Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 34. Pemecatan Dengan Tidak Hormat.


__ADS_3

"kenapa diam? Betulkan, ucapanku?"


"kamu nanyak?"


"Ap-apa? Kau bilang apa?"


Gesya merasa murka, beraninya wanita itu mengatakan hal seperti itu padanya.


"Kamu bertanya-tanya? Maka dengarkan, aku! Aku tidak mengenal kalian, dan aku tidak merasa merebut ataupun menggoda lelaki bernama Arthur, jadi, tolong menyingkir dari hadapanku!"


Lili berjalan lurus hingga bahunya bersenggolan dengan bahu Gesya membuat wanita itu terhuyung ke belakang.


"Dasar wanita murahan!"


Gesya yang sudah merasa emosi langsung menarik hijab Lili sampai dia terjatuh ke belakang, mereka kini menjadi pusat perhatian bagi semua orang yang ada di tempat itu.


Lili memegangi pinggangnya yang terasa nyeri, dia lalu segera bangun dengan tatapan tajam ke arah Gesya dan teman-temannya.


"beraninya kau bertindak kasar seperti ini, apa kau tidak punya akal pikiran hingga menyakiti orang lain?"


"Kau pantas mendapatkannya, jala*ng!"


"Hentikan!"


Tiba-tiba datanglah 3 orang Dosen yang langsung menghentikan kegaduhan yang sedang terjadi, salah satu dosen wanita yang merupakan teman Lili langsung membersihkan pakaian Lili yang sedikit kotor.


"Kau tidak papa-papa kan, Li?"


Lili menganggukkan kepalanya, dia kembali melihat ke arah Gesya dengan tajam tanpa sedikitpun melunakkan pandangannya.


"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak bisa menghormati dosen kalian sendiri?" Bentak salah satu Dosen pada Gesya dan teman-temannya, tapi bukannya takut, mereka malah tertawa sinis mendengar ucapan Dosen itu.


"Dosen Bapak bilang? Bagaimana mungkin seorang jala*ng bisa menjadi Dosen?"


"Tutup mulutmu, Gesya! Sekarang kalian semua ikut saya ke ruangan Wakil Rektor!"


Dosen itu lalu membawa Gesya dan teman-temannya untuk menghadap Wakil Rektor bidang kemahasiswaan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

__ADS_1


Sementara itu, Lili dan temannya masuk ke dalam ruangan untuk menenangkan diri atas apa yang telah terjadi.


Dewa,yang melihat semuanya langsung menghubungi Arthur. Beberapa kali dia menelpon, tetapi Arthur tidak juga menjawabnya. Dia lalu memutuskan untuk mengirim voice note agar Arthur bisa mendengar kabar darinya.


"Minum dulu, Li!"


Lili mengambil segelas air yang temannya berikan dengan ucapan terima kasih, dia lalu meminumnya dan meletakkannya di atas meja.


"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan apa yang mereka lakukan! Mereka memang suka membuat onar dengan siapa saja."


Lili menganggukkan kepalanya, dia tidak peduli dengan apa yang Gesya lakukan. Hanya saja dadanya terasa sesak saat wanita itu menyebut nama Arthur.


"makasih ya, Fa!"


"Pakek makasih segala! Emang dikasi apa sih?"


Mereka berdua lalu sama-sama tertawa, Fani mencoba untuk menenangkan temannya walaupun sebentar lagi masalah akan semakin membelit Lili.


"Tapi, Li! Sebentar lagi, kau pasti akan dipanggil ke ruang WR. Aku harap mereka akan menyelesaikan masalahmu dengan baik!"


Lili tersenyum, dia sudah bisa menduga kalau dia juga pasti akan dipanggil ke ruang WR.


Mata Arthur melihat ke arah ponselnya yang tampak berkedip-kedip, dia lalu mengambilnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


"Gila! Ngapain Dewa nelpon sebanyak ini? Apa dia merindukanku?"


