Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 60. Sungguh Memalukan.


__ADS_3

Setelah memberi balasan pada Malik dan juga putrinya, Ayah Barra dan Bian segera pergi meninggalkan tempat itu. Sebelumnya, Bian telah memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menjemput mereka.


"Tuan, apa anda tidak akan-"


"Hancurkan perusahaan mereka!"


Baru saja Bian akan menanyakan bagaimana nasib perusahaan Malik, tetapi Ayah Barra sudah langsung memberi perintah padanya.


"Baik, Tuan!"


Bian yang biasanya menyerahkan urusan seperti itu pada anak buahnya, kini memutuskan untuk langsung turun tangan menghancurkan perusahaan Malik. Dia merasa kesal karna Malik telah bermain-main dengan perusahaan keluarga Arthur.


"Dengar, aku melakukan semua ini bukan karna ingin kembali bersamamu! Tapi, untuk membantu calon menantuku!"


Ayah Barra kembali mengingatkan Bian bahwa dia tidak akan pernah lagi bergabung dengan kelompok yang telah membesarkan namanya, bahkan dia juga yang membesarkan kelompok tersebut.


"apa artinya Elang Darah tanpa anda, Tuan! Anda adalah jantung kami, kami tidak akan hidup tanpa anda!"


"Ah, dasar kau lebay!"


Sumpah demi apapun, kalau Ayah Barra bukan siapa-siapa, sudah dipastikan kalau Bian akan merobek mulutnya.


"Be-benar, Tuan! Kami, kami ingin anda kembali!"


Tiba-tiba anak buah mereka yang bertugas sebagai supir angkat bicara mewakili teman-temannya yang lain.


"kau juga mau ikut-ikutan?"


"Ti-tidak, Tuan!"


Lelaki itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Bian berdecak kesal, sementara Ayah Barra menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis.


Pada saat yang sama, Arthur sudah sadar dan sedang diperiksa oleh Dokter membuat semua para penunggunya terpaksa keluar ruangan.


"Semoga Arthur baik-baik saja!"


Lili menggenggam tangan Mama Mawar untuk menghilangkan kecemasan wanita paruh baya itu. "Insyaallah Arthur pasti baik-baik saja, Tante!"


Mama mawar mengangguk dan tersenyum, sebenarnya dia masih sedikit terkejut dengan semua yang terjadi saat ini.


Tidak berselang lama, sampailah Papa Ari dan Kiki di tempat itu membuat Mama Mawar dan yang lainnya langsung merapatkan barisan.


"ba-bagimana, Pa? Siapa? siapa yang telah melakukan itu pada Arthur?" tanya Mama Mawar dengan menggebu-gebu.


Papa Ari menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Gesya!"


"Apa?"

__ADS_1


Semua orang terlonjak kaget saat mendengar ucapan Papa Ari, terutama Lili yang tidak menyangka kalau Gesya sampai senekat itu.


"Nah, benarkan! Sudah kuduga kalau wanita itu benar-benar sesuatu, firasatku memang tidak pernah salah! Memang cuma Lili wanita yang baik dan pas untuk jadi menantuku!"


Blush, wajah Lili kembali memerah mendengar ucapan Mama Mawar sementara yang lainnya hanya menggelengkan kepala mereka saja melihat tingkah ajaib wanita paruh baya itu.


"Tapi Ki, ke mana Ayahmu?"


Semua orang baru menyadari kalau cuma Papa Ari dan Kiki saja yang kembali, sementara tadi ada 4 orang yang pergi ke kantor polisi.


"em ... Ayah, Ayah sedang-"


"Sedang bersama Bian?"


Kiki terpaksa menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan sang Ibu, tanpa dijelaskan pun Ibunya itu pasti sudah tau apa yang Ayahnya lakukan saat ini.


"asal jangan sampai mati saja!"


"Siapa yang mati, besan?"


Ternyata gumaman Ibu Tasya terdengar ketelinga Mama Mawar membuat wanita paruh baya itu menjadi heboh.


"Si-siapa yang mati, Bu?"


Lili juga jadi ikutan heboh membuat Ibu Tasya salah tingkah, dia tidak menyangka kalau telinga Mama Mawar sama tajamnya dengan mulutnya.


"Apa? Arthur?"


Sontak semua orang langsung memutar tubuh dan melihat ke arah ruangan Arthur, terlihat Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu.


"Apa, apa anak saya meninggal, Dokter?"


Dokter tersebut mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Mama Mawar, sementara Ibu Tasya merasa bingung dengan kesalah pahaman wanita itu.


"Nyonya, kondisi anak anda baik-baik saja. Dia bahkan sudah sadar sekarang!" jelas Dokter tersebut.


Mama Mawar langsung berlari ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Arthur secara langsung dengan diikuti oleh yang lainnya.


"anakku ...!"


"Hegh!"


Mama Mawar menghamburkan dirinya ke tubuh Arthur sampai membuat Arthur merasa mual, perutnya terasa sakit akibat tekanan dari tubuh sang Mama.


"kau baik-baik saja, Nak?"


"Tidak!"

__ADS_1


Sontak Mama Mawar langsung melepaskan pelukannya saat mendengar jawaban Arthur, sementara yang lainnya baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"aku baru saja dibebaskan oleh malaikat maut, tapi kenapa Mama malah kembali menyerahkanku padanya!" ucap Arthur dengan kesal, kepala dan perutnya masih terasa sakit tetapi Mamanya itu semakin menyiksanya.


"Maksud kamu apa sih? Kau baik-baik sajakan?"


Mama Mawar kembali khawatir, terpaksa Arthur menganggukkan kepalanya karna kasihan melihat wajah khawatir Mamanya itu.


Semua orang bernapas lega saat melihat kondisi Arthur baik-baik saja, termasuk Lili yang tersenyum manis ke arah Arthur.


"Kau, kau di sini?"


Arthur baru sadar kalau ternyata Lili ada di tempat itu, dia merasa malu karna wanita itu pasti tau apa yang terjadi padanya.


"Kau, kau baik-baik sajakan, Arthur?"


Lili berjalan hingga berdiri tepat di samping ranjang Arthur, lelaki itu tersenyum sembari memandangnya dengan hangat.


"Aku baik-baik saja! Tapi, kalau Mamaku memelukku lebih sedetik saja, sudah dipastikan aku akan tewas!"


Semua orang tertawa geli mendengar ucapan Arthur, sementara Mama Mawar berdecak kesal karnanya.


Tidak berselang lama, sampailah Ayah Barra dan Bian di ruangan itu membuat semua mata beralih melihat ke arah mereka.


"Loh, Kak Bian?"


Arthur merasa terkejut melihat Bian ada di tempat itu karna memang dia tidak tau kalau lelaki itu sudah kembali.


Bian mendekati Arthur lalu memukul bahunya pelan. "Gimana? Efek obat perangs*angnya sudah tidak ada lagi kan?


Blush, wajah Arthur memerah saat kembali diingatkan tentang obat terkutuk itu. Tentu dia merasa malu karna hampir dilecehkan oleh seorang perempuan, dan lebih memalukannya lagi saat dia terjebak oleh obat lakn*at itu.


"Gak usah malu, kami tau semuanya kok!"


Tiba-tiba Ayah Barra buka suara yang langsung diangguki oleh semua orang, sungguh, Arthur ingin mati saja saat ini.


"Benar, bahkan Mama yang tadi menepuk-nepuk tit*itmu yang sudah on fire!"


"Mama!"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2