
Semua orang terdiam mendengar ucapan yang dilayangkan oleh sekretaris pribadi Papa Ari, lelaki paruh baya itu merasa kesal melihat keegoisan para pemegang saham.
Akhirnya, Arthur memutuskan untuk menggadaikan beberapa aset berharga yang perusahannya miliki agar beberapa proyek yang sedang mereka kerjakan bisa kembali berjalan.
Hanya itulah satu-satunya cara yang bisa dia ambil saat ini sebelum perusahaannya benar-benar bangkrut.
"Hah!"
Arthur menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangannya, setelah rapat selesai, dia dan Papanya kembali berkumpul di ruang kerjanya.
"Sepertinya kita harus menggunakan dana pribadi kita untuk menggaji para karyawan, Pa!"
Papa Ari mendessah pasrah, bukan karna dia menikmati semua ini melainkan karna tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Arthur lalu menghubungi sekretaris Papanya untuk mencairkan semua dana gaji para karyawan dari tabungan pribadi keluarganya.
Dia lalu bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, Arthur membasuh wajahnya agar merasa sedikit segar.
"Maafkan aku, Ma, Pa! Gara-gara keputusanku, usaha yang kalian bangun dengan susah payah sedang berada di ujung tanduk!"
Arthur menyandarkan tubuhnya di balik pintu, rasa sesal kian menyusup ke dalam relung hatinya karna telah membuat kedua orangtuanya menderita.
Pada saat yang sama, Masya yang baru masuk ke dalam rumahnya dikagetkan dengan pelukan dari seorang lelaki sampai membuatnya berteriak histeris.
"Ka-Kak?"
Lelaki yang dipanggil kakak oleh Masya terlihat sedang mengusap-usap telinganya yang berdengung. "Teriakanmu itu masih tetap sama yah, Sya!"
Masya hanya terkikik geli mendengar apa yang Kakaknya katakan, dia lalu memeluk tubuh sang Kakak yang sudah hampir setahun tidak dia lihat.
"kakak baik-baik sajakan?" tanyanya sembari mendongakkan kepalanya melihat ke wajah sang kakak.
"tentu saja, Kakak merasa sangat sehat mendengar kabar kalau kau sudah punya pacar!"
"Apa?"
Masya mencubit perut sang kakak membuat Kakaknya mengaduh kesakitan, kemudian mereka sama-sama tertawa melepas rindu.
"Kenapa kalian ribut sekali? Masya, Bian!"
Kedua orangtua mereka berjalan masuk dari arah samping karna keributan yang kedua anaknya lakukan, sementara Masya dan Bian hanya tersenyum simpul melihat kedua orangtua mereka.
"kau lagi, Bian! Kenapa kau tidak bekerja diperusahaan saja sih, untuk apa lagi kau di sana?" sembur Mamanya, dia sudah lelah menyuruh putranya untuk tetap berada di negara ini tetapi anaknya itu tetap keras kepala.
__ADS_1
"Ah, Mama! Aku kan sudah bilang jangan bahas itu lagi!"
Bian merapatkan tubuhnya dan memeluk lengan Mamanya dengan erat sembari menyandarkan kepalanya ke bahu sang Mama.
"Lihat! Dia sudah seperti kucing yang tersiram air!"
Masya dan Ayahnya tertawa geli mendengar ucapan Mama Nita, sementara Bian sendiri mengerucutkan bibirnya dengan sebal.
"jadi, apa kau sudah menemui Arthur?" tanya Papa Banu sembari menyeruput kopinya.
Bian menggelengkan kepalanya, dia belum sempat menemui adiknya itu. "Besok aku akan menemuinya, Pa! Tapi, apa kondisi perusahaan Paman benar-benar sudah krisis, Pa?"
Papa Banu menganggukkan kepalanya. "Malik benar-benar sudah tidak waras, dia bahkan menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan perusahaan kita juga!"
Bian mengepalkan kedua tangannya, sepertinya sudah saatnya dia beraksi di Negaranya sendiri kali ini.
"Baiklah, nanti malam aku akan menelpon Arthur!"
***
Arthur yang saat itu sedang berada di perusahaan terlihat sedang merenungi nasibnya, dia memandang langit malam dari balkon ruangannya sembari menghirup udara sepenuh dada.
Drt, drt, drt! Arthur mengambil ponselnya yang bergetar dan langsung menjawab panggilan masuk dari seseorang.
"Assalamu'alaikum, Arthur!"
Arthur menjauhkan benda pipih itu untuk melihat siapa yang menelponnya, senyumnya terbit saat melihat ternyata Lili lah yang menelponnya saat ini.
"Arthur!"
"Wa'alaikum salam, Li! Aku senang mendengar suaramu!"
Lili yang ada disebrang telpon tersipu malu mendengar ucapan Arthur. "Apa, apa aku menganggumu?"
"tidak! Tentu saja tidak, aku sedang santai sekarang!" jawab Arthur dengan cepat, moodnya kembali baik karna mendengar suara wanita yang dia cintai.
Dia lalu diam menunggu apa yang ingin Lili ucapkan padanya, karna untuk pertama kalinya Lili menghubunginya di saat tidak ada kepentingan seperti ini.
"Em ... apa, apa kau sudah makan?"
Suara Lili terdengar ragu membuat Arthur tersenyum lebar, dia lalu kembali masuk ke ruangan dan menyambar tas serta kunci mobilnya.
"Aku belum makan, apa kau mau menemaniku?"
__ADS_1
Arthur bergegas keluar dari perusahaan untuk menemui Lili, entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan wanita itu saat ini.
"Ka-kalau begitu, apa kau bisa ke sini? Aku, aku akan menyiapkan makanan untukmu!"
Hati Arthur semakin berbunga-bunga mendengar tawaran dari Lili, dia langsung mengiyakan tawaran itu dan berkata akan sampai dalam waktu setengah jam.
"baiklah, hati-hati di jalan, Arthur!"
"tentu saja, Sayang! Tunggu-"
Bruk, Arthur tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba ada seseorang yang menarik dan membuang ponselnya begitu saja.
Dia lalu melihat ke arah orang tersebut dan menatapnya dengan sangat tajam. "Apa kau gila?"
"Benar! Aku sudah gila, aku gila karnamu, Arthur!"
Yah, siapa lagi jika bukan Gesya yang akan mengganggu hidup Arthur. Wanita itu tampak sangat berantakan dengan pakaian terbuka dan bau menyengat dari minuman beralkohol.
Arthur kembali mengambil ponselnya yang sempat dibuang oleh Gesya, tanpa dia sadari, saat ini wanita itu sedang mengarahkan sebuah jarum suntik ke tubuhnya.
Bruk! Gesya menubruk tubuh Arthur dan menyuntikkan sesuatu ke tubuh lelaki itu sampai mereka terguling ke atas tanah karna tabrakannya.
Arthur berusaha menyingkirkan tubuh Gesya yang saat ini sedang berada di atas tubuhnya, dia lalu segera bangkit saat Gesya sudah berada di sampingnya.
"Kau benar-benar sudah tidak waras!"
Arthur segera berbalik dan hendak masuk ke dalam mobil, tetapi baru beberapa langkah berjalan, dia terdiam sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Ada apa? Apa kau sedang sakit, Arthur?"
Arthur kembali membalikkan tubuhnya saat mendengar suara Gesya. "Kau, apa yang kau lakukan?"
Gesya tertawa keras mendengar pertanyaan Arthur, dia lalu menunjukkan sebuah jarum suntik yang berhasil dia suntikkan ke tubuh lelaki itu.
"Kau lihat, malam ini kita akan bersenang-senang, Arthur!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