Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 22. Curi-curi Pandang.


__ADS_3

Mama Mawar lalu mengajak mereka semua untuk makan malam di rumahnya, karna memang hari sudah mulai petang.


Lili dan Masya membantu Mama Mawar untuk menyiapkan makanan, sementara Papa Ari mengajak Kiki untuk duduk di halaman samping sembari menikmati secangkir kopi.


"tapi ngomong-ngomong, di mana lelaki yang bersama Lili tadi?" tanya Kiki.


"Arthur maksudmu?" Papa Ari menyeruput kopi yang masih mengepul panas.


Kiki menganggukkan kepalanya, sejak dia masuk ke rumah ini, dia tidak melihat keberadaan lelaki itu. Begitu juga dengan anak Lili, padahal dia sudah sangat ingin melihatnya.


"biasalah, palingan juga di kamar!" jawab Papa Ari.


Kiki mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu kembali mengobrol dengan lelaki paruh baya itu mengenai pekerjaan.


Sementara itu, para wanita yang sedang berada di dapur terlihat sedang mengobrol ria sembari menyiapkan segala menu makanan dan minuman untuk makan malam mereka.


Lili dan Mama Mawar bergerak lincah ke sana kemari mempersiapkan semua bahan, sementara Masya hanya bertugas untuk memotong-motong sayuran, karna memang dia tidak pintar memasak.


Satu jam berlalu dengan sangat cepat, semua menu masakan mereka juga sudah selesai untuk dihidangkan.


"Tante mau manggil Om dulu yah, kalian susun saja makanannya!"


Mama Mawar keluar dari dapur untuk memanggil suaminya, karna makan malam sudah bisa dimulai.


"Sepertinya anda sudah terbiasa di sini yah!"


Masya bertanya sembari meletakkan piring ke atas meja, dia melihat sekilas ke arah Lili yang sedang menyusun gelas.


"yah lumayan, sudah beberapa kali aku ke sini. Tapi, apa tidak sebaiknya kita bicara santai saja. Kita juga seumuran loh!" pinta Lili, dia jadi merasa jauh jika bicara formal pada seseorang.


"Tentu saja!"


Masya mengulas senyum tipis, dia lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air dingin.


"Waah, masakannya wangi sekali! Ini pasti buatan Masya kan?"


Papa Ari berjalan ke dapur bersama dengan Mama Mawar dan juga Kiki, terlihat dia tersenyum ke arah Masya yang melihatnya masam.


"Paman, ah!"


Masya cemberut, Pamannya itu sering sekali menggodanya karna tau kalau dia tidak bisa memasak.

__ADS_1


Papa Ari tertawa lebar, dia lalu duduk dikursi sembari mempersilahkan Kiki untuk duduk di sampingnya.


"Oh yah, di mana anakmu Li?"


Kiki melihat ke arah Lili yang duduk tepat di depannya, adiknya itu mendongakkan kepala untuk melihat ke arah sang Kakak.


"Zia lagi sama Papanya!"


Kening Kiki berkerut mendengar jawaban Lili, begitu juga dengan Masya yang melihat Lili dengan senyum mengejek.


"Ma-maksudku sedang bersama Arthur!"


Lili memalingkan wajahnya yang memerah, dia mengutuki mulutnya yang kelepasan bicara.


"Benar! Aku sampai lupa kalau Arthur dan Zia belum ada di sini, pantas sejak tadi seperti ada yang kurang!"


Mama Mawar segera menyuruh Lili untuk memanggil Arthur, dan seperti biasa, wanita itu harus mengikuti apa yang Mama Mawar perintahkan.


Lili masuk ke kamar Arthur untuk yang kedua kalinya, tetapi kali ini Arthur tidak sedang tidur. Lelaki itu sedang bermain ponsel sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang.


"Arthur, makan malam sudah siap!"


Lili berjalan di belakang Arthur yang sedang meneggendong Zia, dia sedikit bingung karna saat ini Arthur tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.


