Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 43. Kemarahan Ibu Tasya.


__ADS_3

"hoho ... ternyata Oom itu suami takut istri yah?"


"Apa?"


Ayah Barra langsung mencengkram kerah kemeja Arthur dan siap memberi bogem mentahnya pada lelaki itu, untung saja kapaknya tidak sedang dia pegang, kalau tidak sudah lewat nyawa Arthur menghadap Tuhan.


"kau, beraninya kau mengatakan itu?"


"Aku cuma becanda Om, sumpah!"


Arthur langsung mengangkat jarinya membentuk angka dua untuk meyakinkan Ayah Barra, sementara Ayah Barra sendiri melepas cengkraman tangannya dengan kasar sampai Arthur terhempas beberapa langkah ke belakang.


"Gila bener orangtua ini, udah sepuh tapi tenaganya luar biasa!"


Arthur segera melaksanakan apa yang Ayah Barra perintahkan sebelum lelaki paruh baya itu kembali mengamuk, dia mengayunkan tangannya hingga otot-ototnya menonjol kepermukaan kulit.


Beberapa jam kemudian, Ayah Barra sedang bersantai sembari mengumpulkan bunga-bunga cantik yang akan dia berikan untuk istri tercintanya.


Suara siulannya terdengar merdu dikeheningan hutan membuat burung-burung ikut berdendang ria, dia kemudian memutuskan untuk kembali ke lembah setelah keranjangnya terisi banyak bunga.


"Astaga! Apa mereka pingsan?"


Ayah Barra mempercepat langkah kakinya saat melihat Arthur dan Masya tergeletak di atas tanah, dia kemudian mengambil air yang dia bawa dan mencipratkannya ke wajah dua anak manusia itu.


"bentar lagi, Ma! Aku lelah sekali!"


"Apa? Hey, aku bukan Mamamu!"


Ayah Barra menarik tangan Arthur dan membuka paksa kedua matanya, sampai Arthur kembali sadar dan mendorong tubuh Ayah Barra hingga terduduk di atas tanah.


"Oom mau apa? Saya masih suka perempuan Om!"


Arthur memundurkan tubuhnya sembari bersedekap dada seolah-olah takut dimangsa oleh predator buas, sementara Ayah Barra merasa emosi dan langsung menubruk tubuh Arthur hingga dia terguling di atas tanah.


"Ayah!"


Barra yang sudah naik ke atas tubuh Arthur berniat untuk memberi pukulan kewajahnya, terpaksa mengurungkan niat mulianya itu saat mendengar suara seseorang.


"Apa yang Ayah lakukan?"


Lili berlari menghampiri Arthur yang terkapar tidak berdaya di bawah tubuh Ayahnya, sementara Ayah Barra langsung bangun saat melihat kedatangan sang istri tercinta.


Kiki yang juga berada di tempat itu segera menghampiri Masya yang juga tergeletak di samping susunan kayu.


"Masya! Kau, kau tidak apa-apakan?"

__ADS_1


Masya membuka kedua matanya yang terasa berat. "Sepertinya aku sudah mati!"


"Apa? Tidak! Kau masih hidup, Masya!"


Kiki segera memeluk tubuh Masya dan mengecup seluruh wajahnya sampai wanita itu sadar kalau ternyata dia masih hidup.


Ayah Barra mendekat ke arah istrinya dengan senyum lebar, dia senang karna istri mau menyusulnya ke tempat itu.


"Sayang, kau datang-"


"Dasar keterlaluan! Sudah ku katakan jangan berbuat yang macam-macamkan, kenapa kau malah menyiksa mereka sampai seperti ini?"


ibu Tasya melotot dengan kedua tangan bertolak pinggang ke arah sang suami, dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin memiliki suami yang mengerikan seperti Barra.


"aku tidak melakukan apapun, Sayang! Mereka yang terlalu lemah!"


"bohong! Ayah kamu menyiksaku, Li! Aku merasa kalau nyawaku sudah tinggal sedikit lagi!"


Lili berubah panik saat mendengar ucapan Arthur, dia lalu membantu lelaki itu untuk bangun dan menyandarkannya ke bahunya.


