Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 75. Permintaan Lili.


__ADS_3

Setelah semua pemeriksaan selesai, mereka bergegas pergi dari rumah sakit karna memang kondisi Arthur baik-baik saja.


Arthur dipaksa duduk di atas kursi roda oleh Mama Mawar, padahal kakinya masih bisa digerakkan, apalagi hanya sebelah saja yang terluka.


"Kalau kau tidak mau pakai kursi roda, Mama akan membatalkan pernikahanmu!"


Arthur langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan langsung duduk dikursi roda, dia bahkan langsung menjalankan kursi roda itu keluar dari sana.


Mama Mawar tersenyum puas, sementara yang lainnya hanya tertawa saja melihat tingkah absurd Ibu dan anak itu.


"Tidak, Gesya. Jangan tinggalkan Mama!"


Arthur dan semua orang yang sudah berada di lobi rumah sakit menghentikan langkah kaki mereka saat melihat seorang wanita paruh baya berteriak-teriak, wanita itu menangis kencang sembari mengguncang tubuh seorang wanita yang terbaring di atas banker.


Deg, mata semua orang membulat sempurna saat melihat wanita yang terbaring kaku di atas banker. Mereka tidak menyangka kalau Gesya berada di rumah sakit itu dalam keadaan tidak bernyawa.


Mama Mawar yang merasa sedih sekaligus penasaran mendekati orangtua Gesya, walaupun Papa Ari sudah melarang tetapi dia tetap ngotot ingin mendekati mereka.


"Nonya Malik, ada apa ini?"


Wanita paruh baya itu mendongakkan kepalanya, tetapi dia terus saja menangis dan tidak bisa menjawab pertanyaan Mama Mawar.


"Maaf Nonya, kami harus segera mengotopsi jenazah putri anda! Pihak kepolisian meminta keterangan dari hasil otopsi kecelakaan putri anda!"


Deg, semua orang semakin tercengang saat mendengarnya. Mereka sangat terkejut karna Gesya meninggal akibat kecelakaan.


Ayah Barra mendekati salah tau petugas medis yang membawa jenazah wanita itu, dia bertanya kecelakaan seperti apa yang wanita itu alami.


"saya kurang tau pasti, Tuan! Tapi menurut saksi, mobil yang wanita itu kendarai tiba-tiba melaju kencang ke arah sepasang pria dan wanita tanpa melihat kalau ada truk yang melintas. Hingga tabrakan pun terjadi!"


"di mana kecelakaan itu terjadi?"


"Di jalan Panorama blok A, tepat di depan Butik Maria, Tuan!"


Ayah Barra menganggukkan kepalanya dan kembali ke barisan Arthur, dugaannya tepat bahwa sepasang pria dan wanita yang akan ditabrak oleh wanita itu adalah Arthur dan Lili.


Mereka semua melihat ke arah Ayah Barra seakan-akan bertanya apa yang petugas medis itu katakan tadi, membuatnya menghela napas kasar.


"dia mati karna mobilnya tabrakan dengan truk!"


"Innalillah!"

__ADS_1


Semua orang sedih mendengarnya, terutama Lili yang merasa bersalah dengan wanita itu karna pernah bermasalah dengannya.


"semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya, dan di tempatkan di tempat yang sebaik-baiknya!"


"Tidak akan!"


Tiba-tiba Ayah Barra bersuara dan langsung membantah do'a Lili membuat semua orang melihatnya dengan bingung.


"Dosanya tidak akan diampuni, karna dia berniat untuk menabrakmu dan Arthur. Tetapi Tuhan menolong kalian dengan menghadirkan truk di jalan itu, hingga mobilnya tidak sampai menabrak kalian!"


Semua orang semakin syok saat mendengar ucapan Ayah Barra, Lili bahkan sampai menangis mengetahui fakta ini.


"Benarkah?"


Ayah Barra mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang istri. "Ayo, kita pulang!"


Semua orang hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kematian Gesya, walaupun mereka sangat syok dengan niat buruk wanita itu.


