Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 25. Tekad yang Mulia.


__ADS_3

Arthur melajukan mobilnya menuju rumah Masya dengan tetap menghubungi gadis itu, tetapi Masya seperti bak ditelan bumi karna tidak ada satupun panggilan Arthur yang dijawabnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya Arthur sampai di halaman rumah kedua orangtua Masya. Dia bergegas turun dan berjalan cepat ke rumah itu.


Tok, tok, tok! "Kak Masya, Paman, Bibi! Buka pintunya!"


Arthur terus berteriak untuk memanggil semua penghuni rumah, beberapa kali dia melakukannya sampai ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.


"astaga, Arthur!"


"Bibi, Kak Masya mana?" Arthur langsung mengguncang kedua bahu wanita paruh baya yang ada dihadapannya, wanita itu tampak memandangnya dengan bingung.


"Arthur! apa yang terjadi?" tanya seorang lelaki yang berdiri di belakang istrinya, dia merasa bingung melihat Arthur seperti induk ayam yang akan bertelur.


Tanpa menghiraukan pertanyaan mereka, Arthur langsung masuk ke dalam dan berlalu ke kamar Masya untuk mencari gadis itu.


"Astaga! apa yang terjadi padanya sih?"


Orangtua Masya lalu mengukuti langkah Arthur, mereka benar-benar dibuat kebingunhan oleh lelaki kurang ajar itu.


Brak! Arthur membuka pintu kamar Masya dengan kencang, dia lalu melihat ke seluruh ruangan untuk mencari wanita itu.


"Kak Masya! kau di mana sih?"


Arthur mencari kesemua tempat, mulai dari kamar mandi, ruang kerja, bawah ranjang, dalam lemari, sampai di bawah meja tetapi tidak juga menemukan keberadaan Masya.


"Arthur! sebenarnya kau kenapa sih?" tanya Pak Banu, ayah dari Masya.


Dia mendekati Arthur dan hampir saja menonjok muka menyebalkannya itu, apalagi melihat keadaan kamar Masya yang sudah seperti kapal pecah.


"Paman, apa Kak Masya sudah berada di dunia lain?"


Pletak!" Duuh!"


Arthur mengusap-usap keningnya yang terasa sakit akibat sentilan Pak Banu, sementara istri dari lelaki paruh baya itu hanya tertawa saja melihat Arthur seperti itu.


"beraninya kau menyumpahi Kakakmu cepat-capat mati!" bentak Pak Banu, dia hanya punya satu anak perempuan, dan anaknya itu malah disumpahi agar cepat menghadap Tuhan.


"terus Kak Masya di mana dong?" tanya Arthur sembari mengerucutkan bibirnya, tangannya tidak berhenti mengusap keningnya yang memerah.


"Masya belum pulang, Arthur! tadi dia memberi kabar kalau sedang berada di rumah Kiki,"


"di mana? rumah Kiki di mana?" sambar Arthur, inilah yang sejak tadi dia cari-cari.

__ADS_1


Kedua orangtua Masya saling pandang, kemudian mereka sama-sama mengedikkan bahunya pertanda kalau mereka tidak tau di mana rumah Kiki


Bruk! tubuh Arthur terjatuh ke lantai membuat Pak Banu dan istrinya terkejut, mereka cepat-cepat menarik tubuh Arthur dan memindahkannya ke atas ranjang.


"Arthur, kalau mau mati jangan di sini! Nanti Paman sama Bibi masuk penjara loh!" kelakar Pak Banu membuat Arthur semakin gila.


"kau ini sebenarnya kenapa? kalau mau mencari Masya, kenapa enggak menelponnya saja!" ucap Buk Nita, Mama Masya.


Arthur berdecak kesal, tanpa dikasitau pun dia pasti akan tetap menelpon Masya. Akan tetapi, tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab oleh wanita itu.


"Aku udah nelpon, tapi gak diangkat!" ucap Arthur frutasi, dia lalu merebahkan tubuh lelahnya ke ranjang itu.


