
"Kau benar-benar sudah tidak waras! bagaimana mungkin kau menyukai seorang duda?"
"A-apa?"
Arthur dan Masya sama-sama terkejut dengan ucapan mereka, hingga keterkejutan itu semakin lengkap dengan kedatangan orang-orang ke dalam ruangan itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak?"
Para penghuni kantor itu langsung masuk ke dalam ruangan Masya saat mendengar suara teriakannya membuat Masya dan Arthur menjadi salah tingkah.
"Sudah ku duga, dia pasti akan membuat masalah!"
Kiki yang juga ada di ruangan itu bergegas menghampiri Masya yang melihat ke arahnya dengan bingung.
"ada apa, Masya? Kenapa kau berteriak?" tanya Kiki yang sudah berdiri di hadapan Masya.
"em ... itu, anu-"
"Kak Masya cuma terkejut tadi, dia tidak menyangka kalau aku akan menemuinya!" potong Arthur, jangan sampai Masya memberitahu orang-orang tentang apa yang dia katakan.
Orang-orang yang ada di ruangan itu mulai bubar barisan, kecuali Kiki tentunya yang menatap Arthur penuh curiga.
"Arthur, apa kau benar-benar sudah gila?"
Masya kembali berucap saat semua orang sudah keluar dari sana, sementara Kiki masih setia berada di tempat itu.
"Ck! Bukan aku yang suka, tapi Kakak! Gimana kalau Kakak suka sama duda?"
Mendengar ucapan Arthur, Kiki langsung menatap Masya dengan tajam. Kali ini sepertinya gantian dia yang terkejut.
"ku pikir kau yang-"
"Kau suka dengan seorang duda?"
"Hah?"
Masya menelan salive nya saat mendapat pertanyaan dari Kiki, apa lagi tatapan tajam lelaki itu yang seperti elang terasa mencabik-cabik tubuhnya.
"bukan begitu! dia-"
"tunggu! Kenapa Kiki terlihat marah sekali? Memangnya kenapa kalau aku benar-benar suka dengan duda?"
Masya merasa reaksi Kiki terlalu berlebihan, dia lalu sedikit menarik sudut bibirnya karna ingin mengerjai lelaki itu.
"kalian kenapa sih? Maksudku itu-"
"Benar! Aku suka dengan seorang duda, duda yang sangat menggairahkan!"
Masya memberi kode pada Arthur untuk menutup mulutnya, sementara Kiki semakin merasa panas mendengar jawaban wanita itu.
"Duda menggairahkan kau bilang? Apa menurutmu, aku tidak menggairahkan?"
Kiki memajukan langkahnya membuat Masya terjingkat ke belakang, mereka terus seperti itu sampai tubuh Masya terjerembab di atas sofa.
__ADS_1
Dengan cepat Kiki menindih tubuh wanita itu membuat Masya seketika membulatkan matanya karna tidak menyangka kalau Kiki akan melakulan hal seperti itu.
"Baik-baik, aku sudah seperti patung keabadian di sini!"
Arthur melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan kesal, niat hati ingin curhat dengan Masya malah harus menjadi penonton adegan panas wanita itu dengan Kiki.
"Tu-tunggu!"
Masya yang melihat Arthur keluar menjadi panik, pasalnya saat ini dia tidak bisa bangun dengan posisi terhimpit tubuh Kiki.
"ka-kau! Cepat menyingkir dari tubuhku!"
"Kenapa? Bukannya kau bilang duda yang kau suka itu menggairahkan? Aku juga tidak kalah menggairahkan darinya!"
Masya kembali menelan salivenya dengan kasar, dia merutuki pikirannya yang benar-benar berpikir kalau Kiki sangat menggairahkan.
"Terserah! Pokoknya menyingkir dari tubuhku!"
Masya mencoba untuk mendorong tubuh Kiki, tapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini? Terserah aku dong, mau suka pada-"
Cup, Masya tidak dapat menyelesaikan ucapannya karna mulutnya sudah dibungkam oleh mulut lelaki itu hingga tubuhnya menegang dengan sempurna.
Kiki lalu melepaskan kecupannya, matanya mengamati wajah Masya yang mulai memerah.
"a-apa yang kau lakukan? Be-beraninya kau menciumku?" lirih Masya, dia lalu memberontak agar Kiki melepaskan tubuhnya.
