Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 26. Kejujuran Arthur.


__ADS_3

"Papa yang udah enggak Papa!"


Arthur terlonjak kaget saat mendengar suara Zia, begitu juga Lili yang langsung mendorong tubuh lelaki itu.


"Kau, Arthur! Ikut aku sekarang juga!"


Kiki melangkahkan kakinya keluar dari rumah dengan kesal, lelaki itu harus punya alasan tepat kenapa memeluk adiknya, karna kalau tidak, dia akan menghajar wajahnya itu.


"Ibuk tunggu di sini dulu yah, tunggu sampai aku kembali! Pokoknya Ibu gak boleh ke mana-mana!" pesan Arthur.


Arthur merasa trauma, dia lalu menarik tangan Lili dan mengaitkan jari kelingking wanita itu ke jari kelingkingnya sendiri seperti sedang mengikat janji.


"Aku akan kembali!"


Arthur berlari ke luar rumah sebelum semakin membuat lelaki itu murka, walaupun dia tidak merasa takut sedikitpun.


Sementara itu, Lili seperti sedang berada di dunia lain. Semua terlalu mengejutkan baginya, jiwanya terguncang hebat dengan apa yang Arthur lakukan hingga membuatnya tidak bisa bereaksi apa-apa.


"Mama-Mama!"


Lili terjingkat kaget saat Zia menggoyang-goyangkan tubuhnya, dia lalu berjongkok di depan gadis kecil itu.


"ke-kenapa Sayang?"


"Kenapa Mama sama Papa yang udah enggak Papa pelukan? Zia kan juga mau!"


Gadis kecil itu menatap Lili dengan kesal, pipi bulatnya semakin mengembang karna tidak dipeluk oleh Lili dan juga Arthur.


Sementara itu, Lili merasa bingung dengan apa yang Zia ucapkan. Apa maksudnya coba mengatakan Papa yang udah enggak Papa? Sungguh dia tidak mengerti.


"Zia, apa maksudnya Papa yang udah enggak Papa?" tanya Lili, dia menggendong Zia dan membawanya duduk disofa.


"kan Mama bilang enggak boleh panggil Papa, jadi Cia panggil Papa yang udah enggak Papa!" jawab Zia dengan jujur, dia tidak tau harus memanggil Arthur apa selain panggilan Papa.


Lili memijat kepalanya yang terasa pusing, benar juga yang dikatakan putri kecilnya itu. Dia tidak memberitahunya untuk memanggil Arthur dengan sebutan apa.


"Em ... Zia bisa panggil dia Paman! Oke?"


Zia menganggukkan kepalanya, dia lalu turun dari sofa dan berlalu ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Sementara itu, Arthur dan Kiki yang ada diluar rumah terlihat sedang pandang-pandangan. Semoga saja mereka tidak saling jatuh cinta karnanya.


"aku harap kau punya alasan bagus untuk apa yang kau lakukan tadi!" ucap Kiki dengan tajam.


"aku enggak sengaja, refleks karna senang bisa ketemu lagi sama Buk Lili!" jawab Arthur dengan jujur, memang itulah yang sedang dia rasakan.


Kiki terdiam, dia mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Bukannya kemaren-kemaren itu kau juga bertemu dengannya, kenapa harus merasa senang?"


Kiki merasa bingung, kenapa pula Arthur merasa senang karna bisa bertemu dengan Lili sedangkan sebelumnya mereka sudah sering bersama.


"itu karna anda membawa Buk Lili kabur ke sini!"


"Apa?"


Arthur langsung saja menceritakan apa yang terjadi padanya, termasuk saat mencari keberadaan Lili yang hilang bak ditelan bumi.


"kenapa kau harus sibuk-sibuk mencarinya? kalian kan tidak ada hubungan apapun!"

__ADS_1


"iya bener, tapi aku suka padanya!"


"Apa?"


Kiki terlonjak kaget saat mendengar apa yang Arthur katakan, dia bahkan lebih kaget lagi karna lelaki itu mengatakannya dengan santai tanpa beban sama sekali.


"apa kau gila?"


"Aku bilang suka sama Buk Lili, bukan bilang kalau aku gila!"


Arthur merasa tidak terima, enak sekali dia dikatai gila sementara dia masih waras luar dan dalam.


"kau suka sama wanita yang umurnya jauh di atasmu, udah gitu dia itu dosenmu sendirikan. Apa namanya kalau bukan gila?" ucap Kiki dengan menggebu-gebu, dia tidak habis pikir kenapa anak kemaren sore suka dengan adiknya.


Kening Arthur berkerut, dia tidak paham kenapa perasaan sukanya disamakan dengan gila.


"Sudahlah, terserah kau saja mau bagaimana! tapi kalau kau sampai melakukan itu lagi pada adikku, awas kau!"