Setelah semua personil lengkap berkumpul, mereka lalu menikmati makanan yang telah tersaji di meja itu.


Obrolah ringan pun terjadi, apalagi saat Arthur dan Masya sudah bertemu. Bak anji*ng dan kuci*ng yang tidak bisa akur.


Lili diam-diam melirik ke arah Arthur, lelaki itu tampak sangat tampan saat tertawa seperti itu. Rahangnya yang tegas, serta janggut yang ditumbuhi bulu-bulu halus tampak sangat mempesona dimatanya.


Lili cepat-cepat menundukkan pandangannya saat Arthur melihat ke arahnya, dia kembali menikmati makanan itu seakan-akan tidak tau kalau Arthur sedang melihatnya.


Arthur sendiri juga kembali menikmati makanan yang entah enak atau tidak dilidahnya, karna saat ini dia sama sekali tidak bisa merasakannya.


"aku memang harus menenangakan diri! bisa-bisanya aku merasa kalau wanita itu sejak tadi melihatku!"


Arthur sudah merencanakan liburan bersama teman-temannya, dia bahkan menyuruh mereka untuk membawa wanita agar pikirannya tidak lagi tertuju pada Lili.


Setelah makan malam selesai, Lili dan Masya pamit pada kedua orangtua Arthur. Begitu juga dengan lelaki itu, Lili mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama ini.


"semua orang juga akan melakukan hal yang sama!"

__ADS_1


itulah jawaban yang Arthur berikan, walaupun tidak seperti biasanya tetapi Lili tidak mau ambil pusing tentang semua itu.


Lili dan Kiki memesan taksi online, begitu juga dengan Masya yang tidak ingin merepotkan Arthur.


"Kenapa? apa kau sudah merindukan lelaki itu?"


Tiba-tiba Kiki bersuara, menghentikan keheningan yang terjadi di dalam mobil itu.


Lili yang tadinya melihat ke arah jendela kini mengalihkan pandangannya, keningnya berkerut membuat alis matanya hampir menyatu.


"apa maksud Kakak?" tanyanya dengan lirih.


Kiki tersenyum, dia masih ingat momen di mana Lili terus mencuri-curi pandang ke arah Arthur. Rona malu yang terpancar diwajah Lili sangat terlihat jelas bahwa dia menyukai lelaki itu.


"Jangan terburu-buru, dan jangan sampai salah lagi! Nikmati saja hidupmu yang sekarang, yakinlah kalau jodoh pasti akan tetap bersatu!"


Walaupun tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Kakaknya, tetapi Lili tetap menganggukkan kepala.


Kiki lalu memutuskan untuk bermalam di rumah Lili sekalian bertanya tentang apa saja yang sudah adiknya itu lakukan. Terutama hubungannya dengan Arthur, karna Kiki tau kalau umur lelaki itu jauh berada di bawah Lili.


Sementara itu, Arthur yang sedang duduk dibalkon kamarnya tampak memandangi bulan yang bersinar terang malam ini.


Sesuatu yang sangat suka dia lakukan, entah kenapa hatinya akan tenang saat memandang sinar rembulan yang seakan merasuk ke dalam jiwanya.


Beberapa puntung rokok yang sudah dia hisap berserakan di bawah kakinya, dia memang tidak terlalu suka merokok. Akan tetapi, disaat hatinya sedang kacau seperti sekarang, hanya rokoklah yang menemaninya.


Mata Arthur terpejam, menikmati sapuan angin yang mulai mengalirkan hawa dingin. Kicauan burung yang setiap malam dia dengar mulai bersuara, walaupun dia tidak tau itu burung siapa dan kenapa berbunyi di malam hari.


Tiba-tiba bayangan Lili kembali melintas, bak seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta karna selalu membayangkan wajah sang kekasih.


"Baiklah, biarkan wajah itu menari-nari dalam anganku! Aku ingin melihat, sampai kapan rasa ini akan bertahan! Apakah akan kian tumbuh, atau akan terkikis oleh waktu!"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2