"Kenapa? Bukannya kau suka dengan sesuatu yang menggairahkan?"
1 detik, 2 detik, hingga 5 detik. Masya kembali membuka matanya saat tidak merasakan apapun dari Kiki, sementara Kiki tersenyum simpul melihatnya seperti itu.
"Le-lepaskan aku! Aku ingin melanjutkan-"
Cup, Kiki kembali mengecup bibir Masya membuat wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali dengan wajah memerah bak sebuah tomat.
"Aku lebih suka melihatmu membuka mata dari pada terpejam, sekarang katakan! Siapa duda itu?"
Sungguh, Masya sangat terkejut dengan apa yang Kiki lakukan saat ini. Pasalnya, lelaki itu selama ini hanya selalu mengganggunya tanpa melakukan hal lain.
Terkadang mereka juga akan bertengkar untuk hal-hal kecil, hingga dijuluki anji*ing dan kuci*ng oleh orang-orang kantor.
Akan tetapi, saat ini lelaki itu berani menciumnya. Bahkan sampai dua kali, dan mengungkung tubuhnya di bawah tubuh lelaki itu sendiri.
"a-aku, aku hanya bercanda saja! Aku sedang tidak suka dengan siapapun, sumpah!"
"tunggu, kenapa aku sampai mengucapkan sumpah segala sih?"
Masya ingin tenggelam ke dasar laut saja karna kebodohannya, sementara itu Kiki mulai bangkit dan melepaskan tubuhnya.
Masya membangunkan tubuhnya sembari merapikan pakaiannya yang berantakan, dia terus menunduk karna merasa malu dengan apa yang sudah terjadi.
"Ka-kalau gitu aku permisi!"
__ADS_1
Kiki berlalu keluar dari tempat itu meninggalkan Masya yang mematung di tempatnya, sepanjang langkah kakinya, Kiki merutuki dirinya sendiri yang telah melakukan hal paling bod*oh dimuka bumi ini.
"Kenapa aku seperti itu? Bagaimana kalau dia berpikir yang tidak-tidak tentangku? Aaarggh!"
Kiki menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan frustasi, bisa-bisanya dia kelepasan gara-gara seorang duda.
Sementara itu, Arthur yang sudah sampai di rumahnya merasa lemas dan tidak bertenaga. Dia menyeret kakinya untuk masuk ke dalam rumah dan ingin merenung di kamarnya.
"Arthur!"
Papa Ari yang sudah menunggu kedatangan putranya berdiri di samping tangga, terlihat Arthur menghela napas kasar saat melihatnya.
"Papa ingin bicara denganmu!"
"Pa, nyawaku tinggal 1 titik lagi sekarang, biarkan aku mengisi daya hidupku dulu!" ucap Arthur mendramatisasi keadaan.
"ini penting, Arthur! Ini menyangkut masa depanmu!"
"Masa depanku masih baik-baik saja kok, Pa!"
Arthur mengusap aset tubuhnya yang berharga sembari berbalik dan ingin pergi ke kamarnya.
"Dasar anak gila!"
Papa Ari langsung menyeret tubuh Arthur untuk ikut ke ruang kerjanya, sementara Arthur sendiri memberontak karna tidak ingin ikut ke sana.
"Ternyata tenaga Papa masih kuat juga, ya!"
Arthur kalah, entah karna sedang galau atau apa tetapi tenaga Papanya sangat kuat menyeretnya.
"Duduk!"
Papa Ari mengabaikan semua ucapan anaknya yang gila itu, dia lalu meletakkan sebuah dokumen di atas meja.
"kau tau, semua bisnis Papa itu ada sangkut pautnya dengan Tuan Malik! Bahkan dia yang selama ini memberikan dana disetiap proyek perusahaan kita,"
"terus? Papa mau apa dariku?" tanpa ditanya pun, sebenarnya dia sudah tau ke mana arah pembicaraan Papanya saat ini.
"dia meminta Papa untuk menikahkanmu dengan Gesya, Thur! Jadi Papa-"
"Papa menyetujuinya?"
Papa Ari terdiam, lidahnya terasa keluh untuk menjawab pertanyaan dari putranya itu.
"Papa menjual kebahagiaan anak Papa sendiri hanya karna bisnis?"
Deg, dada Papa Ari terasa seperti sedang ditikam oleh ribuan pisau secara bersamaan.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