Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 29. Penolakan Arthur.


__ADS_3

"aku cemburu, aku sedang cemburu!"


"Ap-apa?"


Lili terdiam dengan mata membulat dan mulut terbuka, sementara Arthur menatapnya tajam seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.


"Aku tidak suka kalau Ibuk dekat dengan laki-laki lain, apalagi laki-laki tadi. Matanya kerlap-kerlip kayak kunang-kunang menatap wajah cantik Ibuk!"


Blush, wajah Lili langsung memerah saat mendengar apa yang Arthur ucapkan, sementara lelaki itu masih mengoceh tidak karuan dengan terus mengatakan kalau dia tidak suka melihat Lili bersama laki-laki lain.


"be-berhenti! Suaramu membuatku pusing!"


"Ibuk sakit?"


Arthur meletakkan punggung tangannya kekening Lili membuat wanita itu menjadi tegang, sementara dia sendiri sedang memeriksa apakah Lili demam atau tidak.


"mungkin Ibuk mau flu, wajah Ibuk merah sekali!"


"Mau flu kepalamu! Jelas-jelas ini karna ulahmu!"


Lili langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam mobil, dia lalu memakai sabuk pengaman dan memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"apa kita harus ke rumah sakit?"


"pulang ke rumah sekarang juga!" ucap Lili dengan penuh penekanan, dia harus menenangkan diri di rumah sebelum jantungnya meledak karna ulah lelaki itu.


Arthur berdecak kesal, kemudian dia menyalakan mobilnya dan melaju menuju rumah Kiki.


Setelah sampai, Lili segera membawa Zia masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun pada Arthur, membuat lelaki itu menjadi kesal dan juga bingung.


"Apa yang terjadi padanya? Apa dia marah karna aku tadi cemburu padanya?"


Arthur mengacak rambutnya dengan frustasi, biasanya para wanita akan sangat senang saat melihatnya cemburu. Tapi dengan Lili, sungguh dia tidak mengerti dengan semuanya.


"Apa karna dia janda? Makanya lain dari pada yang lain?"


Arthur mulai berpikir, mungkin saja dia harus bersikap lain pada Lili karna dia tidak seperti wanita-wanita yang sebelumnya dekat dengannya.


Sementara itu, Lili yang sudah berada di dalam rumah terlihat merenung di dalam kamar. Tangannya sibuk mengusap-usap punggung Zia sementara pikirannya melayang-layang memikirkan apa yang Arthur katakan padanya.


"kenapa dia merasa cemburu? Apa, apa mungkin dia suka padaku?"


"Tidak, tidak! Itu tidak mungkin!"


Lili menggeleng-gelengkan kepalanya, Arthur tidak mungkin suka padanya saat lelaki itu bisa mendapatkan semua wanita hanya dengan hitungan detik saja.

__ADS_1


Arthur yang sudah sampai di rumahnya bergegas untuk masuk, tetapi langkahnya terhenti saat melihat ada seorang wanita berdiri tegak di depan rumahnya.


"mau apa dia di sini?"


"Arthur!"


Belum sempat Arthur bereaksi, wanita itu sudah berlari ke arahnya dengan senyum sejuta watt.


"Apa yang kau lakukan di rumahku?"


Gesya yang ingin melingkarkan tangannya dilengan Arthur mendadak jadi kaku saat melihat tatapan tajam menusuk ke arahnya.


"Arthur, ternyata orangtua kita saling kenal loh!"


Lain yang ditanya, lain pula jawaban wanita itu membuat Arthur merasa semakin kesal. Tanpa mengatakan apapun lagi, Arthur berlalu masuk dengan diikuti oleh Gesya yang terus memandangnya penuh cinta.


"Arthur! Kau sudah pulang?"


Lagi-lagi langkahnya harus terhenti saat mendengar suara Papanya, dia melirik ke ruang tamu yang memperlihatkan kalau orangtuanya sedang kedatangan tamu.


Papa Ari lalu memberi kode pada Arthur untuk mendekat ke arahnya, membuat Arthur mau tidak mau melangkahkan kakinya dengan gontai.


"jadi ini, yang namanya Arthur? Dia benar-benar tampan persis seperti apa yang Gesya ceritakan," ucap wanita paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mamanya Gesya.


"ah, anda terlalu memuji, Nyonya!" balas Papa Ari, dia lalu menyenggol lengan Arthur yang hanya diam tanpa menjawab perkataan wanita paruh baya itu.