"Ayah benar-benar keterlaluan! Bagaimana mungkin, Ayah tega menyiksa mereka sampai seperti ini?"


"apa? Kau percaya sama mulut busuknya itu?"


Ayah Barra langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat mendengar istrinya langsung menyebut namanya.


"Lili, Kiki! Bawa Arthur dan Masya pulang ke rumah!"


Lili dan Kiki menganggukkan kepala mereka dan bersiap untuk membantu Arthur dan Masya berjala pulang, sementara Ibu Tasya masih menatap suaminya dengan tajam.


"dan kau, jangan harap bisa masuk ke dalam rumah!"


"Apa? Sayang, kenapa kau melakukan itu?"


Ayah Barra merasa tidak terima, dia tidak bisa berjauhan dengan sang istri terutama di malam hari.


"Kau pikir aja sendiri! Dan untuk satu minggu ke depan, jangan harap kau mendapat jatah kesenanganmu!"


Ayah Barra semakin terjingkat kaget saat mendengarnya, tidak, dia tidak akan melakukan apa yang istrinya itu katakan.


"Sayang, lebih baik kau bunuh saja aku! Aku tidak bisa berjauhan darimu!"


"No coment!"


Ibu Tasya berjalan menyusul langkah Lili dan Kiki yang sudah beberapa langkah di depannya, sementara Ayah Barra terus merengek agar Ibu Tasya tidak sekejam itu padanya.

__ADS_1


Melihat Ayah Barra yang habis-habisan dimarahi oleh istrinya, Arthur dan Masya saling pandang kemudian sama-sama mengedipkan sebelah mata mereka.


Rupanya mereka berdua sudah bekerja sama untuk membalas apa yang Ayah Barra lakukan, itu sebabnya mereka memutuskan untuk pura-pura pingsan dan berharap Lili dan Kiki datang untuk menjemput mereka.


Setibanya di rumah, Lili segera membawa Arthur ke kamarnya dan menyuruhnya untuk istirahat. Begitu juga dengan Masya, sepanjang jalan Kiki terus menggendongnya sampai tubuh Kiki basah bermandikan keringat.


"te-terima kasih karna sudah menggendongku!" ucap Masya dengan lirih, sebenarnya di sudah mengatakan kalau dia baik-baik saja, tetapi Kiki tetap tidak menurunkannya dari gendongan.


"kau tidak perlu berterima kasih, Masya! Seharusnya aku yang minta maaf atas apa yang telah Ayahku lakukan, dia memang selalu berlebihan seperti itu,"


Kiki benar-benar merasa tidak enak dengan Masya, tangannya tetap menggenggam kedua tangan Masya membuat wanita itu gugup.


"su-sudahlah, anggap saja tadi kami sedang berolahraga!" jawab Masya dengan senyum tipis.


Kiki lalu beranjak ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat agar Masya bisa membersihkan diri.


Sama halnya dengan Kiki, Lili juga menyiapkan air hangat agar Arthur bisa menyegarkan tubuhnya.


"aku minta maaf yah atas perlakuan Ayah, aku tidak menyangka kalau Ayah bisa sampai sekejam itu," lirih Lili, dia merasa menyesal sudah mengizinkan Arthur untuk ikut bersamanya ke rumah orangtuanya.


"aku tidak papa kok, yang penting aku sudah mendapat restu dari Ayahmu!"


"Re-restu?"


Arthur menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Iya, Ayahmu memberi restu agar aku bisa segera menikahimu!"


Lili terpaku saat mendengar apa yang Arthur ucapkan, dia tidak menyangka kalau Ayahnya akan memberi restu untuk Arthur.


"Cih, jangan mimpi kau!"


Tiba-tiba Ayah Barra sudah berdiri di ambang pintu, dia yang ingin menemui istrinya tidak sengaja mendengar ucapan Arthur.


"kau pikir aku akan-"


"Apa yang kau lakukan di sini? Keluar dari rumah ini sekarang juga!" Suara Ibu Tasya melengking dahsyat sampai menggetarkan dinding rumah itu.





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2