
"Papa menjual kebahagiaan anak Papa sendiri, hanya karna bisnis?"
Ucapan Arthur terasa seperti pisau yang menusuk jantung Papa Ari hingga dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Bukan seperti itu, Arthur!"
Arthur dan Papa Ari mengalihkan pandangan ke arah pintu, terlihat Mama Mawar berjalan masuk dengan membawa kopi untuk mereka.
"kalau tidak seperti itu, lalu apa lagi?" tanya Arthur dengan geram.
"Perusahaan kita menjadi taruhannya, Pak Malik mengancam akan menarik seluruh dana yang sudah dia berikan jika kau tidak menikah dengan putrinya!"
"Apa?"
Arthur sampai berdiri saat mendengar apa yang Mama Mawar katakan, dia tidak menyangka dijaman sekarang masih ada yang memaksa atau mengancam seperti itu.
"memang apa yang salah dengan Gesya, Thur? Dia cantik, lebih cantik dari Lili malah. Berpendidikan, keluarganya juga baik-"
"baik? Tidak ada keluarga baik yang mengancam orang lain seperti itu, Pa! Dari situ aja, kita sudah bisa menilai bagaimana egoisnya mereka!"
Mama Mawar berdecak kagum dengan apa yang Arthur katakan, untuk pertama kalinya dia bangga mempunyai anak seperti Arthur.
"terus kita harus bagaimana? Kalau Pak Malik menarik semua dananya, bisa dipastikan kita gulung tikar, Arthur!"
Arthur terdiam, dia sedang berpikir bagaimana caranya keluar dari masalah ini.
"Paman! Yah, Paman. Kita kan bisa minta tolong sama Paman!"
Papa Ari menggelengkan kepalanya. "Kita tidak bisa melibatkan Pamanmu, karna kalau sampai Pak Malik tau, dia pasti akan mencoba untuk meruntuhkan perusahaan Paman juga."
"Cih, manusia terkutuk!"
Arthur merasa kesal, dia harus mencari cara agar keluar dari keadaan ini. Apa memang dia harus menikah dengan Gesya? Membayangkannya saja dia tidak sanggup, padahal dulu dia sempat menjalin hubungan dengan wanita itu.
"Sudahlah, kita pikirkan ini baik-baik. Kalau memang Arthur tidak mau, yah kita harus siap untuk semua kemungkinan yang terjadi!"
Papa Ari mendessah pasrah, bukan hanya perusahaannya saja yang akan gulur tikar, tapi dia juga harus membayar sejumlah hutang.
Arthur terdiam, dia lalu memutuskan kalau mulai besok dia akan datang ke perusahaan karna memang selama ini dia tidak pernah membantu orangtuanya.
Keesokan paginya, Arthur bersiap untuk ikut Papanya ke perusahaan. Setidaknya dia harus melihat sejauh apa pengaruh Pak Malik dalam perusahaan keluarganya.
"Kau serius, mau ke perusahaan?"
Rupanya Masya berkunjung ke rumah Arthur sebelum berangkat kerja, dia lupa kalau kemarin lelaki itu ingin membicarakan hal penting dengannya.
__ADS_1
"iya," jawab Arthur singkat sembari menikmati sarapannya.
"kenapa? Bukannya kau paling malas kalau disuruh ke perusahaan?"
Jangankan Masya, Arthur sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba ingin ke sana. Mungkin dia merasa sedikit kasihan dengan kedua orangtuanya.
"Tapi Arthur, kudengar dari Papa kalau katanya kau mau menikah dengan putri dari Tuan Malik. Apa itu benar?"
Tadi malam Masya mendengar dari ayahnya jika Pak Malik mengatakan kalau akan menikahkan putrinya dengan anak Papa Ari.
"Cih, tua bangka itu!" Arthur merasa kesal.
Kemudian dia menceritakan semuanya pada Masya tentang paksaan dari keluarga Pak Malik, dia juga menceritakan kondisi perusahaanya saat ini.
"Gila! Masih ada aja orang kayak gitu, heran!"
Masya terkejut, dia tidak menyangka kalau Arthur menjadi korban pemaksaan pernikahan.
