
Malik dan anak buahnya mengikuti rombongan Ayah Barra ke suatu tempat yang pastinya sangat sunyi dan tidak dilewati orang-orang.
Sampailah mereka ke pinggir danau yang tenang, apalagi jam sudah menunjukkan pukul 2 malam yang pastinya tidak akan ada lagi orang yang berada di tempat itu.
"Cih, kalian benar-benar orang rendahan! Bisa-bisanya kalian membawaku ke tempat seperti ini!"
Malik bersedekap dada dengan sombong, dia lalu memgambil berkas yang ada ditangan anak buahnya dan melemparkan berkas itu tepat ke wajah Papa Ari.
"Dasar bajing*an!"
Kiki yang sudah maju selangkah ditahan oleh Ayah Barra, dia menggelengkan kepala untuk membiarkan Malik bertindak sesuka hati.
"Apa maksudnya ini?"
Papa Ari mengambil berkas yang tadi dilempar oleh Malik, terlihat jelas bahwa semua itu adalah surat pemindahan kepemilikan perusahaan keluarga Ravindra ke tangan Malik.
"Kau kan bisa membacanya, itu adalah surat pemindahan kekuasaan atas perusahaanmu! Jadi, bersiaplah untuk angkat kaki dari sana!"
Sret, sret, sret! Papa Ari merobek seluruh surat-surat itu dan melemparkannya ke wajah Malik dengan geram.
"surat-surat itu tidak sah! Bahkan aku tidak pernah menjual asetku pada siapapun!"
"Hahahaha!"
Tawa Malik pecah ditempat itu membuat mereka semua semakin bertambah kesal, sementara Gesya yang juga ada di tempat itu hanya tersenyum lebar sembari menyandarkan tubuhya ke mobil.
"Dasar bod*oh! Kau yakin tidak menandatangani surat-surat itu? Hah!"
Malik kembali tertawa, hingga tawanya lenyap saat satu bogem mentah melayang kewajahnya.
Buak! Yah, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Ayah Barra. Sejak tadi dia sudah diam dan sabar, tetapi laki-laki berperut buncit itu malah terus menguji kesabarannya.
Semua anak buah Malik langsung menyerang Ayah Barra begitu melihat Tuan mereka terkapar di atas tanah, tentu Kiki dan Bian tidak tinggal diam saat melihat semua itu.
Perkelahian pun terjadi, hanya Papa Ari saja yang diam melihat aksi mereka karna dia memang tidak bisa berkelahi.
Brak
buak!
Prang
Pyak!
Krek!
Semua jenis suara menggema di tempat itu sampai semua anak buah Malik terkapar tidak berdaya, bahkan Bian menghajar mereka semua dengan sepenuh hati hingga darah mereka bercucuran.
__ADS_1
"Kalau kau masuk penjara karna itu, aku tidak akan menolongmu, Bian!"
Bian tertawa lebar saat mendengar ucapan Ayah Barra, begitulah kalau dia sudah semangat membara pasti lawannya akan kehilangan nyawa.
Sementara itu, Malik melihat mereka dengan tubuh gemetaran. Begitu juga dengan Gesya yang merapatkan tubuhnya ke mobil seperti sedang melihat malaikat maut.
"Paman!"
Papa Ari terlonjak kaget saat Bian menepuk bahunya, padahal bukan dia yang dihajar tapi wajahnya terlihat sangat pucat.
"Paman tidak apa-apa kan?"
"Y-ya, Paman, Paman tidak apa-apa! Tapi, tapi kau-"
Papa Ari tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat Bian tersenyum, lelaki itu lalu merapatkan tubuhnya ketubuh Papa Ari membuat dia sedikit bergeser takut.
"Paman, tolong jangan katakan semua ini pada orangtuaku yah!" pinta Bian, kalau sampai orangtuanya tau mungkin mereka bukan hanya sekedar pucat saja, melainkan langsung kejang-kejang.
