Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 62. Persetujuan vs Penolakan.


__ADS_3

"Apa kau mencintai Arthur?"


Deg, jantung Lili terasa berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan yang Ayah Barra lontarkan. Dia lalu tertunduk dengan jemari tangan yang saling bertautan.


Ayah Barra masih diam memperhatikan sang putri, dia tau kalau Lili pasti kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba dia katakan ini.


1 menit, 2 menit, dan di menit ketiga. Ayah Barra sudah tidak bisa menunggu lagi. "Kenapa kau tidak menjawabnya, Li? Apa pertanyaan Ayah itu susah?"


Lili bukannya tidak mau menjawab, hanya saja dia takut kalau jawabannya tidak sesuai dengan apa yang Ayahnya inginkan.


"aku, aku-"


"kau mencintainya atau tidak?" potong Ayah Barra dengan tidak sabar.


Lili memberanikan diri untuk melihat ke arah sang Ayah, dia meyakinkan dirinya sendiri kalau Ayahnya akan suka dengan jawabannya.


Glek. "Bismillah!"


"Aku mencintainya, Ayah!"


Lili menatap takut sang Ayah, walaupun saat ini kepalanya sudah ingin tertunduk. Untuk pertama kalinya, Ayah Barra bertanya seperti ini padanya. Bahkan saat bersama Reza dulu, Ayah Barra malah tampak sangat tidak menyukai lelaki itu.


"Ayah senang mendengarnya!"


Lili sangat terkejut mendengar ucapan sang Ayah, matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka karna tidak menyangka kalau Ayahnya akan mengatakan itu.


"Aku bilang menyukainya, tapi kenapa kau malah memplototiku?"


Lili langsung menghamburkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Ayah Barra, sementara Ayah Barra sendiri membalas pelukan sang putri dengan erat.


"Maafkan Ayah, seharusnya sejak dulu Ayah bertanya bagaimana perasaanmu, hingga kau tidak sampai disakiti oleh lelaki bajing*an itu!"


Ayah Barra merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Lili, seharusnya dia tidak terlalu mengekang putrinya sampai Lili harus bertemu dengan pria yang tidak baik.


"Tidak, Yah! Semua itu salahku karna tidak mendengarkan ucapan Ayah, aku, aku sudah membuat Ayah dan Ibu malu!"


Tangisan yang sejak tadi Lili tahan kini tumpah diseluruh wajahnya, bahkan sampai membasahi kemeja yang Ayah Barra pakai.


Sejak kepergian Lili dari rumah, memang baru sekarang dia bicara empat mata dengan sang Ayah. Ayahnya dulu pernah mengingatkan kalau Reza bukanlah pria yang baik, tetapi Lili menentangnya karna Ayah Barra selalu saja melarangnya untuk dekat dengan seorang lelaki.

__ADS_1


Dia berpikir kalau apa yang Ayah Barra katakan selalu sama dan tanpa alasan, apalagi saat itu dia sedang dibutakan oleh cinta membuatnya nekat untuk menikah siri.


Kedua anak dan Ayah itu seperti saling melepas rindu dan meluapkan segala kesedihan yang terjadi untuk masa lalu. Walaupun Ayah Barra terkesan galak dan kasar, tapi percayalah kalau apa yang dia katakan tidak pernah salah.


Tanpa mereka berdua sadari, saat ini Ibu Tasya dan Kiki sedang mengintip di balik tirai pintu kamar mereka masing-masing. Mereka berdua ikut terharu dengan apa yang Ayah Barra dan Lili lakukan.


"Sudahlah, lupakan semua itu! Besok Ayah akan langsung menyuruh Arthur untuk melamarmu!"


Lili langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ucapan Ayah Barra. "A-apa? Apa, apa Ayah tidak salah?"


Ayah Barra menggelengkan kepalanya. "Untuk apa lagi berlama-lama, kalau kau sudah menikah dengannya, kau bisa langsung memuaskannya kalau dia terkena obat perangs*ang!"


Blush, seketika wajah Lili berubah menjadi merah merona. Kesedihan yang sejak tadi dia rasakan, kini lenyap berganti dengan keterkejutan dan rasa malu.


"ta-tapi, Kakak dan Ibu belum tau!" ucap Lili dengan lirih.


Ayah Barra menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Jangan pedulikan mereka, kita berdua saja sudah cukup!"


"Apa katamu?"


Ibu Tasya yang sejak tadi bersembungi langsung menampakkan diri, disusul dengan Kiki yang mengekor di belakang Ibunya.


"Loh, aku pikir Ibu dan Kakak sudah tidur?"


Ayah Barra tertawa keras saat melihat wajah kesal sang istri, apalagi saat melihat istrinya itu mulai sadar dengan apa yang barusan saja dia lakukan.


"Dasar kau yah!"


Plak, Ibu Tasya langsung memukul bahu suaminya karna baru sadar kalau Ayah Barra berkata seperti itu untuk membuatnya keluar dari tempat persembunyian.


"dasar tukang nguping!" cibir Ayah Barra. "Kau lagi, Kiki! Sejak kapan kau berani mengupingku?"


Kiki membuang wajah sebal melihat tatapan tajam sang Ayah. "Sejak dalam kandungan Ibu, kan Ibu yang ngajarin!"


"Apa?"


Ingin sekali Ayah Barra menarik bibir Kiki yang selalu pintar melawannya, sementara Lili dan Ibunya hanya terkekeh pelan melihat mereka.


"jadi, apa Ayah benar-benar ingin menyuruh Arthur untuk menikah dengan Lili?" tanya Kiki.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau tidak setuju karna tidak mau dilangkahi?"


Ucapan Ayah Barra tepat sasaran membuat Kiki tersenyum lebar, sebenarnya bukan tidak setuju dilangkahi tetapi memang dia ingin segera menikahi Masya.


"Aku juga ingin menikah dengan Masya! jika Ayah dan Ibu setuju, aku akan membicarakan hal ini pada keluarganya."


Lili dan Ibu Tasya tersenyum senang mendengar keinginan Kiki. "Tentu saja, Sayang! Setelah kau dan Masya menikah, kita bisa langsung menikahkan adikmu dan Arthur!"


Kiki mengangguk setuju, begitu juga Lili yang terlihat malu-malu, padahal dalam hatinya sedang bersorak senang.


Tanpa mereka sadari, saat ini Ayah Barra hanya menatap mereka dengan tajam. Entah ekpresi apa yang ada diwajahnya, yang pasti dia tampak tidak sedang baik-baik saja saat ini.


"gimana, Suamiku? Apa besok kita sudah bisa mulai menyiapkan semuanya?" tanya Ibu Tasya dengan sangat antusias.


"tidak!"


"Jadi, kau mau menyiapkannya sekarang?"


Ayah Barra bangkit membuat Kiki dan Lili merasa cemas, sepertinya mereka mulai merasakan gelagat tidak baik dari Ayah mereka itu.


"Aku tidak setuju!"


Deg, benarkan dugaan mereka kalau Ayah Barra tidak setuju, membuat Ibu Tasya langsung menatapnya dengan bingung.


"Kenapa tidak setuju? Kau kan juga sudah menyukai Masya?"


Yah, Ayah Barra mengakui kalau dia sudah bisa menerima Masya. Akan tetapi, saat ini bukan itu masalahnya.


"aku akan menyetujui pernikahan mereka, kalau Masya sudah tidak menjadi adik Bian!"


"Apa?"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


Jangan lupa mampir ke karya terbaru aku yah 😍 dijamin gak kalah seru dari cerita Arthur 🥰


__ADS_2