Arthur memilih untuk bertanya langsung, perasaannya menjadi tidak tenang karna melihat Gesya dan kedua orangtua wanita itu berkunjung ke rumahnya.


"tidak Papa, Nak! Kami hanya ingin berbincang saja," jawab Pak Malik tiba-tiba.


Papa Ari lalu menyuruh Arthur untuk duduk di samping Gesya, walaupun dia mencoba untuk menolak tetapi tatapan Papanya seperti mengatakan kalau dia tidak duduk, maka dia akan habis ditangannya.


Mama Mawar pun yang biasanya selalu mengoceh tidak berkesudahan, kini tampak diam dan hanya menjadi penonton bayaran.


"kau kuliah di Universitas yang sama dengan Gesya kan, Arthur?" tanya Pak Malik, dia mencoba untuk mengakrabkan diri dengan lelaki yang dicintai putrinya.


"benar, Tuan! Saya kuliah jurusan bisnis, semester 7. Setelah itu saya akan melanjutkan S2 jurusan bisnis juga!" jawab Arthur dengan lengkap selengkap-lengkapnya, membuat Pak Malik terpaksa mengatupkan rahangnya.


Arthur sengaja melakukan itu, dia tidak ingin lagi ditanya-tanya dan malas untuk menjawab pertanyaan yang tidak penting.


"pemuda yang sangat bersemangat!" seru istri dari Pak Malik.


Papa Ari hanya tersenyum tipis saja untuk menanggapinya, sementara Mama Mawar tersenyum lebar sampai nyaris mencapai telinga.


"jadi, apa kita sudah bisa mulai membicarakan hubungan Gesya dan Arthur?"

__ADS_1


Kening Arthur berkerut-kerut, ternyata dugaannya benar kalau Gesya dan kedua orangtuanya berniat untuk membicarakan hubungan yang bahkan tidak ada antara dia dan Gesya.


"kita kan sudah sama-sama-"


"maaf kalau saya lancang, Tuan! Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya hubungan apa yang Tuan maksud antara saya dan putri anda?" potong Arthur.


Papa Ari sudah mendelik tajam padanya, tetapi Arthur merasa tidak peduli. Sekarang manusia sudah merdeka, mereka berhak menentukan pasangan masing-masing dan bukan dengan cara seperti ini.


"begini, Nak! Kami tau kalau kau dan Gesya sudah sama-sama saling menyukai, jadi menurut kami, untuk apalagi berlama-lama pacaran. Lebih baik kalian menikah saja!" jawab Pak Malik, dia tersenyum melihat ke arah putri semata wayangnya yang terlihat malu-malu meong.


Arthur mengalihkan pandangannya ke arah Gesya, rahangnya mengeras karna bukannya membantah, Gesya malah tampak senang dengan apa yang lelaki itu ucapkan.


"bagaimana? kalian setujukan dengan pendapat kami?"


"ti-"


"mungkin kita bisa membicarakannya dengan santai, Tuan! Tidak perlu terburu-buru."


Papa Ari yang tau kalau Arthur akan berkata tidak langsung memotong ucapannya, untuk sekilas dia dan putranya saling pandang sama-sama mencoba untuk mengintimidasi.


"yah, saya rasa juga seperti itu. Tapi, akan lebih baik kalau keluarga kita bisa cepat bersatu!" balas Pak Malik.


Kemudian kedua orangtua Gesya menceritakan tentang kebaikan putri mereka pada Papa Ari dan juga Mama Mawar membuat Arthur jengah dan berlalu pergi ke kamarnya.


"Sialan!"


Arthur melemparkan jaketnya dengan kesal saat sudah berada di dalam kamar, dia tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi padanya.


"Papa sama Mama tidak mungkin kan, memaksaku untuk menikah dengan wanita itu?"


Arthur jadi gelisah sendiri, dia berjalan ke sana kemari sembari memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


"Memang sih, Gesya itu cantik dan mempesona. Tapi Buk Lili juga tak jalah cantik, dan daya tariknya itu jauh lebih besar dari Gesya, hatiku selalu cenat-cenut saat bersamanya!"


Arthur mulai membandingkan antara Lili dan juga Gesya, hatinya berdebar kencang saat dia membayangkan wajah Lili, membuatnya yakin kalau dia benar-benar mencintai wanita itu.


"Baiklah, aku sudah memutuskan kalau aku akan mengejar cinta Buk Lili! Persetan dengan Gesya, kalau Mama dan Papa memaksaku untuk menikah dengannya, maka aku akan mencoret nama mereka dari kartu keluarga!"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2