
Keesokan harinya, Arthur dan kedua orangtuanya segera berangkat ke gedung tempat dilaksanakannya pernikahannya dan Lili. Hari masih gelap karna memang sekarang baru jam 6 pagi, mereka harus cepat sampai agar tidak terlambat.
Entah kenapa mereka tidak ke gedung itu sehari sebelum pernikahan, dan semua itu karna Mama Mawar yang mengatakan kalau besok paginya saja baru pergi.
Bukan hanya keluarga Arthur saja ternyata yang seperti itu, keluarga Masya dan Lili saat ini juga baru berangkat menuju hotel.
Acara akad akan dilaksanakan tepat pukul 9 pagi, jadi sebelum itu mereka semua harus sudah selesai bersiap.
Tidak berselang lama, mereka semua secara bersamaan sampai diparkiran hotel. Terlihat beberapa orang lelaki menghampiri mobil mereka seolah-olah sedang melakukan penyambutan.
"Mereka siapa?"
Arthur melihat para lelaki itu dengan bingung sementara Mama Mawar hanya tersenyum tipis saja, karna memang dialah yang menyiapkan semua itu.
Begitu mereka semua turun dari mobil, para lelaki itu langsung menaburkan bunga ke atas tubuh mereka membuat semua orang tercengang. Tentu saja kecuali Mama Mawar, Ibu Tasya dan orangtua Masya yang sudah tau mengenai hal ini.
"Sebenarnya siapa sih, yang punya ide seperti ini? Naburin bunga kayak gini seperti ziarah ke kuburan!"
Semua orang terkikik geli mendengar ucapan Arthur, sementara Mama Mawar meliriknya dengan kesal. Akan tetapi, jangan sampai Arthur tau kalau itu adalah idenya.
"Banyak kali ceritamu! Sudah, ayo masuk!"
Mama Mawar berjalan cepat untuk masuk ke dalam hotel tersebut membuat yang lain semakin tertawa, terutama Ibu Tasya yang terpaksa membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak terdengar siapapun.
Arthur melirik ke arah Lili yang berjalan di samping Ayah Barra, dia tersenyum cerah pada calon istrinya itu dan dibalas dengan senyum lebar pula.
"Papa!"
Zia yang melihat Arthur dan Mamanya saling pandang-pandangan juga tidak mau kalah, dia berlari mendekati lelaki itu dan langsung minta digendong.
"Kenapa? Zia kangen sama Papa?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. "Cia mau diliat kayak gitu juga!"
Arthur sedikit bingung dengan apa yang Zia ucapkan, dia lalu melihat ke arah Lili seakan-akan bertanya apa yang sedang putrinya inginkan.
"Zia mau diliat kayak gimana Sayang?" tanya Lili, dia berjalan mendekati Arthur yang berdiri di samping Papa Ari.
"Kayak Papa liatin Mama tadi!"
Arthur tersenyum, dia lalu menyuruh Zia untuk melihatnya dengan senyum lebar. Zia menuruti ucapan Arthur, dan Arthur melakukan persis seperti tatapannya pada Lili tadi.
Cup, dia lalu mengecup pipi Zia dan juga bibir mungilnya membuat gadis kecil itu tertawa.
"Gantian Mama!"
Arthur dan Lili sama-sama mengernyitkan kening mereka karna tidak mengerti. "Gantian gimana?"
"gantian Mama yang dicium Papa!"
"Apa?"
Semua orang yang mendengar ucapan Zia merasa terkejut, sementara Lili dan Arthur malah salah tingkah mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Belum boleh, Sayang! Nanti malam baru!"
Ibu Tasya turun tangan dan menggendong cucunya, dia lalu mengajak mereka semua untuk masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Orang-orang yang bertugas untuk membantu keempat calon pengantin sudah menunggu kedatangan mereka, dan keempat calon pengantin tersebut langsung digiring ke dalam kamar untuk bersiap.
Lili membulatkan matanya saat melihat 3 buah gaun yang terpajang di kamar yang dia tempati, gaun-gaun itu terlihat sangat cantik dan juga mewah. Dia menyentuh gaun-gaun tersebut dengan kagum, sungguh baru pertama kali dia melihat gaun secantik dan semewah itu.
Begitu juga dengan Masya, dia sangat puas dengan maha karya yang dibuat oleh desainer langganan Mama Mawar. Gaun-gaun itu penuh dengan pernak-pernik yang membuat tampilannya sangat elegan, tetapi jauh dari kata norak.
Jika untuk para lelaki, desainer menyiapkan kemeja dan jas yang terbuat dari bahan yang sangat lembut. Begitu juga dengan celananya, siapapun yang melihatnya sudah tau kalau semua itu terbuat dari kain-kain yang super mahal.
Ada 3 warna yang akan mereka gunakan nanti, saat akad mereka berempat akan sama-sama memakai pakaian berwarna putih.
Pada saat siang, Lili dan Arthur akan memakai pakaian berwarna sage green sementara Masya dan Kiki akan memakai pakaian berwarna dusty rose. Warna-warna itu sangat cocok dan manis dikulit mereka, menambah kesan cantik dan elegan bagi siapa saja yang memakainya.
Malam harinya, Arthur dan Lili akan memakai pakaian berwarna gold terang yang akan menarik perhatian semua orang. Begitu juga dengan Kiki dan Masya, yang akan memakai pakaian berwarna silver terang hingga semua mata tertuju pada mereka.
Saat ini, Arthur sudah selesai bersiap. Dia lalu keluar kamar untuk menemui Kiki dan melihat bagaimana penampilan lelaki itu.
"alhamdulillah, ternyata masih gantengan aku!"
"Cih, mimpi saja kau!"
