
"Benar, bahkan Mama yang tadi menepuk-nepuk tit*itmu yang sudah on fire!"
"Mama!"
Semua orang terkikik geli mendengar ocehan Mama Mawar, sementara Arthur benar-benar merasa sangat malu dengan wajah semakin merah bak kepiting rebus.
"Sudah-sudah, suara kalian mengganggu pasien yang lain!"
Papa Ari yang mengerti kalau putranya pasti sangat malu memilih angkat suara, dia harus menghentikan ocehan istrinya sebelum semakin menjadi-jadi.
Setelah Dokter memeriksa kembali kondisi Arthur, akhirnya dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Akan tetapi, Dokter tetap memberikan obat padanya jika suatu saat dia masih merasakan efek dari obat perangs*ang itu.
Arthur dan keluarganya mengucapkan banyak terima kasih pada keluarga Lili yang telah banyak menolong mereka, setelahnya mereka segera pulang ke rumah masing-masing.
"jadi Bian, sebenarnya apa yang kau dan Tuan Barra lakukan pada mereka?" tanya Papa Ari saat dalam perjalanan pulang.
Mama Mawar dan Arthur beralih melihat ke arah Bian, tampak lelaki itu sedang merenungi sesuatu.
"Kak!"
"Y-ya?"
Bian terlonjak kaget saat Arthur menepuk bahunya, sementara Arthur sendiri melihatnya dengan menyipitkan mata curiga.
"kenapa Kakak melamun?" tanya Arthur.
Bian berdecih, kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Kenapa? Kau mau tau?"
"Cih!"
Arthur merasa kesal, bukannya menjawab pertanyaannya, Bian malah balik bertanya padanya.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Paman, Bian?"
Bian mengernyitkan keningnya. "Memangnya Paman nanya apa?"
Papa Ari segera mengulang pertanyannya, sekaligus menanyakan ada hubungan apa antara Bian dan Ayah Barra.
Bian terdiam, dia tidak ingin menceritakan apa yang telah dia dan Ayah Barra lakukan. Terlebih-lebih hubungan antara dia dan lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
"Yang terpenting saat ini perusahaan Paman sudah aman dari laki-laki itu, juga kedepannya dia tidak akan lagi menganggu keluarga Paman!"
Hanya itulah yang bisa Bian katakan, dia belum siap untuk melihat reaksi orangtuanya kalau sampai mereka mengetahui kalau sejak dulu dia tergabung dalam dunia mafia.
"kenapa? Apa kau tidak bisa memberitahu kami? Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tanya Mama Mawar dengan curiga, dia merasa kalau Bian sedang menyembunyikan hal besar dari mereka semua.
"bukan seperti itu, Tante! Kami cuma memberi pelajaran saja pada laki-laki itu supaya tidak bertindak sesuka hati!"
"lalu, ada hubungan apa kau dengan Ayahnya Lili?" tanya Mama Mawar kembali membuat Arthur terlonjak kaget.
"Jangan bilang kalau Kakak naksir sama Lili?"
Arthur menatap Bian dengan tajam, susah payah dia mendapatkan hati Lili. Kini malah harus bersaing lagi dengan Kakaknya sendiri pikirnya.
"Kalau iya, memangnya kenapa?"
Bian malah semakin menantang Arthur, sebenarnya dia juga tidak menyangka kalau anak-anak Ayah Barra berhubungan dengan keluarganya sendiri. Baik dengan adik kandungnya, juga dengan adik sepupunya.
"Apa? Tidak, kakak harus mengalah sama yang lebih muda! Gak malu apa, bersaing sama adiknya sendiri?"
Bian tertawa lepas mendengar ocehan Arthur, dia lalu merangkul tubuh lelaki itu yang memang sedang duduk di sampingnya.
"kau sendiri kenapa suka sama dia? Kalau dari segi umur, aku lebih pantas bersamanya! Apalagi dengan statusnya itu, aku lebih cocok bersanding dengannya!"
Bian dan Arthur kini saling serang membuat seisi mobil dipenuhi suara mereka berdua, akhirnya Bian berhasil mengalihkan perhatian mereka dari pertanyaan yang tidak ingin dia jawab.
Sementara itu, Lili yang sudah berada di rumah bergegas untuk menjemput Zia yang dia titipkan di rumah tetangganya.
"terima kasih karna sudah mau menjaga Zia, Bu!" ucap Lili sembari memberikan sedikit uang untuk wanita paruh baya itu.
"Tidak perlu, Nak! Ibu senang bisa bermain dengan Zia, dan kau tidak perlu memberikan ini untuk Ibu!"
Wanita paruh baya itu menolak uang yang Lili berikan, setelahnya dia mengucapkan terima kasih banyak dan berlalu pergi dari sana.
"Mama, mana Papa?"
Zia yang tadi sudah tidur kini membuka kedua matanya saat Lili meletakkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Kenapa Zia tiba-tiba nanyak Papa?"
__ADS_1
Lili menarik selimut untuk menutupi tubih putrinya, dia lalu melirik ke arah jam yang tergantung didinding.
"Cia kangen sama Papa!"
Untuk pertama kalinya, gadis kecil itu mengatakan kalau dia merindukan Arthur membuat Lili tersenyum simpul.
Lili langsung mengusap kepala Zia dengan lembut. "Besok kita liat Papa yah, sekarang Zia bobok dulu!"
Zia menganggukkan kepalanya, dia lalu mulai memejamkan matanya untuk kembali masuk ke dalam alam mimpi.
Setelah Zia tidur, Lili segera ke dapur untuk mengambil minum. Dia berpapasan dengan Ayah Barra yang juga baru keluar dari kamar.
"Ayah kok gak tidur?" tanyaya sembari menuang minuman ke gelas.
"Ayah gak ngantuk, apa kau mau tidur?"
Lili menggelengkan kepalanya, saat ini entah kenapa dia tidak merasa ngantuk padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 pagi.
"Kalau gitu, ada yang ingin Ayah tanyakan padamu!"
Ayah Barra berjalan ke arah sofa seakan-akan menyuruh Lili untuk mengikutinya, mereka berdua lalu duduk di sana dengan ditemani secangkir kopi.
"Ada apa, Yah? Sepertinya Ayah serius sekali!"
Ayah Barra tersenyum tipis, dia lalu mengambil kopi yang Lili buatkan dan meminumnya dengan perlahan.
Lili terus mengamati gerak-gerik Ayahnya, dia tau kalau Ayahnya ingin mengatakan hal penting padanya saat ini.
"Apa kau mencintai Arthur?"
Deg, jantung Lili terasa berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan yang Ayah Barra lontarkan.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘
Maaf karna semalam tidak update 🙏😘