Pak Banu mengerutkan keningnya, baru beberapa saat yang lalu dia menerima pesan dari Masya. Dia lalu mengambil ponsel untuk menelpon putrinya itu.


Tut, tut, tut. "Halo, Pa?"


"Halo, Masya!"


Arthur langsung bangkit saat mendengar telpon Pak Banu dijawab oleh Masya, dia lalu meminta ponsel itu agar bisa bicara langsung dengannya.


"ada apa, Pa?"


"hey, Kak Masya! kenapa kau tidak menjawab panggilanku?" seru Arthur.


"Yah! Aku Arthur, aku yang akan mencabut nyawamu nanti!"


Terdengar gelak tawa dari sebrang telpon saat mendengar ucapan Arthur, sementara kedua orangtua Masya hanya geleng-geleng kepala saja.


"ada apa? kenapa kau menelpon banyak sekali? baru saja aku mau menelponmu ini!" ucap Masya.


"Kakak lagi di mana?" tanya Arthur tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.


"Ah, aku lagi di jalan pulang! tapi, kenapa kau ada di rumahku?" tanyanya dengan heran.


"apa Kakak lagi bersama Lili?"


"tidak, Kakak sendirian! kenapa?"


"apa Lili ada di rumah Kakaknya?"


"iya, tapi kenapa?"


"Kirim alamat kakaknya padaku, sekarang juga!"

__ADS_1


"Hah! Untuk-"


Tut, Arthur langsung mematikan panggilan mereka. Dia lalu mengembalikan ponsel Pak Banu yang masih berdiri di sampingnya.


Masya, yang saat itu sedang berada di dalam taksi online merasa benar-benar kesal dengan apa yang Arthur lakukan. Sejak tadi, dia dan supir taksi online itu kesusahan untuk mengambil poselnya yang terjatuh ke dalam saluran air.


Untung saja masih tersangkut di sebuah besi, tetapi butuh waktu satu jam untuk mengambilnya. Itulah sebabnya dia tidak bisa menjawab panggilan dari Arthur.


Arthur sendiri langsung pergi dari rumah Masya saat sudah mendapat alamat Kiki, dia kembali melajukan mobilnya untuk menemui Lili dan Zia.


Sesampainya di halaman rumah yang sesuai dengan alamat yang dikirim Masya, Arthur segera turun dan berlalu mengetuk pintu rumah itu.


Tidak berselang lama, seorang gadis kecil tampak membuka pintu dengan kesusahan membuat wajah Arthur yang sejak tadi kusut berubah jadi ceria.


"Zia!"


Arthur menghampiri Zia dan langsung memeluknya dengan erat, dia merasa sangat bahagia melihat gadis kecil itu.


Lili dan Kiki yang masih berada di dalam rumah mendengar suara Arthur langsung bergegas keluar, mereka terkejut saat melihat Zia berada dalam pelukan lelaki itu.


"Arthur? Apa, apa yang kau lakukan di sini?"


Arthur mendongakkan kepalanya, dia lalu melepaskan pelukan tangannya dan berlalu menghampiri Lili yang sedang berdiri di ambang pintu.


Tanpa disangka-sangka, Arthur langsung memeluk tubuh Lili dengan erat, sama seperti dia memeluk tubuh Zia tadi.


Lili terlonjak kaget dengan apa yang Arthur lakukan, begitu pula dengan Kiki. Dia sudah mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menarik tubuh lelaki itu.


"Jangan tinggalkan aku, jangan menghilang lagi! Aku, aku minta maaf, tolong maafkan aku!"


Tubuh Lili semakin kaku, begitu juga dengan Kiki. Dia yang sudah mengangkat tangannya tidak kuasa untuk menarik Arthur membuat tangan itu menggantung di udara.


"Baiklah, aku sudah memutuskan semuanya! Aku akan tetap bersama mereka, aku akan menjaga mereka! Aku juga akan semakin memupuk rasa cintaku untuknya!"


Arthur sudah bertekad untuk mempertahankan perasaannya terhadap Lili, dan mulai sekarang. Wanita itu harus bersiap, karna dia akan mencurahkan seluruh cintanya untuk janda beranak satu itu.





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2