
"aku akan menyetujui pernikahan mereka, kalau Masya sudah tidak menjadi adik Bian!"
"Apa?"
Semua orang merasa terkejut dengan apa yang Ayah Barra katakan, bagaimana caranya Masya tidak lagi menjadi adik Bian sementara mereka kakak adik kandung?
"Apa yang kau katakan, Suamiku? Bagaimana mungkin mereka tidak menjadi kakak adik lagi? Sampai matipun Masya akan tetap menjadi adiknya Bian!"
Kiki dan Lili menyetujui apa yang Ibu mereka ucapkan, mereka tidak habis pikir karna bisa-bisanya Ayah Barra berkata seperti itu.
"Aku tau! Dengan kata lain, sampai kapanpun aku tidak akan setuju!"
Ayah barra pergi ke kamar meninggalkan istri dan anak-anaknya yang menatapnya dengan tajam, dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakan saat ini.
"Bu, memangnya ada hubungan apa Ayah dan Kakaknya Masya?"
Tiba-tiba Lili mengeluarkan suaranya membuat sang Ibu beralih melihat ke arahnya. "Bian itu dulu asisten pribadi Ayah kalian, sekaligus orang yang paling dekat dengannya!"
Lili dan Kiki mengangguk-anggukkan kepala mereka. "Lalu, kenapa Ayah tidak menyukainya, Bu? Apa mereka bertengkar?"
Ibu Tasya mengendikkan bahunya. "Ibu juga tidak tau! Tapi Ibu rasa, Ayah kalian bukan tidak menyukainya. Mungkin dia tidak ingin berhubungan dengan Bian karna laki-laki itu masih terikat dengan elang darah, kalian tau sendiri kalau Bian selalu mencoba untuk mengajak Ayah kalian kembali ke sana!"
Yah, Kiki dan Lili juga tau tentang hal itu. Ayah mereka juga selalu menolak untuk kembali pada kelompok elang darah, kelompok mafia yang selalu membantai orang-orang yang menghancurkan orang lain.
Elang darah sendiri terkenal sejak mereka membongkar kasus narkoba di negara-negara besar, mereka juga menghancurkan para mafia yang merusak hidup masyarakat.
"Tapikan Masya tidak ada huhungannya dengan Bian, Bu! Seharusnya Ayah tidak melakukan ini!"
Kiki mengusap wajahnya dengan kasar, bisa-bisanya dia berada diposisi seperti saat ini.
"Tenanglah, nanti Ibu akan bicara pada Ayahmu! Ibu akan merayu, menggoda dan melakukan segala cara agar dia setuju. Kalau dia tetap menolak, Ibu akan mengancam untuk pergi meninggalkannya!"
Kiki tersenyum lebar sembari memeluk tubuh Ibunya, beberapa kali dia mengecup pipi wanita paruh baya itu karna merasa senang dengan ucapan Ibu Tasya.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Arthur terbangun dari tidurnya saat merasa tubuhnya kembali panas. Dia bergegas turun dari ranjang dan mengambil obat yang ada di atas meja.
"Hah, dasar Gesya si*alan! Aku menderita seperti ini karna ulahya!"
Arthur mengusap wajahnya dengan kasar, pusakanya mulai kembali bangkit membuatnya terpaksa masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Setelah merasa dirinya kembali normal, Arthur segera keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya.
Tiba-tiba, dia mendengar suara adzan berkumandang. Dia yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah mendengar suara adzan subuh merasa berdebar, entah kenapa jantungnya terasa berdetak dengan sangat kencang.
"Apa yang terjadi padaku? Apa setan-setan yang ada dalam tubuhku ini sudah terlalu banyak, sampai-sampai mereka ketakutan saat mendengar suara adzan?"
Yah, Arthur mengakui kalau dia sudah sangat jauh dari sang pencipta. Dia tidak pernah mengerjakan shalat, ataupun membaca al-qur'an padahal waktu kecil dia rajin menjalankan ibadah.
"Ya Allah, apa ini teguran untukku?"
Arthur berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar mandi, dia memutuskan mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat subuh.
Selesai berwudhu, Arthur membentang sajadah di samping ranjang dengan menghadap kiblat. Dia terlihat sangat tampan dengan balutan baju busana muslim yang dibeli oleh Mama Mawar, serta sarung yang melilit dipinggangnya.
Saat sujud terakhir, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi dan tumpah membasahi sajadah. Dadanya terasa panas dan terus berdebar hingga dia kehilangan fokus untuk menyelesaikan shalatnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullah!"
Akhirnya Arthur berhasil kembali fokus dan menyelesaikan ibadahnya, dia kini tertunduk dengan memejamkan kedua matanya yang terus saja menangis.
Ingatan demi ingatan melintas dalam pikiran Arthur, seakan-akan Tuhan sedang mengingatkannya tentang dosa-dosa yang telah dia lakukan.
"Ya Allah, untuk pertama kalinya aku bersimpuh di hadapanMU! Aku tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini, tapi aku merasa kalau Kau sedang menegurku!"
Lagi, air mata tak henti-hentinya mengalir dari kedua mata Arthur sembari menadahkan kedua tangan.
Mama Mawar yang hendak memeriksa kondisi Arthur terpaku diambang pintu saat melihat putranya duduk di atas sajadah, dia semakin terkejut saat mendengar do'a yang Arthur panjatkan pada yang Maha Kuasa.
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih karna Kau telah menegurku, ya Allah! Terima kasih karna Kau masih menyayangiku!"
Arthur kembali bersujud dengan isak tangis yang terdengar lirih, bahkan Mama Mawar tak kuasa menahan air matanya saat melihat semua itu.
Mama Mawar lalu kembali keluar dan menutup pintu kamar Arthur, dia tidak mau kalau anaknya mengetahui keberadaannya di tempat itu.
"Terima kasih karna telah menyadarkan putraku, ya Allah! Sungguh Engkau Maha baik lagi Maha penyayang!"
Mama Mawar lalu kembali ke dalam kamar untuk memberitahukan apa yang sedang terjadi pada suaminya, terlihat Papa Ari masih bergelung di bawah selimut.
"Pa, bangun!"
Mama Mawar terus menggoyang-goyang tubuh suaminya sampai Papa Ari mengerjapkan kedua matanya.
"apa sih, Ma? Apa ini udah siang?"
"Ada yang lebih penting dari itu, Pa! Ini tentang Arthur!"
Papa Ari segera bangun saat mendengar nama Arthur. "Apa obat itu masih mempengaruhinya?" Terlihat jelas kekhawatiran diwajahnya saat ini.
Mama Mawar menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, Pa! Saat ini, Arthur sedang shalat! Dan Mama rasa dia sudah siap lahir dan batin."
Papa Ari mengernyitkan keningnya karna tidak mengerti dengan apa yang istrinya katakan. "Apa maksudnya?"
Mama Mawar berdecak kesal melihat suaminya. "Arthur sudah tobat, Pa! Dan dia siap lahir dan batin untuk menikah!"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