
Saat ini, Arthur dan Lili sedang berada di dalam mobil. Lili menarik Arthur masuk ke dalam mobilnya setelah keributan yang terjadi, dia lalu melajukan mobil itu meninggalkan Universitas.
Arthur terus melihat ke arah Lili yang hanya diam sembari mengemudikan mobil, tetapi dia merasa senang karna wanita itu ternyata membawanya.
Mobil Lili berhenti tepat di pinggir danau buatan, dia lalu keluar dengan diikuti Arthur yang tau kalau Lili ingin bicara dengannya.
"Duduklah!"
Arthur mendudukkan pantatnya di samping Lili, walaupun dia masih menjaga jarak aman dari wanita itu.
"Arthur, apa aku boleh bicara dari hati ke hati denganmu?"
Arthur mengangguk dengan semangat, dia bahkan sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Lili.
"kita belum lama kenal, tapi tidak bisa dibilang sebentar juga. Yah, tidak terasa sudah berbulan-bulan kita saling mengenal!"
"Sejak dulu, aku tidak terlalu dekat dengan seorang pria kecuali Ayah dan juga Kakakku. Dan Reza, dia adalah pria ketiga yang dekat dan akhirnya menjadi suamiku!"
Lili menghembuskan napas kasar, ingatan demi ingatan terus berlarian dalam kepalanya hingga menyebabkan dadanya terasa sesak.
Arthur masih diam mendengarkan, mata yang sejak tadi melihat Lili kini sudah menghadap lurus ke arah danau. Dia takut melewati batasnya saat melihat Lili menangis, bisa saja dia langsung memeluk atau bahkan mengecup wajah wanita itu.
"tapi semua itu menjadi petaka buatku, entah aku yang terlalu bod*oh, atau karna memang aku yang tidak pernah dekat dengan seorang pria hingga mudah terjebak dalam bujuk rayuan. Awalnya, semua terasa begitu indah bagiku. Cinta yang kurasakan benar-benar tulus untuknya, sampai aku tidak tau kebohongan besar yang dia tutupi!"
"sejak aku tau kalau dia sudah memiliki istri, hidupku menjadi hancur! Penerang hidupku seketika padam, dan hatiku remuk redam. Tapi, bukan hanya itu saja. Keluargaku jauh lebih terluka dari apa yang terjadi, karna mereka memperlakukan keluargaku seperti sampah yang telah membesarkan seorang pelakor!"
"sejak saat itu, aku mencoba untuk kembali bangkit mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dalam hatiku. Mengumpulkan kepingan-kepingan harapan untuk keluargaku yang sedang terpuruk karna ulahku. Tapi, semua itu kembali hancur saat aku tau kalau aku sedang mengandung anaknya!"
__ADS_1
"Aku kembali terjatuh dalam jurang gelap yang siap menelanku hidup-hidup, membuatku tidak tahan dan berniat untuk mengakhiri hidupku sendiri!"
Arthur terjingkat kaget saat mendengarnya, refleks tangannya langsung menggenggam kedua tangan Lili.
"Tidak! Jangan pernah melakukan itu, karna aku tidak akan tinggal diam!"
Lili menghapus air mata diwajahnya, dia lalu tersenyum tipis sembari menarik tangannya dari genggaman tangan Arthur.
"yah, dulu aku sempat berpikir seperti itu. Biarlah aku pergi bersama dengan anakku, karna aku sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung semuanya. Tapi, suatu ketika aku tersadar saat melihat seorang anak kecil sedang bermain dalam pangkuan Ibunya. Dadaku terasa seperti terbakar, dan aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit!"
Air mata tidak dapat Lili tahan dan pecah begitu saja diwajahnya, untuk pertama kalinya, dia menceritakan semua rasa sakit yang dia alami kepada orang lain.
"Aku mendengar detak jantungnya, sama persis seperti detak jantungku, dia darah dagingku! Aku adalah seorang Ibu yang buruk, Ibu yang paling mengerikan karna berniat untuk membunuh anaknya sendiri yang bahkan belum lahir ke dunia! Sejak itu, aku memutuskan untuk mempertahankannya, dan membawanya pergi sampai ke tempat ini!"
Lili terisak dengan kepala tertunduk, dia merasa bahagia dan tidak pernah menyesal atas keputusan yang telah dia ambil.
Arthur yang melihat Lili menangis tidak kuasa untuk menahan diri, dia menarik tubuh Lili dan memeluknya dengan erat.
Tangisan Lili semakin keras terdengar saat kepalanya bersandar didada Arthur, dia menumpahkan segala air mata yang sejak dulu mati-matian dia tahan.
Setelah beberapa saat, Lili menjauhkan dirinya dari tubuh Arthur. Matanya bengkak, dengan wajah memerah. Dia merasa malu karna sudah menangis seperti itu, dan juga, dia heran dengan dirinya sendiri kenapa menceritakan semua itu pada Arthur.
"Minum dulu, Buk!"
Arthur memberikan sebotol minuman yang entah dari mana dia dapat, dan langsung diminum oleh Lili karna memang dia sangat kehausan.
"Apa Ibuk sudah merasa lebih baik?"
__ADS_1
Lili mengangguk, dia lalu melihat ke arah Arthur dengan intens membuat Arthur sedikit heran.
"kau sudah tau semuanya tentangku, Arthur! Hidupku hancur karna rasa cintaku pada seorang lelaki, aku tidak berpikir untuk dekat ataupun memiliki hubungan-"
"Aku mengerti! Aku mengerti apa yang Ibuk coba tegaskan padaku!"
Lili terdiam, dia merasa sedikit tidak nyaman, padahal tujuannya mengatakan itu agar Arthur tidak lagi berharap padanya.
"Aku tau kalau Ibuk mengatakan itu agar aku tau diri, bahwa perasaanku jelas tidak akan pernah Ibuk balas! Tapi, apa Ibuk berpikir aku akan menyerah dengan perasaanku ini?" tanya Arthur dengan tajam, bahkan Lili tertegun saat melihat sorot mata Arthur yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"itu, itu benar! Aku tidak mau menyakitimu, dan aku tidak mau menyakiti diriku lagi!"
"apa Ibuk pikir, aku ingin menyakiti dan tersakiti?"
"tidak, aku tidak bermaksud-"
"Aku sudah mendengarkan cerita Ibuk, jadi sekarang, saatnya Ibuk mendengarkan ucapanku!"
Glek, Lili menelan salivenya dengan kasar. Entah kenapa saat ini dia merasa gelisah, gugup, seakan-akan Arthur akan melakukan sesuatu padanya.
"Ibuk mengatakan kalau Reza adalah pria pertama yang dekat, bahkan berhasil merebut cinta Ibuk. Begitu juga denganku, Ibuk adalah wanita pertama yang berhasil mencuri hatiku. Menutup kedua mataku sampai aku tidak bisa melihat wanita lain, dan menggenggam segenap cintaku agar selalu tertuju padamu!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