Papa Ari dan Papa Banu yang ada di ruangan itu tertawa, bisa-bisanya kedua calon pengantin itu masih bertengkar disaat seperti ini.
"Ya Allah, kau cantik sekali, Lili!"
Mama Mawar yang baru masuk ke dalam kamar Lili sangat takjub melihat kecantikan wanita itu. Dia yakin Arthur pasti tidak akan bisa memalingkan matanya saat melihat Lili.
"terima kasih, Tante!"
"Mama! Mulai sekarang harus panggil Mama yah, Sayang!"
Lili menganggukkan kepalanya, tidak berselang lama Masya dan juga Ibunya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ayo, kita harus segera menemui calon suami kalian!"
Mama Mawar mengedipkan sebelah matanya membuat Lili dan Masya malu, kemudian para Ibu membawa kedua pengantin menuju aula yang ada dihotel tersebut.
Arthur dan Kiki yang sudah berada di dalam aula benar-benar berdecak kagum dengan kemegahan acara pernikahan mereka, di mana banyak bunga-bunga serta hiasan lain yang benar-benar indah dipandang mata.
Setiap sudut ruangan itu, diletakkan sebuah guci yang sangat cantik menambah kesan elegan. Bukan itu saja, bahkan lampu-lampu yang menggantung di atas ruangan benar-benar sangat indah.
Para tamu dibuat tercengang dengan kemewahan yang mereka lihat, banyak di antara mereka yang sibuk berfoto di sana-sini karna tidak ingin kehilangan momen tersebut.
Semua orang langsung bersorak meriah saat melihat kedua pengantin wanita memasuki aula pesta, membuat Arthur dan Kiki melihat ke arah pintu masuk.
Deg, dada mereka berdua bergetar dengan mulut terbuka saat melihat betapa cantiknya bidadari mereka. Kedua mata mereka membulat sempurna, dan tidak bisa dikedipkan karna pancaran keindahan dari Lili dan Masya saat ini.
Sampai kedua wanita itu berdiri di hadapan Kiki dan Arthur, mereka tetap tidak sadar dan terus menatap calon istri mereka.
"Sangat cantik, kau benar-benar sangat cantik, Li!"
Lili tersipu malu mendengar ucapan Arthur, sementara semua tamu langsung bersorak mendengar ucapan pengantin pria. Terutama sahabat-sahabat Arthur, yang suaranya lebih kuat dari toak tahu bulat digoreng dadakan.
"silahkan duduk di tempat kalian masing-masing!" ucap Pak penghulu, membuat keempat calon pengantin duduk di tempat mereka.
"Bagaimana? Apa kalian sudah siap untuk menikah?"
Kiki dan Masya menganggukkan kepala mereka, saat ini mereka berdua dululah yang akan melangsungkan akad.
__ADS_1
"baiklah, kita langsung mulai yah!"
Pak penghulu lalu menyuruh Kiki dan Papa Banu berjabat tangan, karna acara akad akan segera dimulai.
"ananda Kiki Rafasyah!"
"saya, Pak!"
"saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama, Masya Nandita binti Banu Setyo dengan mas kawin satu set berlian seharga 200 juta dibayar tunai!" Papa Banu menghentak tangannya agar Kiki langsung menjawab ucapannya.
"saya terima nikah dan kawinnya Masya Nandita binti Banu Setyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"bagaimana para saksi? Sah?"
"sah!"
"Alhamdulillah!"
Semua orang mengucap syukur dengan diiringi tepuk tangan meriah atas menikahnya Kiki dan Masya, semua keluarga merasa bahagia dan terharu atas pernikahan itu.
Setelah itu Pak penghulu memanjatkan do'a agar rumah tangga yang akan dilalui oleh kedua pengantin berjalan baik dan bahagia, serta diridhoi oleh Allah.
Setelah selesai, Pak penghulu lalu beralih pada Arthur dan Lili. Dia kembali menanyakan apakah mereka sudah siap untuk menikah, dan langsung dijawab siap oleh Arthur dan Lili.
"kalau gitu silahkan berjabat tangan, Pak!"
Ayah Barra berjabat tangan dengan Arthur, jantung kedua lelaki itu berdebar keras karna momen sakral ini.
"saudara Arthur Ravindra!"
"saya, Pak!"
"saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama, Lili Latisya binti Barra Ferruro dengan mas kawin satu set berlian seharga 250 juta dibayar tunai!" Papa Barra menghentakkan tangannya.
"saya terima nikah dan kawinnya Lili Latisya binti Barra Ferruro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"bagaimana para saksi? Sah?"
"sah!"
"Alhamdulillah!"
Untuk sekali lagi semua orang mengucap syukur karna saat ini Arthur dan Lili sudah sah menjadi suami istri, suasana bahagia dan haru terus menyelimuti hati semua orang.
Pak penghulu lalu kembali memanjatkan do'a untuk mereka, agar nantinya rumah tangga mereka selalu dilimpahkan kebahagiaan, ketenangan dan berkah yang melimpah.
Kini, Lili dan Masya sama-sama menyalim tangan suami mereka. Air mata kebahagiaan menetes dari sudut mata mereka karna akhirnya kisah cinta yang mereka rasakan berlabuh dipelaminan.
•
•
•
Tamat.
Terima kasih untuk semua readers yang sudah mengikutin kisah Arthur dan Lili 🥰 juga tidak ketinggalan keseruan dari keluarga mereka 🥰 aku bisa sampai ditahap ini karna dukungan dari kalian semua 🤗 Terima kasih banyak, dan sampai jumpa dikarya aku yang lainnya ❤
__ADS_1
Akan ada 1 part lagi untuk malam pertama mereka yah 🤭 silahkan ditunggu 😍