Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 76. Persiapan Pernikahan.


__ADS_3

Keluarga Arthur, Masya dan Lili setiap hari sibuk mempersiapkan acara pernikahan yang super mewah dan berkelas untuk mereka.


Kedua orang tua Masya sudah mempersiapkan gedung untuk acara itu disebuah hotel bintang 5 yang ada dipusat kota, sementara orangtua Arthur juga menyewa wedding organizer paling terkenal dan bagus yang ada di negara itu.


Arthur dan Lili dilarang keras untuk keluar dari rumah, kedua orangtua mereka trauma dengan apa yang sebelumnya terjadi, dan memang mereka harus banyak istirahat sebelum hari pernikahan.


Begitu juga dengan Kiki dan Masya, hanya saja mereka tetap harus bekerja dan mendapat cuti 2 hari sebelum pesta pernikahan dilaksanakan.


Saat ini, Mama Mawar sudah seperti gangsingan yang terus berputar tanpa henti. Dia ke sana kemari mempersiapkan semuanya dengan baik, dia tidak ingin pesta pernikahan anak satu-satunya terlihat biasa saja.


"Duduk dulu, War! Kalau kau terus menghabiskan tenagamu, dipernikahan nanti kau pasti tepar!"


Orangtua Masya memperingati Mama Mawar, karna memang wanita itu seperti punya 10 tenaga yang terus bekerja tanpa henti.


"Udah siap kok, Kak! Tinggal periksa aja!"


Mama Mawar duduk di samping Kakaknya sembari mengipas tubuhnya yang berkeringat, cuaca panas membuat tubuhnya gerah dan ingin sekali berendam di air dingin.


"Bagaimana? Apa semua sudah selesai, Besan?"


Tiba-tiba Ibu Tasya menghampiri ke dua Besannya sembari membawa buket bunga, dia baru saja kembali dari toko bunga dan membeli bunga itu untuk suaminya.


"Semua sudah siap, Jeng! Tinggal nunggu gaun pengantinnya siap saja!"


Mama Mawar menyuruh Ibu Tasya untuk duduk, ketiga wanita paruh baya itu menjadi pusat perhatian karyawan yang sedang membersihkan gedung yang akan mereka gunakan untuk pernikahan.


Bukan apa-apa, saat ini ketiga wanita paruh baya itu tampak menawan dimata mereka. Gaya mereka yang anggun, serta penampilan sederhana tetapi tetap terlihat mewah melekat dalam diri mereka. Wajah mereka juga cantik terawat, sungguh suami-suami mereka pasti sangat beruntung memiliki istri sesempurna mereka.


Padahal, semua yang ada dalam pikiran karyawan-karyawan itu adalah fitnah terkejam dimuka bumi ini. Ketiga wanita itu jauh dari kata anggun, terutama Mama Mawar yang tingkah lakunya bak to*kek belang.


Setelah para besan itu mengobrol ria, mereka lalu sama-sana pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Tugas hari ini sudah selesai dilaksanakan, dan besok sudah ada tugas baru yang melambai-lambai di depan mata mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tubuhku capek sekali!"


Mama Mawar menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, sudah 3 hari dia sibuk ke sana kemari mempersiapkan segalanya sampai tidak sempat untuk istirahat.


"Mama!"


Baru saja mata Mama Mawar terpejam, sudah ada gangguan dari makhluk astral yang dia ketahui wujudnya.


"apa?" tanya Mama Mawar tanpa membuka kedua matanya.


"Aku lapar!"


Mama Mawar segera bangun dan menatap Arthur dengan tajam. "Lapar kan tinggal makan, apa kau makan dari mulut Mama?" Dia merasa kesal mendengar keluhan anaknya itu.


"Bukan begitu, masalahnya tidak ada yang bisa di makan di rumah ini! Apa Mama pikir aku mau makan meja, atau kursi?"


Mama Mawar mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Tidak ada yang bisa dimakan bagaimana? Jelas-jelas di dalam kulkas banyak makanan!"


Mama Mawar segera bangun dan berjalan ke dapur, sementara Arthur mengikuti langkah sang Mama tanpa kursi rodanya.


Jeng, kosong melompong. Mata Mama Mawar membulat sempurna saat melihat kulkas itu kosong, hanya ada air mineral yang mengisi kulkas tersebut.


"Mama sibuk ngurus pernikahanku, sedangkan aku gak dikasi makan. Apa gak koit duluan aku nanti!"


Plak! Tangan Mama Mawar langsung memukul kepala Arthur membuat lelaki itu mengerrang kesakitan.


"Mulutmu itu, nanti nyawamu dicabut beneran sama Tuhan baru tau!"


Mama Mawar lalu menarik kursi dan duduk di sana, terlalu sibuk menyiapkan pernikahan hingga dia lupa memenuhi kampung tengah keluarganya.


"Kau kan bisa pesan online?"

__ADS_1


Arthur terdiam, dia mengedipkan matanya beberapa kali melihat kebod*hannya sendiri. Bagaimana mungkin dia tidak ingat kalau bisa pesan makanan online?


"Apa? Kau baru sadarkan kalau kau itu bod*oh?"


Arthur menganggukkan kepalanya. "Iya, aku bod*oh! Tapikan, keturunan dari Mama!"


"Apa?"


Arthur langsung berlari ke arah kamarnya sebelum digebukin oleh sang Mama, sementara Mama Mawar mengumpat kesal mendengar ucapan kurang ajar Arthur.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Lili sedang menemani Zia bermain. Putrinya terlihat senang dengan mainan yang baru saja Ayahnya beli, yaitu sebuah pistol berwarna hitam yang sama persis dengan pistol asli milik Ayah Barra.


"Dasar kau, aku tau kenapa kau membelikan mainan pistol untuk cucuku!"


Ibu Tasya mencubit lengan suaminya membuat Ayah Barra tertawa lebar, dia lalu memeluk tubuh sang istri dan mengecup bibirnya sekilas.


"Dia harus tau cara memegang senjata, supaya dimasa depan dia sudah terbiasa!"


Dasar Ayah Barra, sepertinya dia sudah mengajari Zia berperang sejak dini untuk mengikuti jejaknya.


"Cih, awas saja kalau kau berani macam-macam! Tapi, pistol itu benar-benar sama seperti yang asli yah!"


Ayah Barra tersenyum. "Tentu saja sama, pistol itukan memang asli!"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2