakan langsung di mana rumah Kiki.
"Tuhan, aku mohon tunjukkan keberadaan mereka! Aku janji kalau aku tidak akan melakukan itu lagi, aku janji kalau aku akan selalu bersama mereka sampai kapanpun!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