
Sementara itu, Lili yang sudah berada di ruangannya langsung melemparkan berkas yang ada di tangannya ke atas meja. Dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang mulai merasukinya.
"Astaghfirullahal'adzim!"
Lili berusaha untuk meredam kemaharannya, dia lalu beranjak ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu agar hatinya kembali tenang.
Pada saat yang sama, Arthur sudah berdiri di depan ruangan Lili. Dia terlihat ragu untuk mengetuk pintu ruangan itu, tetapi jika dia tidak menjelaskannya sekarang, maka Lili pasti akan berpikir macam-macam tentangnya.
Tok, tok, tok! "Buk, ini Arthur! Apa aku boleh masuk?"
Arthur menunggu jawaban dari dalam, tetapi nihil, tidak ada sahutan apapun membuat Arthur langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Buk!"
Arthur mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan, tetapi dia tetap tidak menemukan keberadaan wanita itu.
Klek, tiba-tiba Arthur mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Tidak berselang lama, keluarlah wanita yang sedang dia cari-cari dari dalam sana.
Arthur terpaku, baru kali ini dia melihat Lili tidak memakai hijab. Rambut hitam dan panjangnya membuat wajah Lili bersinar indah, hingga Arthur tidak kuasa untuk mengedipkan matanya.
Lili terkejut setengah mati saat melihat Arthur berdiri di hadapannya, dia berlari ke arah sofa untuk mengambil hijabnya yang tergeletak di sana.
"Ap-apa yang kau lakukan di sini?"
Suara Lili menyadarkan Arthur, refleks dia mengusap mulutnya yang mungkin saja mengeluarkan air liur.
"aku, aku ingin menjelaskan sesuatu pada Ibuk!"
"Tidak! Aku sedang sibuk, lebih baik kau keluar sekarang juga dari ruanganku!"
Itulah Lili, dia selalu bicara non-formal pada Arthur sedangkan dengan mahasiswa yang lain dia selalu bicara formal.
"buk, aku tidak ada hubungan apapun dengan Gesya! Dan yang tadi itu-"
"aku tidak peduli, Arthur! Terserah kau mau melakukan apa, yang jelas keluar dari ruanganku sekarang juga!" potong Lili dengan penuh penekanan, entah kenapa hatinya malah semakin panas melihat lelaki itu.
Arthur terdiam, matanya masih memandang Lili lekat-lekat. Dia lalu tersenyum tipis saat menyadari sesuatu.
"lalu, kenapa Ibuk marah?" tanyanya sembari menaikkan sebelah alisnya.
Lili terdiam, dia sendiri tidak tau kenapa dia bisa meledak-ledak seperti itu. "I-itu karna kalian melakukan hal yang tidak pantas di sini!" Yah, dia yakin kalau itulah yang menyebabkan dia marah.
"Benarkah?"
Arthur melangkahkan kakinya membuat Lili kaget dan memundurkan tubuhnya sampai punggungnya membentur dinding.
"Ma-mau apa kau?"
Arthur terus maju sampai berada sangat dekat dengan Lili, dia ingin sekali membungkam mulut wanita itu dengan mulutnya sendiri tetapi dia tidak mungkin melakukan itu.
"apa Ibuk sama sekali tidak cemburu saat melihatku dengannya?" tanyanya dengan lirih, suaranya mampu membuat hati Lili berdesir.
"ti-tidak! Sekarang cepat per-"
__ADS_1
"Apa aku sama sekali tidak berarti dihati Ibuk?"
Lili semakin terpojok, entah kenapa saat ini lidahnya terasa kaku untuk membantah ucapan lelaki itu.
"Aku menyukai Ibuk, jelas Ibuk sudah tau mengenai hal itu. Lalu, apa Ibuk sama sekali tidak menyukaiku?"
Lili terpaku, ucapan Arthur berhasil membuatnya bungkam. Tidak menampik kalau perasaannya kini mulai dipenuhi oleh lelaki itu, tetapi dia berusaha keras untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Lili mendorong tubuh Arthur hingga sedikit menjauh darinya. "Aku tidak tau kenapa kau bertanya seperti itu, tapi, aku punya jawaban kalau memang kau sangat penasaran!"
Tidak, dia sama sekali tidak penasaran. Arthur tau kalau wanita itu pasti akan mengatakan kalau dia tidak menyukainya, dan ucapan seperti itu pasti akan menggores hatinya.
"Sekarang aku tidak penasaran, tapi aku harap, Ibuk bisa menerima apa yang aku berikan!"
Arthur berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu, sementara Lili merasa bingung dengan reaksi yang Arthur berikan.
Setelah kakinya keluar dari ruangan, Arthur langsung membentur-benturkan kepalanya ke dinding dengan sangat frustasi.
"Dasar bodoh!"