Kiki tidak mau ambil pusing, terserahlah lelaki itu mau suka atau apa terhadap adiknya, yang jelas adiknya itu tidak mungkin menerima perasaan seorang bocah.


Arthur sendiri juga tidak peduli, terserah Kiki mau mengatainya gila atau tidak, yang jelas seperti itulah perasaannya.


Arthur lalu berjalan mengikuti Kiki yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah, dia melihat Lili sedang duduk diteras seperti sedang menunggunya.


"Buk, aku-"


"apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lili, tatapan tajamnya terasa menusuk hati Arthur.


"Aku ke sini karna mencari Ibuk dan Zia, aku tidak tau kalau kalian sudah pindah ke sini!"


"Untuk apa? untuk apa kau mencari kami?"


"aku ingin meminta maaf soal kejadian tadi siang!" jawab Arthur dengan jujur, dia memang tipe orang yang blak-blakan dan tidak suka basa basi.


Lili diam, dia sedang berpikir kenapa pula Arthur harus susah-susah meminta maaf padanya.


"kena-"


"Mama, Cia ngantuk!"


Tiba-tiba Zia datang dan menghentikan percakapan mereka, melihat gadis kecil itu, Arthur langsung menggendongnya sesaat sebelum Lili menggendong putrinya.


"Zia mau tidur?"


"Iya, Paman!"


Deg, Arthur terdiam saat mendengar panggilan Zia untuknya. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat gadis kecil itu tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Papa.


"Pa-Paman?"


"Zia, sini sama Mama!"


Lili langsung mengambil Zia dari gendongan Arthur dan membawanya masuk ke dalam kamar, sementara Arthur sendiri hanya terpaku melihat kepergian mereka.


"kenapa Zia memanggilku Paman? apa Buk Lili mengatakan sesuatu padanya?"


Arthur mengheningkan cipta sejenak, tapi bukan untuk para pahlawan, tapi untuk memikirkan panggilan Zia padanya.


Kiki yang melihat Arthur diam di depan pintu mendekatinya, dia lalu menepuk bahu lelaki itu membuat Arthur terjingkat kaget.

__ADS_1


"kenapa melamun di sini? belum mau pulang? atau mau tidur di sini?" tanya Kiki, biar bagaimana pun dia tidak bisa kasar dengan Arthur karna lelaki itu sudah banyak membantu adiknya.


"boleh memang, kalau tidur di sini?"


"Enggak!"


"Cih!"


Arthur berdecak kesal, lalu untuk apa lelaki itu bertanya seperti itu padanya kalau tidak diizinkan untuk menginap.


Akhirnya Arthur memutuskan untuk pulang dalam kehampaan, tetapi dia tidak akan menyerah. Dia akan berjuang untuk mendapatkan hati Lili.


Lili yang ada di dalam kamar membuka tirai jendelanya, dia melihat kepergian Arthur sampai mobil lelaki itu tidak terlihat lagi di matanya.


"ada apa denganmu, Arthur? Kenapa kau datang ke sini dan memelukku?"


Lili menggelengkan kepalanya, dia menepis beberapa pikiran bod*oh yang tiba-tiba melintas dalam angannya. Dia lalu memutuskan untuk kembali naik ke ranjang dan mencoba untuk tidur.


Sesampainya Arthur di rumah, ternyata dia sudah ditunggu oleh Mama dan juga Papanya tepat berdiri dipintu rumah mereka.


"mau apa lagi sih Mama dan Papa? Apa gak tau kalau aku sangat lelah!"


Arthur mencoba untuk mengabaikan mereka, dan berjalan lurus masuk ke dalam rumah.


"Kau pikir kami ini patung penjaga pintu!"


Mama Mawar menarik kerah kemeja Arthur membuat anaknya itu tidak bisa lagi melangkahkan kakinya.


"kenapa sih, Ma? Aku lagi capek kali ini!"


"Papa mau bicara denganmu, Arthur!"


Papa Ari melangkahkan kakinya ke arah Sofa diikuti oleh istrinya, terpaksa Arthur juga harus ikut bersama dengan mereka.


"ada apa, Pa?" tanya Arthur setelah mendudukkan pantatnya ke atas sofa.


"apa kau menjalin hubungan dengan putrinya Tuan Malik?"


Arthur melihat Papanya dengan bingung, dia tidak kenal siapa Malik, bahkan dia baru pertama kali mendengar namanya.


"Malik siapa? penjaga pintu neraka?"


Mama Mawar langsung memukul kepala Arthur, dia merasa geram karna anaknya itu tidak bisa diajak untuk bicara serius.


"dia pimpinan dari perusahaan yang sedang bekerja sama dengan Papa! Dia bilang kalau anaknya sedang berpacaran denganmu,"


"apa? lancang sekali! Memang anaknya itu siapa? Lili?"


"bukan! Namanya Gesya, Gesya Latisya,"


"Apa?"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2