Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Bertemu Alma di jalan


__ADS_3

"Duh, apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa aku cari ojek lain aja. Atau aku naik taksi. Tapi aku nggak bawa uang banyak untuk ongkos taksi. Atau, aku telpon Mas Ifan saja. Nggak deh, nggak. Aku nggak mau selalu merepotkan dia. Dia sekarang pasti juga sudah sampai kantor," gumam Irene.


Irene kemudian melangkah pergi meninggalkan gang kecil itu. Dia akan menuju ke jalan raya untuk mencari ojek atau taksi.


Tin tin tin...


Suara klakson di belakang Irene tiba-tiba saja berbunyi. Membuat Irene menoleh ke arah mobil yang ada di belakangnya.


Tiba-tiba saja, dari dalam mobil, muncul kepala Alma. Dia tersenyum pada Irene.


"Mama..." seru Alma.


Irene mengernyitkan alisnya.


'Duh, Alma. Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul di sini,' batin Irene.


Ifan dan Alma kemudian turun dari mobilnya, setelah mereka melihat Irene di tepi jalan. Ifan dan anaknya kemudian menghampiri Irene.


"Kamu mau ke mana Ren? pagi-pagi gini kenapa ada di jalan raya?" tanya Ifan.


"Eh Mas. Itu Mas..." Irene bingung untuk menjawab pertanyaan Ifan.


"Aku baru aja mau ke rumah kamu. Tapi, aku ketemu kamu di sini," ucap Ifan.


"Ke rumah aku? untuk apa?"


"Untuk jemput kamu. Sesuai permintaan Alma."


"Hah..."


"Kenapa Ren?"


"Mas, untuk apa kamu ke rumah suami aku. Gimana kalau dia marah lagi sama kamu, dan dia bisa buat kamu babak belur lagi." Irene tampak tidak tega melihat Ifan babak belur karena suaminya.


Ifan menghela nafas dalam.


"Yah, selama aku nggak salah, untuk apa aku takut sama suami kamu Ren."


Wajah Irene tiba-tiba saja berubah menjadi sedih. Dia masih teringat saja kejadian tadi sewaktu dia datang ke rumah Irwan.


"Lho Ren. Kamu kenapa sedih gitu? kamu nggak seneng ketemu lagi sama Alma? kamu nggak kangen sama Alma. Alma itu katanya kangen banget sama kamu Ren," ucap Ifan menuturkan.


Irene menatap Alma lekat. Dia kemudian tersenyum dan berjongkok di depan Alma.


"Alma. Anak mama." Irene tiba-tiba saja mendekap erat Alma.


Rasanya, hatinya mulai tenang saat berada di pelukan anak itu.


"Tante Iren, kenapa Tante Iren nggak ke rumah aku. Aku kangen banget sama Tante Iren. Tante Iren, apakah aku masih boleh panggil Tante Iren Mama?" tanya Alma.


Irene tersenyum sembari menangkup wajah cantik Alma.


"Boleh Alma," jawab Irene singkat.


Irene tiba-tiba saja meneteskan air matanya. Irene buru-buru mengusapnya. Dia tidak mau terlihat lemah di depan Alma. Begitu juga di depan Ifan mantan suaminya.


"Mama. Aku sayang banget sama Mama. Mama jangan nangis dong...!" Alma menatap lekat wajah Irene.

__ADS_1


"Mama nggak nangis kok sayang."


Irene bangkit berdiri. Tiba-tiba saja, Alma meraih tangan Irene. Dia juga meraih tangan ayahnya dan menyatukan tangan mereka berdua.


'Apa-apaan ini Alma. Bikin malu aja' batin Ifan.


"Aku pengin Papa nikah sama Tante Iren. Aku pengin punya Mama."


Alma menatap Ifan dan Irene bergantian.


Irene merasa tidak tega saat menatap Alma. Sebegitu rindunya kah Alma dengan sosok seorang ibu.


'Suamiku, tidak mengharapkan aku lagi. Tapi, Alma sangat mengharapkan kehadiran aku. Aku nggak tega, melihat Alma.' batin Irene.


Ifan tersenyum. Dia kemudian buru-buru menggendong Alma.


"Alma. Sudah berapa kali Papa bilang sama kamu, kalau Papa nggak bisa nikah sama Tante Irene. Karena Tante Irene sekarang itu sudah punya suami." Ifan mencoba menjelaskan pada Alma. Alam memang susah untuk di beri pengertian.


"Kalau Tante Iren udah punya suami, itu nggak bisa nikah ya papa?" tanya Alma dengan polosnya.


"Ya nggak bisa. Tapi kalau kamu mau anggap Tante Iren seperti Mama kamu sendiri boleh sayang."


"Oh. Gitu ya Papa."