Arthur merasa harga dirinya terlukai, penolakan yang Lili berikan terasa mencabik-cabik pesonanya selama ini.
"Sudahlah, lupakan! Lihat saja, aku akan membuat Buk Lili bertekuk lutut dikakiku!"
Benar, seperti itulah cara untuk membalas harga dirinya yang terluka. Dia yang selama ini selalu diidam-idamkan oleh semua wanita, kini harus mengemis cinta dari wanita itu.
Arthur lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, dia melangkah gontai ke arah mobilnya yang sedang terparkir di bawah pohon.
Tiba-tiba, dia merasa ingin berbagi cerita dengan seseorang. Dia harus meminta pendapat dari orang lain mengenai kisah cintanya yang sangat mengenaskan, dia lalu semakin menambah kecepatan mobilnya dengan semangat membara.
Tidak berselang lama, sampailah dia diparkiran tempat Masya bekerja. Yah, ternyata dia ingin menemui Masya dan bercerita segalanya.
Dengan langkah cepat Arthur memasuki kantor itu dan berlalu mencari ruangan Masya.
"Kak, ruangan Kak Masya mana ya?"
Kiki yang sedang sibuk bekerja mendongakkan kepalanya, keningnya berkerut saat melihat Arthur ada di tempat itu.
"kau? Apa yang kau lakukan di sini?"
"aku ingin menemui Kak Masya, ruangannya di mana?" tanya Arthur kembali, sembari memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja.
"Ruangannya ada di ujung lorong belok kiri, tapi dia sedang rapat!"
Arthur langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan yang disebut oleh Kiki tadi, sementara Kiki menatapnya dengan kesal, bukannya berterima kasih tapi lelaki itu malah langsung pergi meninggalkannya.
"Tapi, dia tidak akan melakukan apapun kan, di sana?"
Kiki merasa khawatir, tapi dia tidak mau ambil pusing dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ruangan rapat dikantor itu sudah terbuka, para peserta rapat terlihat berkeluaran dari sana, termasuk Masya yang berjalan gontai menuju ruangannya.
Brak! Masya membuka pintu ruangannya dan berjalan ke arah sofa, dia merasa sangat lelah dengan segudang pekerjaan yang sedang dia kerjakan.
__ADS_1
"Sudah selesai rapat, Kak?"
Masya langsung membuka kedua matanya yang sempat terpejam, dia lalu terlonjak kaget saat melihat wajah Arthur tepat berada di depan wajahnya sendiri.
"memang anak setan, Lu! Ngapain lu di sini?" teriak Masya, jantungnya berdebar keras karna terkejut dengan apa yang Arthur lakukan.
"Gegayaan banget pakek lu gue end!"
Arthur mendudukkan pantatnya disofa yang ada di belakangnya dengan santai, sementara Masya menatap geram ke arahnya.
Untung saja Arthur itu adiknya, kalau tidak sudah patah lehernya menjadi lima bagian.
"Hah!"
Arthur menghela napas berat, dia menyandarkan kepalanya sembari memperhatikan langit-langit ruangan itu.
Masya menatapnya dengan bingung, entah apa yang sedang terjadi dengan lelaki itu, dan yang lebih membuatnya bingung adalah kedatangannya ke kantor ini. Padahal biasanya Arthur selalu menelponnya jika ingin bertemu.
"kau kenapa? Enggak dikasi uang jajan sama Paman?"
"ck! Memangnya aku anak kecil, apa!" ucapnya sebal, bisa-bisanya Masya berkata seperti itu.
"terus apa dong? Kau gak bisa PMS?"
"Lama-lama gue gampar juga, lo!"
Masya tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Arthur, ada untungnya juga lelaki itu datang disaat dia sedang pusing seperti ini.
"makanya ngomong! Emangnya aku mbah dukun, yang bisa tau apa yang kau pikirkan!" cibir Masya, dia lalu bangkit untuk mengambil minuman di dalam kulkas mininya.
Arthur terlihat ragu untuk menceritakannya, Masya pasti akan mengejeknya seumur hidup kalau tau dia mencintai dan mengejar-ngejar Lili.
"Em ... apa, apa Kakak pernah jatuh cinta sama seorang duda?"
Byur! Air yang baru masuk dalam mulut Masya langsung keluar saat mendengar ucapan Arthur, dia bahkan sampai terbatuk-batuk karnanya.
"apa, apa kau gila?" teriaknya kemudian sembari mengusap-usap tenggorokannya yang terasa sakit.
"gila? Memangnya apa yang salah?"
"Kau benar-benar sudah tidak waras! bagaimana mungkin kau menyukai seorang duda?"
Suara teriakan Masya menggema diseluruh penjuru kantor menyebabkan semua penghuni tempat itu berlari untuk melihatnya.
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1