"Kenapa menangis? Dia seperti itu karna perbuatannya sendiri!"


Arthur menggenggam tangan Lili, dia tau kalau wanita itu pasti kepikiran tentang kecelakaan yang dialami Gesya.


"tapi semua itu karna kita, Arthur! Kalau saja aku tidak-"


Lili terdiam, dia tidak bisa membantah ucapan Arthur karna memang apa yang lelaki itu katakan adalah benar.


Arthur lalu mengajak Lili untuk pulang menyusul langkah semua keluarga mereka, dia meminta Lili untuk melupakan semua yang sudah terjadi ini.


Dalam perjalanan, Ayah Barra mendapat pesan dari Bian mengenai kecalakaan yang menimpa Arthur.


"Wanita bernama Gesya yang telah berniat untuk menabrak Arthur dan lili, tetapi mobilnya malah bertabrakan dengan truk sebelum menabrak mereka, Tuan! Tapi Tuan tenang saja, wanita itu sudah mati ditempat akibat ulahnya sendiri!"


Ayah Barra tersenyum sinis, Bian lama sekali memberinya kabar sampai dia sudah tau tentang apa yang terjadi


"Telat!"


Itulah yang Ayah Barra kirim sebagai balasan, dia lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Sesampainya di rumah, Lili langsung mencecar Ayahnya dengan banyak pertanyaan tentang apa yang sudah Ayahnya lakukan terhadap Gesya.


"aku tidak melakukan apapun!" bantah Ayah Barra.

__ADS_1


"Tidak mungkin Ayah tidak melakukan apapun pada mereka, perusahaan mereka hancur sejak bertemu dengan Ayah!"


Ayah Barra diam, tentu saja dia melakukan sesuatu tetapi dia enggan untuk mengatakannya pada Lili.


"Apapun itu, aku mohon kembalikan semuanya, Yah! Kembalikan ketentraman dan kebahagiaan keluarganya, kedua orangtuanya pasti sangat hancur saat ini!"


Lili memegang kedua tangan Ayah Barra dengan terus memohon, dia ingin Ayahnya mengembalikan semua milik keluarga Gesya walaupun saat ini wanita itu sudah meninggal.


"Aku akan mengatakannya pada Bian!"


Ayah Barra mengalah, dia akan mengatakan pada Bian untuk mengurus perusahaan keluarga Gesya agar bisa kembali bangkit. Setidaknya perusahaan itu tidak sampai tutup, dan masih bisa beroperasi.


Sementara itu, Arthur yang sedang berbaring di atas ranjang menghubungi semua sahabat-sahabatnya. Sudah seabad dia tidak bertemu dengan mereka, ternyata rasanya rindu juga.


"Ada angin apa Lo, hubungi kami?"


Saat ini, Arthur sedang video call dengan 4 orang temannya. "Kangen juga gue sama Lu pada!"


"Cih!"


Teman-teman Arthur berdecih, lalu kemudian mereka tertawa dan saling mengobrol sesuatu yang sama sekali tidak berfaedah.


"Aku mau nikah minggu depan!"


Tiba-tiba Arthur langsung memberitahukan tujuannya menelpon, selain karna rindu, dia juga ingin mengundang mereka secara langsung.


"udah berapa bulan tuh cewek, sampek-sampek minggu depan kalian nikah?"


"Matamu itu!"


Arthur mendengus sebal, sementara teman-temannya hanya tertawa saja melihat kekesalannya itu. Dia lalu menceritakan tentang hubungannya dengan Lili yang sebenarnya semua orang sudah tau, juga tentang pernikahannya yang cepat itu.


"Pokoknya kalian harus datang!"


Arthur lalu mematikan panggilan itu setelah teman-temannya mengatakan akan datang kepesta pernikahannya, kemudian dia meletakkan ponselnya dan kembali memandangi langit-langit kamar.


"Seminggu lagi aku sudah menjadi seorang suami, bahkan aku juga langsung menjadi seorang Ayah! Sungguh Takdir yang tidak terduga sama sekali!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2