Irene mendekat ke arah Alma.


"Sayang. Kamu mau ke sekolah kan? kita berangkat sekarang yuk!" ajak Irene.


"Kamu mau ikut kami Ren?" tanya Ifan.


"Ya udah. Masuk yuk Ren!" ajak Ifan.


"Iya Mas."


Irene kemudian masuk ke dalam mobil Ifan. Begitu juga dengan Ifan dan Alma. Mereka juga ikut masuk ke dalam mobil..


Hati Irene sebenarnya lelah memikirkan suaminya sekarang. Tapi, jika Irene terus memikirkan Irwan, Irene tidak akan pernah bisa fokus dengan pekerjaannya dan hidupnya juga akan semakin rumit.


****


"Kamu kenapa Ren, dari tadi diam aja?" tanya Ifan di sela-sela menyetirnya.


"Aku nggak apa-apa kok Mas."


"Kamu yakin nggak apa-apa? atau kamu lagi ada masalah sama suami kamu lagi. Apa ini semua, gara-gara aku?" Ifan merasa tidak enak sendiri. Karena gara-gara Ifan, Irene sering berantem sama suaminya.


"Nggak kok Mas. Nggak ada hubungannya sama kamu."


Di dalam perjalanan ke sekolah, Ifan hanya ngobrol dengan Irene. Sementara Alma sudah tidur lagi di jok belakang.


"Mas, kenapa Alma tidur lagi?" tanya Irene.


"Hehe... mungkin dia masih ngantuk." Ifan terkekeh.


"Emang semalam dia tidur jam berapa dan tadi pagi, bangun jam berapa?"


"Semalam dia tidur jam sepuluh. Dan tadi dia bangun subuh."

__ADS_1


"Oh. Apa dia masih ngantuk ya. Terus, dia sudah ke sekolah lagi, apa dia sudah benar-benar sehat?"


"Iya. Dia udah sehat kok."


"Anak kamu lucu ya Mas."


Irene tersenyum saat melihat Alma.


"Iya."


"Seandainya mama Alma masih hidup, dia pasti akan sangat bahagia mempunyai anak pintar seperti Alma," ucap Irene lagi.


"Iya Ren."


Ifan sejak tadi hanya mengiyakan saja kata-kata Irene. Dia masih fokus menyetir.


Setelah sampai di depan gerbang sekolah Alma, Ifan menghentikan laju mobilnya.


"Udah sampai Ren. Sekarang kamu bangunkan Alma, dan ajak dia masuk!" pinta Ifan


"Iya Mas."


Irene turun dari mobil Ifan. Setelah itu dia melangkah ke pintu belakang untuk membangun Alma.


"Sayang. Alma. Bangun yuk! Kita udah nyampe nih ke sekolah." Irene tampak menepuk-nepuk pipi Alma.


Alma mengerjapkan matanya. Dia kemudian mengucek matanya dan beringsut duduk.


"Udah nyampe ya Ma?" tanya Alma.


"Iya sayang. Udah nyampe."


Alma kemudian turun dari mobil ayahnya. Sebelum masuk ke dalam sekolah, Alma menatap Ifan.


"Aku masuk ke dalam dulu ya Papa..."


Ifan mengangguk.


"Salim dulu sayang."


Alma mencium punggung tangan Ifan. Setelah itu Alma dan Irene melangkah masuk ke dalam sekolah.


Ifan hanya bisa tersenyum menatap kepergian Alma dan Irene.


"Aku nggak nyangka banget. Ternyata sekarang aku sudah punya anak sebesar Alma. Weni pasti bahagia jika dia melihat Alma sudah besar seperti sekarang," gumam Ifan di sela-sela kesendiriannya.


Setelah mengantar Irene dan Alma ke sekolah, Ifan kemudian melajukan kendaraannya sampai ke kantornya.


Sesampai di tempat parkiran kantor, Ifan kemudian turun. Dia melangkah masuk ke dalam kantornya dan melangkah masuk ke dalam ruangannya.


Ifan duduk di kursi kebesarannya. Dia kemudian menatap layar monitornya kembali untuk bekerja.


Tiba-tiba saja fikiran Ifan tertuju pada Irene.


"Tadi aku ketemu Irene di tepi jalan. Sebenarnya Irene itu mau ke mana ya. Dan kenapa dia jalan kaki," gumam Ifan.


"Tadi aku juga melihat kesedihan di mata Irene. Andai Irene mau cerita dengan masalahnya, pasti aku akan dengan senang hati membantunya. Tapi aku yakin, dia pasti sedang punya masalah dengan suaminya. Sebenarnya apa lagi sih masalah Irene sekarang." Ifan sama sekali tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada rumah tangga Irene saat ini.

__ADS_1


__ADS_2