
Setelah mendengar ancaman dari sang istri, Ayah Barra berlalu pergi ke arah belakang dengan diikuti oleh Bian sementara yang lain tetap berada dalam rumah itu.
Ayah Barra terus berjalan sampai sedikit jauh dari rumahnya, dia tidak ingin keluarganya menguping pembicaraannya dengan Bian.
"Tuan-"
"Apa? Kau mau membicarakan apa?"
Ayah Barra melihat Bian dengan tajam, sementara Bian sendiri hanya tersenyum tipis melihat kelakukan lelaki paruh baya itu.
"Tuan, adik saya tidak ada hubungannya dengan urusan kita. Jadi saya mohon, restuilah hubungannya dengan Kiki!"
"tidak!" jawab Ayah Barra dengan langsung, dia bahkan tidak berpikir dulu sebelum menolak ucapan lelaki itu.
"Tapi kenapa, Tuan? Kenapa Tuan menolaknya?"
Ayah Barra mendessah kesal, tanpa dijawab pun seharusnya Bian sudah tau kalau dialah penyebab semuanya.
"kau tidak sadar diri, yah!" cibir Ayah Barra.
Bian terdiam dengan pikiran berkecambuk, dia dibuat pusing saat Kiki dan Masya mengadukan penolakan Ayah Barra, dan sekarang dia bertambah pusing dengan ucapan lelaki paruh baya itu.
"jadi, sekarang mau Tuan bagaimana?"
"aku tidak mau apapun!"
"jadi, Tuan bisa dong merestui mereka?"
"Jangan harap!"
Bian benar-benar dibuat kesal dengan apa yang Ayah Barra lakukan, jika saja bukan karna adiknya, dia pasti sudah pergi dari tempat itu.
"anda berubah menjadi sangat menyebalkan yah, Tuan!"
"Apa?"
Ayah Barra terkejut dengan apa yang Bian katakan, sementara Bian hanya tertawa saja karna berhasil membalas perlakuan lelaki paruh baya itu.
"maaf, Tuan! Saya hanya bercanda,"
"Cih!"
__ADS_1
Ayah Barra membuang muka sebal, lalu dia kembali melihat ke arah Bian yang masih tertawa. "Keluar dari elang darah, maka aku akan merestui mereka!"
Deg, Bian langsung terdiam saat mendengar ucapan Ayah Barra. Selama ini dia selalu melakukan berbagai cara agar Ayah Barra mau kembali, tetapi sekarang malah Ayah Barra yang memaksanya untuk keluar.
"Tuan, saya paham-"
"Tidak ada untungnya lagi kau di sana, Bian! Jangan sampai keluargamu berada dalam bahaya karna kesenanganmu, pikirkan itu!"
Bian kembali diam, dia juga menyadari kalau apa yang Ayah Barra katakan adalah benar. Namun, dia benar-benar tidak ingin keluar dari kelompok itu.
"Saya sudah memindahkan mereka kemari, Tuan! Dan saya sudah memutuskan untuk menetap di Negara ini!"
Ayah Barra sedikit terkejut dengan apa yang Bian katakan. "Apa kau sudah gila? Kau membawa bahaya dekat dengan keluargamu sendiri, Bian!" Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang lelaki itu lakukan.
"Tidak, Tuan! Saya sudah mengganti segalanya, dan saya juga berencana untuk membangun pabrik anggur terbesar di Negara ini. Tentu saja, elang darah yang akan menjalankannya!"
Ayah Barra terdiam, sepertinya dia sedang memikirkan rencana yang akan Bian lakukan.
"Bagaimana dengan pemimpin yang lain? Mereka pasti tidak akan tinggal diam!"
Dalam kelompok besar, tentu bukan hanya ada satu pemimpin saja. Melainkan ada beberapa orang, hanya saja posisi Ayah Barra waktu itu memang berada di puncak tertinggi dari pemimpin.
"Aku sudah membicarakannya pada mereka, Tuan! Tuan tau sendiri, sejak kepergian tuan. 20% dari elang darah juga pergi, termasuk beberapa pemimpin. Sekarang hanya ada saya dan Andra saja!"
"bagaimana dengan Andra? Apa dia setuju?"
"tentu saja, Tuan! Apalagi dia tau kalau saya akan bekerja sama dengan anda!"
"apa? Aku tidak pernah bilang ingin bekerja sama denganmu!" bantah Ayah Barra.
Bian tersenyum simpul. "Jadi, Tuan tidak ingin bergabung dengan saya?" Tawarnya kemudian.
Ayah Barra berbalik dan meninggalkan Bian tanpa menjawab pertanyaannya, dia lalu kembali menemui semua orang yang sedang menunggu mereka.
Bian mendessah pasrah dan mengikuti langkah lelaki paruh baya itu dengan gontai, hancur sudah rencananya kalau sampai Ayah Barra tidak ingin bergabung dengannya.
"Suamiku!"
Ibu Tasya langsung berlari ke arah suaminya saat melihat lelaki itu masuk ke dalam rumah. "Jadi, kapan kita akan melamar Masya?"
Ayah Barra terdiam sembari melihat Bian dengan tajam, sementara yang lain menunggu jawabannya dengan jantung berdebar keras.
__ADS_1
"terserah kau saja!"
"A-apa? Apa kau serius?"
Ibu Tasya merasa tidak percaya dengan apa yang Ayah Barra katakan, begitu jug dengan yang lainnya. Bahkan Kiki sampai bengun dan berjalan ke samping Ayahnya.
"Suamiku, apa kau merestui Kiki dan Masya?" tanya Ibu Tasya kembali, dia harus mendengar jawaban yang jelas dari suaminya.
"Ck! Memangnya aku harus menjelaskanya lagi?"
Ibu Tasya langsung memeluk tubuh suaminya dan mengecupi bibir Ayah Barra beberapa kali, dia merasa sangat bahagia karna suaminya sudah merestui hubungan anaknya.
Kiki yang juga sangat senang langsung melompat-lompat kegirangan, dia lalu memeluk tubuh Bian yang mematung sambil melihat ke arah Ayah Barra.
"Terima kasih, Kak! Akhirnya Ayah ngasi restu berkat kakak!"
Bian hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis, dia masih tidak percaya kalau Ayah Barra menyetujui apa yang dia katakan.
Setelah semuanya selesai, Ibu Tasya langsung menelpon seseorang untuk menyiapkan segalanya. Begitu juga dengan Kiki dan Lili, mereka sibuk mempersiapkan acara lamaran yang akan dilangsungkan besok hari.
"Jadi, giliranku kapan?"
Tiba-tiba Arthur buka suara, dia yang sejak tadi diam memilih angkat bicara karna merasa posisinya tersisihkan.
"setelah lamaran Kiki selesai, kita akan langsung mengurus acaramu dan Lili yah!" jawab Ibu Tasya.
Arthur langsung cemberut mendengar jawaban wanita paruh baya itu. "Kan aku duluan yang minta restu, kenapa mereka duluan yang nikah bu?" Arthur merasa tidak adil.
"kami kan Kakak, sudah jelas Kakak itu harus duluan!" ucap Kiki dengan bangga, pas sekali dia dan Masya sama-sama kakak mereka.
"Cih!"
Arthur mendengus sebal, dan itu berhasil membuat semua orang terkekeh karna melihat raut wajahnya.
"Makanya, lain kali itu antri! Dasar tukang tikung!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 🥰