
Setelah acara malam itu selesai, Lili dan semua keluarganya pamit pulang karna memang jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Kau mau ke mana?"
Arthur yang ikut berjalan di belakang Lili menghentikan langkah kakinya. "Pulang lah, Ma! Memangnya mau ke mana lagi?"
"Mama sama Papa aja masih di sini, terus ngpain kau cepat-cepat pulang?" tanya Mama Mawar.
Arthur mendessah kesal, dia tidak mengerti kenapa Mamanya sibuk sekali padahal dia memang benar-benar ingin pulang karna merasa lelah.
"aku mau istirahat! Lagian kenapa Mama sibuk sekali sih?" cibirnya.
"Mama sama Papa mau membicarakan acara lamaranmu besok!"
Arthur yang sudah kusut berubah jadi sangat ceria, dia lalu kembali duduk di samping sang Papa yang sedang menggelengkan kepala.
"jadi, lamaranku itu besok?" tanya Arthur kembali, dia memang belum sempat membicarakan hal itu karna kesibukannya.
Mama Mawar menganggukkan kepalanya. "Mama sudah bicara sama orangtuanya Lili, dan mereka setuju kalau besok kita akan datang ke sana."
Senyum Arthur semakin mengembang karna sang Mama bergerak dengan cepat, dia sudah tidak sabar untuk menikah dengan Lili.
"Besok kau tidak boleh pergi ke manapun, harus di rumah saja! Paham?"
Arthur mengangguk, dikurung selama seminggu pun dia rela asalkan bisa cepat-cepat menikah dengan wanita itu.
"Cih, takut kali tersaingi!"
Masya yang baru bergabung dengan mereka mencebikkan bibirnya, dia tau kalau Arthur pasti kesal karna dia dan Kiki lebih dulu lamaran ketimbang lelaki itu.
"siapa yang takut? Aku tidak pernah takut! Lagian kalian tidak akan bisa menyaingi kami!"
"Cih!"
Arthur dan masya sama-sama mendengus sebal, sepertinya mulai dari malam ini, mereka akan mengibarkan bendera perang.
"Sudah-sudah! Kalian berdua ini ribut sekali!"
Papa Ari terpaksa harus turun mulut untuk menengani mereka, kemudian dia kembali membicarakan masalah pernikahan kedua anak-anak itu.
"bagaimana kalau pernikahan mereka kita jadikan satu?"
"Apa?"
__ADS_1
Arthur dan Masya terkejut dengan apa yang Mama Mawar katakan, sementara yang lainnya terkejut karna suara teriakan mereka.
"Mama apa-apaan sih, kok pernikahan kami disatuin? Gak sekalian aja kamar kami juga dijadikan satu?"
Plak! Mama Mawar langsung memukul kepala Arthur membuat lelaki itu mengerrang kesakitan, sementara yang lain tertawa melihatnya.
"kalau kamar kalian dijadikan satu, mana bisa kalian anu-anu!" ucap Mama Mawar.
"sebenarnya apa yang dikatakan Mamamu itu benar, Arthur! Jadi kita tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan dua acara pernikahan!" ucap Papa Banu.
Arthur terdiam, dia lalu melirik ke arah Masya yang juga sedang melihatnya. Mereka saling bertatapan seakan-akan sedang bicara dari hati ke hati.
"Gak usah sok pakai suara batin kalian!"
Mama Mawar merasa kesal, bukannya menjawab, Arthur dan Masya malah saling pandang-pandangan.
"Tante, apa Tante enggak merasa lucu kalau kami nikah secara bersamaan?"
Semua orang saling pandang, mereka tidak mengerti dibagian mananya mereka dibilang lucu jika menikah secara bersamaan.
"enggak ada yang lucu! Kaliankan menikah, bukan buat atraksi lumba-lumba!" ucap Mama Mawar.
"yah buat atraksi lumba-lumba juga sih, tapi kan itu malamnya!" sambungnya kemudian.
