
"aku akan menganggap ungkapan cintamu tadi tidak ada!"
"Apa?"
Kiki merasa tidak terima, sudah susah payah dia memberanikan diri untuk mengatakannya tapi Masya malah berkata seperti itu.
"lupakan! Aku mau tidur!"
"Ap-apa? Bagaimana mungkin-"
Kiki tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Lili melihatnya dengan tajam, adiknya itu lalu memberikan isyarat padanya untuk tidak lagi membahas masalah itu.
"ck ck ck! Haduuh, aku jadi lemas!"
"Arthur!"
Arthur terkekeh pelan saat melihat raut wajah Lili, dia lalu mengedipkan sebelah matanya membuat wanita itu memalingkan wajah ke arah jalanan.
Akhirnya suasana di dalam mobil itu jadi sunyi, apalagi sempat terjadi gencatan senjata antara Kiki dan juga Masya.
Wanita itu terus membelakangi Kiki dengan kesal, bisa-bisanya lelaki itu mengungkapkan cinta dalam perjalanan seperti ini, yah walaupun dia sendiri yang menanyakan hal itu.
Beberapa jam kemudian, mobil yang Arthur kendarai sudah memasuki sebuah desa yang masih sangat sejuk dan asri. Pemandangan yang disuguhkan sangat cantik dan membuat decak kagum dimata Arthur.
"Orangtua kalian tinggal di sini?"
Sekilas Arthur melihat ke arah Lili yang tampak sedang gelisah, wanita itu lalu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
"ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Arthur sembari tetap memperhatikan jalanan.
"hah! Aku hanya sedang merindukan Zia,"
Yah, mereka memutuskan untuk tidak mengajak Zia karna kedua orangtua Lili tidak tau kalau dia sudah punya anak. Dia takut kalau kedua orangtuanya tidak akan menerima kehadiran putrinya.
"Semua pasti baik-baik saja, lagipula Zia pasti sedang bermain dengan Mama!"
Lili tersenyum mendengar ucapan Arthur, dia juga tau kalau anaknya pasti suka bermain dengan kedua orangtua lelaki itu.
"Hoam! Kita sudah sampai?"
Kiki memperhatikan jalanan yang sedang mereka lewati, karna sunyinya suasana di dalam mobil, dia sampai tertidur dan baru sadar kalau mereka sudah hampir sampai.
"Berhenti!"
Arthur langsung menginjak rem saat mendengar suara Kiki, sementara Masya yang sedang tidur langsung terkejut dan refleks mencengkram kuat paha Kiki.
__ADS_1
"ada apa? Kenapa?" tanyanya kebingungan, dia lalu melihat ke sekeliling tempat mereka berada saat ini.
"Nanyak yah nanyak, tapi tangannya tolong dikondisikan, Masya!"
Masya langsung menarik tangannya yang berada di atas paha Kiki, wajahnya merah padam karna merasa malu dengan lelaki itu.
"untung enggak salah pegang, kalau kepegang yang di tengah, apa enggak remuk!" gerutu Kiki yang masih bisa didengar oleh Masya.
"Laki-laki gila! Kan gak mungkin juga, aku meremukkan dua bijinya!" Masya merasa malu sekaligus kesal.
"Dek, kita tukeran tempat duduk! Nanti payah di liat Ayah."
Lili menganggukkan kepalanya, mereka lalu kembali bertukar tempat duduk membuat Masya bernapas lega.
"rumah paling ujung yah, Thur! Yang banyak pohon mangganya," ucap Kiki memberitahu dan diangguki oleh Arthur.
Tidak berselang lama, sampailah mobil mereka ke halaman luas sebuah rumah yang tampak indah dengan bunga-bunga yang menghiasinya.
"ayo, kita sudah sampai!"
"Kak!"
Kiki tidak jadi membuka pintu saat mendengar panggilan adiknya, dia lalu mengusap puncak kepala Lili mencoba untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Ayah dan Ibu pasti sudah melupakan semua itu!"
Sementara itu, Masya dan Arthur saling pandang. Mereka sedang menerka-nerka sekejam apa Ayah Lili dan Kiki hingga sejak tadi mereka merasa tidak nyaman.
Seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di teras rumah langsung bangkit saat melihat Kiki, dia lalu memanggil suaminya untuk menyambut kedatangan mereka.
"assalamu'alaikum, Bu! Bagaimana kabar Ibu?"
"Wa'alaikum salam, Nak! Ibu baik, dan sekarang bertambah baik karna kau datang.
Kiki memeluk tubuh sang Ibu untuk menyalurkan segala kerinduan, sementara Lili masih diam di belakang Arthur dengan sesenggukan.
"Kiki? Kau sudah pulang?"
Tiba-tiba suara baritone seseorang mengalihkan perhatian mereka, terlihat lelaki paruh baya yang masih sangat gagah berjalan keluar dari dalam rumah.
"bagaimana kabar Ayah? Ayah sehatkan?" tanya Kiki sembari menyalim tangan sang Ayah.
"Ayah baik, tapi sekarang menjadi tidak baik saat kau datang dengan orang-orang asing ini!"
Glek, Arthur dan Masya merasa takut dan gugup saat ini. Wajah lelaki paruh baya itu terlihat sangat seram dengan tubuh kekar bak binaragawan.
__ADS_1
"me-mereka ini adalah sahabat baikku, Yah! Jadi aku mengajak mereka ke sini," jawab Kiki.
"Lalu, untuk apa adikmu bersembunyi di balik tubuh laki-laki itu? Apa dia tidak ingin melihat kedua orangtuanya?"
Semua orang terkejut saat mendengar ucapan Ayah Kiki, begitu juga dengan Lili yang langsung menampakkan dirinya di hadapan kedua orangtuanya.
"Ya Allah, Lili?"
Wanita paruh baya yang merupakan Ibu Lili langsung memeluk Lili dengan erat, sudah bertahun-tahun dia tidak pernah bertemu dengan putrinya itu.
"Kau ke mana saja, Nak! Ibu sangat merindukanmu!"
Lili membalas pelukan Ibunya dengan tak kalah erat, tangisan yang sejak tadi sudah menetes, kini semakin menjadi sampai terisak lirih.
Setelah agak tenang, Lili mulai melihat ke arah Ayahnya yang hanya diam sembari memandangnya dengan tajam.
"A-Ayah, aku, aku-"
"Kenapa kau pulang ke sini lagi?"
Hening, tiba-tiba suara dari lelaki paruh baya itu terasa menusuk hati semua orang.
Lili tertunduk dengan jemari tangan yang saling bertautan. "Maafkan aku, Yah! Maafkan aku."
Ayah Lili lalu mendekatinya membuat Arthur merasa tidak tenang, dia sedikit menggeser tubuhnya agar dia bisa melindungi Lili yang mungkin saja akan disakiti oleh orangtuanya.
"Maaf? Kau bilang maaf setelah pergi meninggalkan rumah?"
Lili kembali diam, dia terus menundukkan kepalanya dengan penyesalan yang mendalam.
"Kau bahkan tidak memikirkan Ibumu! Apa kau tidak tau, kalau Ibumu hampir meninggalkan Ayah saat tau kau pergi?"
Lili mendongakkan kepalanya, dia melihat ke arah sang Ibu dengan sedih dan penuh sesal.
"Dasar bodo*h!"
Lelaki paruh baya itu lalu menarik tangan Lili dan membawanya masuk dalam pelukannya, sementara Arthur juga mengangkat tangan karna berpikir kalau ayahnya Lili akan memukulnya.
"Ada apa dengan Arthur? Apa dia mengangkat tangan pertanda kalau sudah menyerah?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