
"benarkah? Ambil saja kalau kau bisa!" tantang Ayah Barra, dia berdiri sembari bertolak pinggang di hadapan para penjahat itu.
"bu-bukannya dia mirip dengan pimpinan elang darah?"
"Aarrggh ... Persetan!"
Salah satu dari mereka langsung menyerang Ayah Barra yang tentu saja membuat yang lainnya juga ikut menyerang.
Kiki menarik Masya ke pinggir mobil agar tidak terkena perkelahian itu, begitu juga dengan Lili yang mendorong tubuh Arthur sampai lelaki itu hampir masuk ke dalam sawah.
"Lili!"
Arthur yang berniat untuk ikut bergabung dengan perkelahian itu, mendadak jadi kaku saat melihat satu keluarga menyerang penjahat itu dengan membabi-buta, matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka saat melihat Lili menghajar para lelaki itu.
"A-a-apakah dia Lili?"
Arthur sangat syok melihat semua itu, Lili dan Ibu Tasya bahkan terlihat lebih ganas dibandingkan dengan Kiki.
"Thur, sepertinya mereka keluarga super hero deh!"
"Benar, Kak! Lili saja sudah berubah menjadi wonder woman!"
Cukup 10 menit saja, Lili dan keluarganya berhasil menumbangkan para penjahat itu. Mereka terkapar tidak berdaya di atas tanah, kemudian Ayah Barra membuka semua topeng yang ada di wajah mereka.
"Cih! Pantas tidak keras sama sekali, rupanya cuma preman jalanan!"
Ayah Barra kembali melemparkan topeng yang ada ditangannya ke tubuh salah satu penjahat itu.
"Arthur!"
"Y-ya?"
Arthur terlonjak kaget saat Lili menepuk bahunya, dia baru sadar kalau perkelahian itu ternyata sudah berakhir.
"Ka-kau tidak papa?"
Lili menganggukkan kepalanya. "Maaf, kau pasti terkejut yah?"
"Tidak!"
Arthur mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat, dia hanya sedikit syok karna baru tau kalau Lili bisa berkelahi.
"lihat dirimu! Yang lain pada menghajar penjahat, kau cuma bisa melihat saja!" cibir Ayah Barra.
"Aku bukannya tidak mau membantu, tapi aku terlalu syok karna kalian sudah seperti keluarga super hero!"
Ibu Tasya terkikik geli mendengar ucapan Arthur, begitu juga dengan Ayah Barra yang sekuat tenaga sedang menahan tawanya.
"beraninya kau menyebut kami keluarga super hero!" bentak Ayah Barra, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan bocah itu.
__ADS_1
"Ma-maaf, Yah! Tapi kalian sangat keren dan hebat!"
Arthur memberi dua jempol untuk Ayah Barra membuat lelaki paruh baya itu membusungkan dada, tentu dia dan keluarganya sangat keren dan juga hebat.
"tapi tunggu, kenapa dia memanggilku Ayah?"
Ayah Barra baru sadar dengan panggilan yang Arthur ucapkan, tetapi lupakanlah soal itu. Dia sudah merasa senang karna Arthur mengakui kehebatannya.
Setelah semuanya selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota sebelah dengan meninggalkan para penjahat itu begitu saja. Ayah Barra mengatakan kalau mereka tidak perlu mengurus para penjahat itu.
Beberapa jam telah berlalu, kini mereka semua sudah sampai di rumah Kiki. Dia segera mempersilahkan semua orang untuk masuk terutama kedua orangtuanya.
"di mana cucuku?" tanya Ibu Tasya tiba-tiba saat melihat potret Zia di dinding rumah Kiki.
"dia sedang berada di rumahku, Tante!" jawab Arthur sembari duduk di sofa.
Ayah Barra mengernyitkan keningnya, dia merasa heran kenapa cucunya saat ini sedang berada di rumah lelaki itu.
"Di rumahmu? Apa dia sedang bersama orangtuamu?"
Artur menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ayah Barra. "Dia suka sekali kalau bermain dengan Mama!"