"Tapi, bukannya dulu kau pernah berpacaran dengan anaknya Pak Malik itu?"
Arthur menganggukkan kepalanya. "Dulu, setelah itu kami sekedar dekat, dan akhirnya jadi seperti ini."
"Terus kenapa kau tidak mau menikah dengannya, yah anggap saja kau sudah bertemu jodohmu!"
"Aku tidak bisa, aku mencintai wanita lain!"
Mama Mawar yang baru masuk ke dapur langsung menjerit senang, dia langsung duduk dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Arthur.
"Jatuh cinta pada siapa? Lili?"
Yah, tebakan Mama Mawar tepat sasaran. Sepertinya Mama Mawar sudah cinta mati pada wanita itu.
"serius? Kau jatuh cinta sama Lili? Lili adiknya Kiki?" tanya Masya dengan tidak percaya membuat Arthur merasa kesal.
"Gila, Ini benar-benar gila! Pantas kemaren kau membahas tentang duda, rupanya kau sudah masuk dalam perangkap janda! Wkwkwk."
Masya tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Arthur, begitu juga dengan Mama Mawar yang sedang sujud syukur karna anaknya sudah jatuh cinta pada Lili.
"terus bagaimana? Apa saat ini kalian sedang pacaran?"
"ck, dia tidak menyukaiku! Dia bahkan menolakku sebelum aku mengatakan cinta!"
"Hah? Apa- hahahaha!"
Arthur benar-benar kesal karna melihat Masya dan Mamanya malah tertawa di atas penderitaannya, ingin sekali dia menyumpal mulut mereka dengan air garam.
__ADS_1
"ya Tuhan, Arthur! Duuh, perutku sampai sakit!" ucap Masya sembari memegangi perutnya yang terasa kram.
"Sudahlah, percuma aku ngomong sama kalian!"
Arthur bangun dan menyeret kakinya keluar rumah, lebih baik dia segera ke perusahaan sebelum mood nya benar-benar rusak.
"ya Allah, Tante! Aku tidak menyangka kalau playboy itu sekarang kena batunya!" seru Masya saat Arthur sudah pergi dari dapur.
"do'a Tante terkabul, Masya! setiap malam Tante selalu berdo'a supaya Arthur jatuh cinta sama Lili," ucap Mama Mawar.
"Tapi Tante, kenapa sepertinya Tante sangat menyukai Lili?"
Mama Mawar tersenyum, mungkin bukan hanya Masya saja yang penasaran, tetapi para pembaca juga jauh lebih penasaran. ðŸ¤
"Sifat dan karakternya membuat Tante sangat menyukainya, sifatnya lembut dan santun walaupun dia terlihat galak. Karakternya juga kuat, emosinya tidak meledak-ledak, dan Tante yakin kalau dia bisa merawat dan menghadapi sifat Arthur!"
Yah, Masya juga mengakui itu. Masya bahkan kagum dengan kekuatan yang wanita itu miliki, bukan kuat dalam artian seperti super hero. Akan tetapi, kuat dalam menghadapi dunia yang kejam ini.
Sementara itu, Lili yang sedang menjadi bahan perbincangan berkali-kali bersin membuatnya tidak bisa mengajar dengan baik.
Dia lalu menutup pertemuannya dengan para Mahasiswa dan berlalu keluar dari ruang kelas.
"Apa aku mau flu, ya? Kok dari tadi bersin terus?"
Lili yang sedang berjalan menuju ruangannya terpaksa menghentikan langkah kakinya karna ada beberapa wanita yang menghadang jalannya.
"Maaf, apa kalian bisa sedikit menyingkir?"
"ooh jadi dosen ini, yang katanya menggoda pacarmu?" tiba-tiba salah satu dari wanita itu membuka suara sembari memperhatikan Lili dari atas sampai bawa.
"Benar! Dia sudah menggoda dan merebut Arthur dariku, benarkan?"
Gesya menatapnya tajam, dan Lili ingat betul siapa wanita yang sedang menantangnya saat ini.
"kenapa diam? Betulkan, ucapanku?"
"Kamu nanyak?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