Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Ke rumah sakit.


__ADS_3

"Alma sayang. Sekarang Alma makan ya sama Tante."


Alma menggeleng.


Sejak tadi Irene masih membujuk Alma untuk makan. Tapi Alma tidak mau makan juga. Membuat Irene bingung sendiri.


'Gimana ya caranya membujuk Alma agar dia mau makan'


"Aku mau papa Tante..."


"Iya. Tunggu ya Al. Papa kamu sebentar lagi juga sampai kok," ucap Irene.


Ceklek.


Pintu kamar Alma tiba-tiba terbuka. Ifan tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Alma.


Irene berdiri dan menghampiri Ifan.


"Pak Ifan," ucap Irene.


"Gimana dengan Alma?" tanya Ifan.


"Dia belum mau makan Pak." Irene menatap Alma lekat.


"Ya udah. Kamu siap-siap Ren. Kita akan ke rumah sakit. Aku nggak mau membiarkan Alma kelamaan sakit. Kita harus bawa dia ke rumah sakit," ucap Ifan yang saat ini, sangat mengkhawatirkan kondisi Alma.


"Baik Pak."


Irene kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ifan tidak akan mungkin membiarkan Alma terus menerus sakit. Ifan tidak mau terjadi apa-apa dengan Alma.


Ifan dan Irene kemudian membawa Alma ke mobil. Mereka meluncur ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Alma ke dokter.


"Sabar ya sayang. Sebentar lagi, kita akan nyampe ke dokter," ucap Ifan.


Di sela-sela Ifan menyetir, Ifan masih menatap Irene dan Alma yang duduk di belakang mobil. Alma masih berbaring di pangkuan Irene.


'Apa begini ya, rasanya punya anak sakit. Mas Ifan kelihatannya panik banget.' batin Irene.


"Ren. Alma tidur ya?"


"Iya Mas."


"Ya udah. Biarkan saja dia."


Beberapa saat kemudian, mobil Ifan sudah berada di depan rumah sakit. Ifan menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di tempat parkir.


Ifan turun dari mobilnya. Setelah itu dia membuka pintu untuk Irene.


"Sini Al, ikut Papa Al."


Ifan kemudian menggendong anaknya dan masuk ke dalam rumah sakit. Sementara Irene, hanya bisa mengekor di belakangnya.


Ifan dan Irene masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Dokter, tolong anak saya. Anak saya sejak semalam demam, dan belum turun-turun juga panasnya," ucap Ifan pada Dokter.


"Iya. Saya periksa dulu ya Pak."


Dokter kemudian memeriksa Alma. Setelah itu, dia duduk kembali. Sementara Alma masih berbaring di atas ranjang.


"Dokter. Kenapa dengan anak saya Dok? kenapa anak saya panasnya tinggi sekali dan nggak turun-turun?" tanya Ifan menatap Dokter lekat.


"Ada kemungkinan, Alma itu terserang demam berdarah," jelas Dokter.

__ADS_1


"Apa! demam berdarah?" Ifan tampak terkejut.


"Iya Pak. Demam berdarah bisa di karenakan lingkungan yang kurang bersih. Dan banyak nyamuk yang berkeliaran."


"Tapi, Alma nggak pernah main ke mana-mana."


"Mungkin di sekolahnya Pak. Biasanya lingkungan sekolah yang kurang bersih juga mempengaruhi."


"Alma apa langsung bisa pulang Dok?" tanya Irene yang sejak tadi masih menemani Alma.


Dokter menatap Alma.


"Alma kelihatannya sangat lemas. Saya sarankan, Alma untuk rawat inap dulu aja di sini untuk beberapa hari. Karena kalau di biarkan, takut akan terjadi apa-apa dengan dia. Kalau di rumah sakit kan bisa mendapat perawatan intensif dari dokter."


"Baiklah Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Iya Pak."


****


Sore ini, Irwan masih tampak uring-uringan menunggu Irene pulang. Sejak tadi dia menelepon Irene. Namun, tidak pernah ada jawaban dari Irene.


"Ke mana sih Irene. Kerja kok, nggak bisa di telpon. Nggak tahu suami lagi lapar apa," gerutu Irwan.


Irwan mencoba untuk menelpon Irene sekali lagi.


"Halo Mas..."