Ibu Tasya tersenyum senang saat mendengar ucapan Arthur, setidaknya ada yang menjaga dan bermain dengan cucunya selain Lili dan Kiki.
Setelah beristirahat sebentar, Arthur dan Lili mengajak Ayah Barra dan istrinya untuk menjemput Zia sementara Kiki dan Masya harus segera bekerja saat itu juga.
"Tuan, Tuan Barra sudah keluar dari Desa itu!" lapornya pada sang majikan.
"bagus! Itu berita yang sangat bagus, terus ikuti dia dan pastikan kalian tau di mana tempat tinggalnya!"
"Siap, Tuan!"
Tut, panggilan mereka terputus setelah dia melaporkan semuanya. Kemudian mereka berdua kembali mengikuti mobil yang dinaiki Ayah Barra sebelum kehilangan jejak.
Mobil yang Arthur kendarai kini sudah sampai di halaman rumahnya, dia bergegas turun dan mengajak kedua orangtua Lili untuk masuk ke dalam rumah itu.
"Papa!"
Zia berlari dari dalam rumah saat melihat kedatangan Arthur, sepertinya dia lebih rindu dengan lelaki itu ketimbang Ayahnya sendiri.
Arthur merentangkan kedua tangannya saat melihat Zia, gadis kecil itu kemudian melompat ketubuh Arthur dan langsung digendong olehnya.
"Waah, dua hari aja enggak ketemu kau makin berat aja yah!"
Zia langsung menghujani wajah Arthur dengan bibir mungilnya, membuat kedua orangtua Lili merasa terkejut.
"cih, ternyata kau sudah punya anak yah!" seru Ayah Barra dengan nada mengejek, dia tidak menyangka dengan umur segitu Arthur sudah menyandang status duda.
"Ayah, dia itu-"
__ADS_1
"Wah wah wah, kalian sudah pulang?"
Mama Mawar dan Papa Ari berjalan keluar rumah saat mendengar suara Arthur, Lili langsung menyalim kedua orangtua itu dan di balas dengan pelukan Mama Mawar.
"bagaimana kabar Om dan Tante?" tanya Lili.
"kami sangat baik, Nak! tapi, ngomong-ngomong, itu siapa?"
"oh iya, ini kedua orangtuaku, Tante!" Lili merasa malu karna lupa memperkenalkan kedua orangtuanya.
Mama Mawar dan Papa Ari segera berjabat tangan dengan kedua orangtua Lili dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"waah, anda masih sangat muda yah, besan!" seru Mama Mawar pada Ibu Tasya.
Kening Ibu Tasya mengernyit heran dengan panggilan yang Mama Mawar sematkan padanya.
"Tentu saja! Istri saya memang masih sangat muda dan juga cantik!"
Tiba-tiba Ayah Barra mengeluarkan suara membuat istrinya mencubit lengannya dengan wajah merah padam, wanita itu merasa malu dengan apa yang suaminya katakan.
"Benar! Istri anda memang masih muda, tapi maaf, sepertinya anda sudah tuwir! Hehe ...."
Kali ini giliran Papa Ari yang mencubit lengan istrinya, bisa-bisanya dia berkata tidak sopan pada tamu mereka.
"Apa? Hey-"
"te-terima kasih atas pujian anda, Nonya! Anda juga masih sangat cantik dan muda," potong Ibu Tasya, dia melotot tajam ke arah suaminya agar menutup mulutnya rapat-rapat.
Ayah Barra hanya membuang wajah sebal, sementara Arthur dan Lili terkikik geli karna melihat apa yang terjadi.
"Tidak usah panggil Nyonya segala, kita kan besan!"
Lagi-lagi ucapan Mama Mawar membuat Lili dan Ibunya hanya bisa tersenyum canggung, tetapi tidak untuk Ayah Barra.
"jadi, apa kedatangan kalian ke rumah kami ini untuk melamar Arthur?"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
Maaf karna semalam aku tidak bisa update 🙏
__ADS_1