Papa Ari menganggukkan kepalanya membuat Bian langsung memeluk lengannya, sungguh dia tidak menyangka kalau lelaki lembut dan sopan seperti Bian ternyata sangat membahayakan. Mungkin itulah yang disebut dengan diam-diam tapi menghanyutkan.
"Si-si-siapa kalian sesungguhnya?"
Tubuh Malik masih bergetar hebat, bahkan sesuatu mulai menetes dari sela-sela pahanya membasahi tempat itu.
"Kami manusialah, sekarang ke sini kau!"
"Apa kau tuli? Mau, kalau aku membuatmu berjalan mundur selamanya?"
Glek, Malik menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan Ayah Barra. Bahkan bukan dia saja yang merasa takut, saat ini Papa Ari sepertinya jauh lebih takut darinya.
Perlahan dia mulai mendekati Ayah Barra sampai hanya tersisa satu langkah saja jarak mereka saat ini.
"Dan kau, wanita ular! Ke sini kau!"
Gesya terlonjak kaget saat Ayah Barra memanggilnya, dia menyesal karna bukannya pulang tapi malah mengikuti Ayahnya.
"Ke sini kau, sebelum ku jambak rambutmu!"
Bian dan Kiki langsung melihat Ayah Barra saat mendengar ucapannya, mereka merasa geli saat membayangkan Ayah Barra menjambak rambut seorang wanita.
"Tapi Tuan, apa Tuan tidak merasa kalau Malik ini pernah berhubungan dengan kita?
Ayah Barra mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Bian, dia lalu menatap Malik dengan tajam membuat lelaki itu mengkerut takut.
"aku hanya sekali mendengar nama Malik disebut oleh istriku!"
"Benarkah? Berarti Nyonya mengingatnya, Tuan!"
__ADS_1
Ayah Barra menganggukkan kepalanya. "Dia mengatakan kalau namanya Malik, penjaga pintu neraka!"
"Apa?"
Bian hampir saja menjitak kepala Ayah Barra saat mendengar perkataannya, sempat-sempatnya lelaki itu becanda saat sedang serius seperti ini.
"Tu-Tuan, apa, apa anda bisa melepaskan saya? Saya, saya akan mengabulkan semua keinginan anda!"
Yah, Malik berusaha mengeluarkan rayuan mautnya. Dia percaya kalau Ayah Barra pasti akan tergoda.
"Benarkah?"
Malik mengangguk dengan semangat, kemudian Ayah Barra mendekatinya dan meletakkan tangannya tepat dipundak lelaki itu.
"Aku baru ingat sekarang saat melihat kepalamu yang botak ini, kau pernah bekerja sama dengan Luki, kan?"
Malik terlonjak kaget, dia menatap Ayah Barra dengan bingung karna lelaki itu mengetahui kerja sama terlarangnya.
"Apa kau tau, bagaimana kabar Luki sekarang?"
Glek. "Dia, dia sudah mati karna bunuh diri!"
"benar! Dan kau tau apa alasan dia kenapa sampai bunuh diri?"
"ka-karna semua usahanya bangkrut dan habis, di-dia terlilit hutang dan dimusuhi oleh semua orang. Seluruh keluarganya juga hancur berantakan!"
"Pintar, pintar sekali!"
Ayah Barra mengusap kepala Malik yang tidak ditumbuhi rambut, dia merasa heran kenapa kepala lelaki itu bisa botak seperti itu.
"Apa kau tau siapa yang membuatnya jadi seperti itu?"
Tiba-tiba Bian bersuara yang dibalas dengan gelengan kepala Malik. "Coba kau perhatikan baik-baik siapa pria yang saat ini ada di sampingmu!"
Malik melihat Ayah Barra dengan tajam, mencoba untuk mengingat siapakah sosok Ayah Barra yang sesungguhnya.
"Jangan terlalu lama menatapku, aku takut kalau kau jatuh cinta!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1