"Memang akan lebih bagus jika kalian sama-sama saja! Kita akan membuat pesta yang sangat meriah dan juga mewah yang belum pernah diadakan dikota ini!"
Untuk pertama kalinya, Papa Ari setuju dengan ide dari istrinya. Ya hitung-hitung sekalian mengurangi pengeluaran, karna dia akan meminta Kakak iparnya untuk lebih banyak membayar semua biaya. Licik juga ternyata.
"Tapi kan Om, apa kata orang-orang nanti? Pasti mereka bilang kalau keluarga kita tidak mampu, makanya pernikahanku dan Arthur dijadikan satu!"
Pikiran Masya sudah terbang jauh ke angkasa, dia yakin kalau orang-orang julid pasti akan mengatakan hal demikian dipesta mereka nanti.
"Itu tidak akan terjadi, karna kita akan menyumpal mulut mereka dengan pesta yang sangat meriah! Papa akan membuat semua mata terpana, karna belum pernah melihat pesta pernikahan seperti kalian!"
Papa Banu menggebu-gebu, andai dia tau kelicikan adik iparnya itu. Sudah pasti dia akan menggagalkan rencana ini.
"Benar Kak, aku setuju! Nanti Kakak yang urus semua yah, nanti aku bantu sedikit-sedikit!"
Papa Ari mulai melancarkan aksinya yang diangguki oleh Papa Banu, sementara Mama Mawar melihat suaminya dengan curiga. Dia sepertinya paham dengan niat terselebung suaminya itu.
Masya dan Arthur sudah tidak bisa menolak lagi, mereka pasrah dengan keputusan kedua orangtua mereka. Terserahlah mau bagaimana, yang penting mereka menikah dengan orang yang mereka cintai.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Arthur yang masih bergelung di bawah selimut merasa ada yang mengguncang tubuhnya. Perlahan dia mengerjapkan kedua matanya dan melihat sang Mama sudah duduk dipinggir ranjang.
"Bangun kamu!"
Plak! Mama Mawar memukul pantat Arthur membuat lelaki itu menggeram marah, Mamanya memang punya penyakit 4S.
"Apa sih, Ma? Ini kan masih terlalu pagi!"
Arthur menggeliatkan tubuhnya dan tidur miring membelakangi Mama Mawar, sementara wanita paruh baya itu perlahan bangun dan berjalan ke arah lemari pakaiannya.
"Cepat bangun dan mandi, Arthur! Kita harus ke butik sekarang!"
Arthur berdecak kesal. "Kan Mama sendiri yang bilang kalau aku gak boleh keluar rumah!" Dia menatap Mamanya dengan tajam.
"Itukan tadi malam, sekarang enggak! Cepat bangun, hari ini kau harus mengukur tubuhmu!"
Arthur mengernyitkan keningnya, perlahan dia bangun dan duduk dipinggir ranjang.
"untuk apa diukur? Tubuhku sempurna kok!" ucapnya merasa aneh.
"Untuk membuat baju pernikahanmu nanti, Lili juga sudah Mama beritahu. Kiki dan Masya juga sudah bersiap ke butik, sekarang tinggal kau saja yang akan ketinggalan pesawat!"
Mama Mawar mengambil stelan baju dan celana untuk Arthur, tidak lupa dia juga menyiapkan segitiga putranya itu.
"Kenapa masih bengong? Kau mau Mama mandikan di sini?"
Mama Mawar berkacak pinggang, dia geram melihat kelambatan Arthur padahal mereka harus buru-buru sekarang.
"Kok cepat sekali sih Ma, bukannya pernikahannya masih dua minggu lagi?" Arthur merasa sangat bingung sekarang.
"Papa sama Pamanmu ada urusan bisnis yang sangat penting, jadi enggak bisa diminggu itu!"
Arthur menganggukkan kepalanya. "Lalu, kapan aku akan menikah?"
"minggu depan!"
"Hah?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.