Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Saran dari Ifan


__ADS_3

"Aku pengin punya anak Mas. Sudah tujuh tahun lebih aku menikah, dan sampai sekarang aku belum dikasih keturunan," jelas Irene dengan mata berkaca-kaca.


"Apa...! kamu serius Ren?" Ifan sudah mulai menanggapi serius ucapan Irene.


"Iya. Aku serius. Untuk apa aku bohong."


"Jadi, kamu belum punya anak? kenapa kamu nggak pernah cerita Ren sama aku. Aku fikir, kamu itu udah punya anak."


"Untuk apa aku cerita sama kamu Mas. Kamu aja tidak pernah tanya soal anak ke aku."


"Iya sih. Aku sampai lupa tanya soal itu."


"Kalaupun aku cerita, kamu juga tidak akan pernah bisa membantu aku." Irene mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ya iyalah. Bagaimana caranya aku bisa bantu kamu untuk bisa hamil. Kecuali kamu mau tidur sama aku," gumam Ifan.


Irene terkejut saat mendengar ucapan Ifan.


"Apa! kamu bicara apa Mas, barusan?"


Ifan menyeringai.


"Nggak. Aku nggak bicara apa-apa. Mungkin kamu salah dengar kali."


Irene menghela nafas dalam..m Sudah jelas Irene dengan ucapan Ifan. Tapi, Ifan selalu saja mengelak.


"Kalau soal itu, memang aku tidak bisa bantu kamu Ren. Tapi aku bisa nyaranin kamu untuk mengadopsi anak. Di panti ini kan,banyak anak yatim piatu. Kamu angkat aja salah satu dari mereka untuk jadi anak kamu," ucap Ifan.


Irene menatap lekat Ifan. Dia kemudian tersenyum.


"Kamu benar Mas. Mungkin sudah saatnya aku untuk mengadopsi anak."


"Iya. Siapa tahu, dengan kamu mengadopsi seorang anak dari panti, bisa memancing agar kamu bisa hamil."


"Tapi, kalau aku atau suamiku mandul, kami tidak akan mungkin bisa punya anak Mas. Tapi, anak adopsi aja udah cukup kali ya."


"Maaf, kalau boleh tahu, siapa yang mandul ? kamu atau suami kamu. Apa kalian sudah memeriksakannya ke dokter?" 


Irene menggeleng. 


"Belum Mas. Mas Irwan nggak pernah mau diajak untuk periksa ke dokter. Aku pun belum sempat Mas, untuk periksa begituan. "


"Em, saran aku nih, kalau kamu mau mengadopsi anak di sini, kamu harus izin dulu sama suami kamu Ren. Kalau dia udah ngizinin kamu, baru deh nanti kamu ke sini lagi untuk mengadopsinya. Atau kamu ajak suami kamu, datang ke sini langsung." Ifan menyarankan.


"Iya Mas. Saran kamu, memang bagus. Kenapa ya aku nggak kefikiran soal itu." 


Setelah lelah bermain dengan anak-anak panti, Alma menghampiri ayahnya. 


"Papa, udah sore. Kapan kita mau pulang?" tanya Alma.


Ifan menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjuk ke angka empat.


"Jam berapa Mas?" tanya Irene.

__ADS_1


"Jam empat Ren." 


Ifan menatap anaknya.


"Kamu udah puas mainnya?" tanya Ifan.


Alma mengangguk. 


"Udah Pa, dan sekarang aku pengin pulang Pa. Aku capek." 


"Ya udah sayang. Kita pulang sekarang ya." 


"Iya Pa."


Setelah seharian Ifan, Irene dan Alma berada di panti, mereka kemudian meminta izin untuk pulang ke rumah. Mereka melangkah ke dalam untuk menemui ibu panti. 


"Saya mau pulang Bu. Alma sudah minta pulang," ucap Ifan pada Bu Nunung ibu panti.


Bu Nunung tersenyum dan menatap Alma.


"Alma nggak mau nginap di sini? di sini teman-temannya banyak tuh. Nginep aja di sini, nanti ibu yang akan antarkan Alma pulang," ucap Bu Nunung. 


Alma menggeleng. "Aku nggak mau nginap. Aku mau pulang aja sama papa."