"Irene. Dari mana aja kamu? kenapa suami nelepon, nggak pernah di angkat...!"


"Maaf Mas. Ponsel aku ketinggalan di mobil."


"Mobil? mobil siapa hah...!"


"Maksud aku, em... itu Mas. Tadi tas aku ke bawa sopir taksi. Dan baru dikembalikan tadi."


"Nggaklah. Untuk apa aku bohongin kamu Mas."


"Irene. Aku lapar. Aku mau makan."


"Mas. Di rumah kan sudah ada nasi."


"Nasi tanpa lauk mana enak Ren."


"Mas, di kulkas ada telor sama sayuran. Kamu bisa masak mie instan kan?"


"Mie lagi? kamu ini apa-apaan sih Ren. Kamu udah aku izinin kerja. Tapi kok kamu malah ngelantur begini. Kamu lupa dengan kewajiban kamu."


"Mas. Kalau aku berhenti kerja, lalu kita mau makan apa Mas? kamu aja masih nganggur gitu."


"Halah, alasan saja kamu itu Ren. Bilang aja kalau kamu udah malas melayani suami kamu. Terserah lah Ren."


"Mas, jangan marah dong. Aku kerja juga buat kita kan Mas. Untuk masa depan kita."


"Tapi Ren, aku masih butuh kamu di rumah. Aku udah terbiasa di layani kamu."


"Mas. Jangan manja deh. Sekarang aku sibuk. Kalau kamu lapar, kamu bisa masak mie, atau goreng telor. Nggak sampai sepuluh menit Mas."


"Sibuk sibuk sibuk, sibuk aja terus!"


Tut.. Tut... Tut..


Irwan memutuskan saluran telponnya dengan sepihak. Dia sudah merasa geram pada istrinya. Padahal baru hari ini saja Irene tidak memasak. Tapi, Irwan sudah marah-marah tidak jelas.

__ADS_1


Irwan melangkah ke dapur. Dia mengambil telor dan Mie. Irwan kemudian memasak mie instan campur telor.


"Sial banget sih hidup aku. Punya istri kayak Irene. Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, aku nggak akan mau nikah sama wanita seperti dia. Udah nggak bisa ngasih aku anak, sekarang udah sering banget membantah suami. Kalau seperti ini terus, lebih baik aku cari istri lain saja. Biar tahu rasa dia," gerutu Irwan di sela-sela kesibukannya memasak mie.


Setelah mie matang, Irwan kemudian menyajikannya di mangkuk.


Dia kemudian menyantap mie itu dengan lahap.


Selesai makan, Irwan ke luar dari rumahnya. Dia menatap ke rumah samping. Tampak Ajeng sedang menyiram bunga.


Irwan menghampiri Ajeng.


"Hai..." sapa Irwan.


Ajeng menoleh dan menatap Irwan. Dia kemudian memutar tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Irwan.


"Mas Irwan."


"Kamu lagi ngapain Jeng?"


"Ini. Nyiram bunga. Kamu sendiri? ngapain di sini?"


"Dio mana?" tanya Irwan.


"Dia ada di dalam."


"Boleh aku masuk?"


"Oh. Silahkan Mas."


"Makasih ya."


Irwan kemudian masuk ke dalam rumah Ajeng untuk menemui Dio.


"Halo Dio...!"


Dio yang sedang bermain di ruang tengah, menatap Irwan.


"Om Irwan." Dia tampak bahagia saat melihat kedatangan Irwan.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Irwan duduk di dekat Dio.


"Lagi main apa?" tanya Irwan.


"Mobil-mobilan Om."


"Oh. Coba Om lihat."


Irwan mengambil salah satu mobil milik Dio.


"Dio pengin nggak, Om belikan mobil-mobilan seperti ini lagi?"


"Mau Om."


"Lain kali ya. Kalau Om sudah kerja, Om akan ajak Dio untuk jalan-jalan sama Mama Dio."


"Wah, ke mana Om?"


"Ke mana aja. Terserah Dio."


"Ke mall Om? mama suka shopping ke mall Om."


"Boleh deh. Lain kali kita ke mall ya."

__ADS_1


"Asyik...!" Dio tampak bersorak gembira.


Selama ini, Dio sudah tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Dan dia bahagia karena Irwan mau memperhatikannya.


__ADS_2