Arthur tertawa sendiri, dia lalu melihat ada satu voice note yang Dewa kirim untuknya, dia segera mengklik play untuk mendengarkan apa yang Dewa kirim padanya.


"Arthur! Kau ada di mana? Apa kau tidak tau kalau keli*nci betinamu sedang diserang oleh ba*bi hutan? Cepat kau datang ke kampus sebelum terjadi hal yang diinginkan. Buk Lili sampai jatuh dibantai oleh Gesya dan gengnya, tapi tenang saja, Buk Lili kembali bangkit dan melakukan perlawanan. Tapi akhirnya mereka semua digiring ke ruang WR. Cepat kau datang ke sini!"


Arthur langsung menyambar jas dan kunci mobilnya dengan wajah merah padam, dia langsung berlari keluar dari ruangannya menuju parkiran.


"Loh, Tuan Arthur! Anda mau ke mana?"


Sekretaris Papa Ari mencoba untuk memanggil Arthur, tetapi lelaki itu tidak memperdulikannya dan terus berlari sampai keluar dari perusahaan.


"Sial*an! Awas kau, Gesya! Aku sudah terlalu diam selama ini, tapi kau malah berani mengusik cintaku, maka jangan salahkan aku kalau berbuat jahat padamu!"

__ADS_1


Arthur semakin menekan pedal gasnya dan melaju kencang agar mobilnya cepat sampai di tempat tujuan.


Sementara itu, Lili yang sedang berada di ruang Wakil Rektor merasa terkejut karna langsung berhadapan dengan Rektor dari Universitas itu.


"Maaf karna telah membuat keributan, Buk Lili! Saya harap anda bisa melupakan masalah ini!"


Kening Lili berkerut dalam, dia merasa bingung kenapa Rektor menyuruhnya untuk langsung melupakan kejadian itu.


"Anggap saja kalau apa yang terjadi hanya sekedar becanda, jadi tidak usah lagi membahas masalah ini!"


Tunggu, Lili merasa ada sesuatu yang aneh. Kenapa dia merasa seakan-akan Rektor itu ingin kalau dia menutup mulut untuk kejadian ini.


"Saya mengerti apa yang Bapak katakan, tapi, saya merasa kalau apa yang Gesya lakukan-"


"Sudah, saya rasa sudah cukup! Kita tidak akan membahas ini lagi, dan untuk anda, Ibu Lili. Anda harus bisa lebih dewasa lagi dalam mendidik anak-anak, mereka masih labil. Jadi, anda jangan tersulut emosi! Saya harap, anda mengerti dengan apa yang saya katakan!"


Gesya tersenyum sinis, matanya bertatapan dengan Lili seakan-akan sedang mengejek wanita itu.


"tidak! Ada sesuatu yang salah di sini, kenapa aku merasa kalau Rektor sedang membela wanita itu? Apa jangan-jangan mereka sengaja melakulan ini padaku?"


"Saya mengerti, Pak! Tapi saya harap, anda juga harus bisa berlaku adil dan bijak. Bukan hanya sekedar berusaha untuk membungkam mulut orang lain!"


Lili bangkit, dia lalu menundukkan kepalanya dan hendak keluar dari ruangan itu.


"Apa, apa maksudmu berkata seperti itu?"


Lili kembali berbalik, dia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis. "Anda seharusnya mencoba untuk menyelesaikan masalah ini, bukan menyuruh saya untuk melupakan segalanya. Saya yakin kalau apa yang terjadi pada saya bukan yang pertama kalinya, atau, anda memang ingin menutupi kesalahan wanita yang ada di samping anda?"


"tutup mulutmu! Beraninya kau berbicara seperti itu! Sekarang kau keluar dari sini, dan buat surat pengunduran dirimu. Aku tidak mempekerjakan seorang Dosen yang tidak punya etika sepertimu!"


"Tentu saja! Tanpa kau suruh pun, Buk Lili memang akan keluar dari kampusmu, ini!"




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2