"Lain kali aja Bu, Alma besok juga harus sekolah. Jadi nggak bisa lama-lama mainnya. Nanti kapan-kapan kalau ke sini lagi," ucap Ifan.


"Oh. Ya udah. Terimakasih banyak ya Pak Ifan untuk hadiah-hadiahnya. Sepertinya anak-anak seneng banget mendapat baju-baju baru pemberian Pak Ifan."


"Iya Pak."


Setelah berpamitan dengan Bu Nunung, Ifan, Irene dan Alma kemudian melangkah ke luar untuk pulang. 


"Alma, kamu mau pulang ya?" Anak kecil perempuan sepantaran Alma tiba-tiba saja mendekati Alma.


"Iya Febi. Aku mau pulang," jawab Alma.


"Kapan kita bisa main bareng lagi Al?" tanya Febi.


"Nggak tahu," Alma mengedikan bahunya.


Ifan mendekat ke arah anak kecil itu.


"Almanya harus pulang sayang. Lain kali Alma main ke sini lagi ya. Besok Alma harus sekolah. Kamu juga besok mau sekolah kan?" 


Febi mengangguk. Sementara Bu Nunung langsung melangkah mendekat ke arah Febi. 


"Alma mau pulang dulu Feb. Kamu main lagi sana sama teman-teman yang lain."


"Iya Bunda," ucap Febi. Setelah itu, Febi pun berlari masuk ke dalam rumah panti.


Setelah Febi masuk ke dalam, Ifan, Alma dan Irene masuk ke dalam mobil mereka.


"Hati-hati di jalan Pak Ifan," ucap Bu Nunung.

__ADS_1


Ifan mengangguk dan tersenyum.


"Saya tinggal dulu Bu," ucap Ifan sebelum menyalakan mesin mobilnya.


Bu Nunung mengangguk. Setelah itu, Ifanpun meluncur pergi meninggalkan panti asuhan Itu.


Di dalam mobil, Alma bercerita tentang keseruannya bermain dengan anak-anak panti. Sementara sejak tadi, Irene hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak asuhnya itu. 


Hoaaam...


Alma sudah menguap. Sepertinya dia sudah mulai mengantuk. 


"Alma mau bobok? bobok aja sini dipangkuan Tante." Irene menepuk ke pangkuannya.


Alma kemudian meletakan kepalanya di pangkuan Irene. Mereka akhirnya terlelap bersamaan.


Ifan menatap Alma dan Irene dari spion kaca mobilnya. Ifan tersenyum saat melihat Irene dan Alma terlelap di dalam mobil. 


"Aku yakin, Irene juga pasti lelah. Sama seperti Alma."


Ifan sejak tadi, masih senyam-senyum sendiri menatap Alma dan Irene dari kaca spion mobilnya.


'Andai saja, Irene itu belum bersuami, pasti sudah aku lamar dia dan aku jadikan ibu sambungnya Alma. Dia wanita yang baik. Alma saja, sudah sangat sayang sama dia.' batin Ifan di sela-sela menyetirnya.


Setelah menempuh satu jam perjalanan dari panti asuhan sampai ke rumah Ifan, akhirnya mobil Ifan sampai juga di depan rumahnya. Ifan menghentikan laju mobilnya.


Ifan turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil bagian belakang. Dia kemudian membangunkan Irene dengan menepuk-nepuk pipi Irene.


"Ren. Bangun Ren. Udah nyampe Ren."


Irene membuka matanya. Dia terkejut saat melihat Ifan sudah ada di dekatnya.


"Mas, udah sampai ya?" Irene tampak bingung dan melihat ke sekeliling.


"Iya. Kita udah nyampe."


Irene buru-buru turun dari mobil.


"Mas. Aku mau langsung pulang dulu ya."


"Aku antar ya."


"Nggak usah. Aku bisa pulang naik taksi. Aku nggak mau nanti suami aku lihat kita berdua."


"Iya. Terserah kamu aja Ren."


"Alma tidur ya?" Irene menatap Alma.


"Iya. Dia nanti juga akan aku gendong masuk ke dalam."


"Ya udah Mas. Udah sore. Kasihan suami aku, kalau ditinggal kelamaan di rumah. Kondisinya juga belum membaik."


"Iya Ren. Hati-hati di jalan ya."

__ADS_1


__ADS_2