Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Keputusan Teguh


__ADS_3

Pagi-pagi, tidak biasanya kepala Irene terasa sangat pusing. Irene juga merasa mual. Irene sejak tadi, masih berbaring di atas tempat tidurnya. Mungkin Irene masuk angin dan kelelahan, karena aktifitasnya kemarin sangat banyak.


"Aduh, kenapa kepala aku jadi sakit begini ya. Perut aku juga mual banget. Masuk angin kali ya," ucap Irene.


Irene turun dari tempat tidurnya dan melangkah mendekat ke arah jendela kamarnya. Dia membuka gorden jendela kamarnya.


"Udah siang banget. Jam berapa ini ya."


Irene menatap ke arah jam yang ada di dinding. Ternyata jam sudah menunjukkan ke angka 6.


"Udah jam enam pagi. Kayaknya, aku nggak nisa mengantar Alma sekolah."


Irene kemudian melangkah kembali naik ke atas tempat tidurnya. Dia berbaring lagi di atas tempat tidurnya.


Di sisi lain, Indah masih berada di dapur. Sejak tadi dia belum melihat Irene.


"Irene ke mana sih. Sudah siang begini, dia belum ke luar kamar juga. Apa dia nggak mau ke rumah Ifan," ucap Indah.


Biasanya setiap pagi, Irene sudah duluan ke dapur dan bantu-bantu Indah di dapur.


"Apa Irene belum bangun ya. Semalam, dia itu kan pulang malam banget. Mungkinkah dia nggak tidur semalaman karena begadang telpon-telponan dengan Ifan."


Indah yang penasaran, kemudian melangkah ke kamar Irene untuk melihat Irene.


Tok tok tok...


Indah mengetuk pintu kamar Irene. Beberapa saat kemudian, Irene membuka pintu kamarnya.


"Kamu baru bangun?" tanya Indah.


Irene menatap Indah, sembari memegangi kepalanya.


"Maaf Mbak. Hari ini, aku lagi nggak enak badan. Pusing banget kepala aku Mbak."


Ck ck ck..


"Kamu ini ya. Makanya, kalau malam jangan begadang mulu. Kalau telponan juga ada waktunya Iren."


"Ah, Mbak sok tahu. Emang semalam aku telponan sama Mas Ifan. Nggak kok. Cuma kemarin kan, aku dan Mas Ifan habis perjalanan jauh. Dan cuaca di panti, juga sangat dingin dan kemarin di sana hujan. Jadi begini deh. Masuk angin kayaknya.


"Ya sarapan. Terus minum obat."


"Iya Mbak."


"Terus, kamu mau ke rumah Alma atau nggak?" tanya Indah.


"Kayaknya nggak deh Mbak. Aku pusing banget. Kayaknya hari ini, aku beneran meriang deh."


"Ya udah. Istirahat saja di kamar. Nanti, Mbak yang masak."


"Makasih ya Mbak. Oh iya. Ngomong-ngomong, Mas Teguh masih ada di sini?" tanya Irene.


"Iya. Dia masih tidur di kamarnya."


"Kok nggak di bangunin? dia nggak kerja Mbak?"


"Biarin ajalah. Kalau mau kerja, nanti dia juga bangun sendiri. Malas Mbak kalau harus bangunin dia segala. Mbak juga lagi repot mau nganter anak-anak ke sekolahnya."

__ADS_1


"Ya udah. Sana, Mbak bangunin anak-anak. Nanti, kesiangan."


"Iya."


Indah kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar adiknya. Sementara Irene melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Irene kemudian mengambil ponselnya dan menelpon Ifan. Dia akan izin sama Ifan, kalau hari ini dia tidak bisa ke rumah Ifan dan mengantar Alma ke sekolah.


Beberapa saat kemudian, suara Ifan sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo Mas .."


"Halo sayang. Ada apa sayang? "


"Mas. Kayaknya aku libur dulu deh kerjanya."


"Libur kenapa libur?"


"Iya Mas. Aku lagi nggak enak badan Mas."


"Kamu sakit?"


"Iya Mas. Aku sakit. Kepala aku pusing dan aku juga mual.


Biasa lah. Mungkin masuk angin "


"Ya udah. Nggak apa-apa. Biar aku yang antar Alma sendiri ke sekolah. Lagian, Alma juga sudah mandiri kok. Udah nggak perlu di tungguin lagi. Iya kan?"


"Iya Mas. Sebentar lagi kan dia juga udah mau masuk SD."


"Iya Mas."


Setelah bertelponan dengan Ifan, Irene kemudian berbaring di atas tempat tidurnya dan kembali beristirahat.


****


Setelah mengantar anak-anak pulang sekolah, Indah masuk ke dalam rumahnya. Dilihatnya, Teguh masih tampak berada di ruang tengah.


"Indah. Aku ingin bicara sama kamu," ucap Teguh.


Indah diam.


"Indah. Kemarin lah! aku ingin bicara penting sama kamu."


Indah kemudian melangkah mendekat ke arah suaminya.


"Ada apa Mas?" tanya Indah.


"Indah. Aku mau minta maaf atas semua kesalahan aku. Apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Teguh.


"Aku nggak tahu Mas. Bisa maafin kamu atau tidak. Kesalahan kamu itu sudah terlalu besar sama aku Mas."


"Tolong maafin aku. Aku nggak bisa seperti ini terus Indah."


"Maksud kamu apa? dan mau kamu itu apa sih Mas?


"Indah. Aku tidak mau kamu cuekin aku terus. Dan aku juga tidak mau, kita cerai Indah. Kamu mau kan memberikan aku kesempatan satu kali lagi?"

__ADS_1


"Maaf mas. Aku nggak bisa. Aku tetap ingin cerai dari kamu setelah anak ini lahir."


"Cerai? tapi aku nggak mau Indah."


"Aku juga nggak mau hidup berbagi suami Mas. Kalau kamu nggak mau cerai dari aku dan mau kita tetap bersama, aku ingin kamu tinggalkan wanita itu. Apa kamu bisa tinggalkan wanita itu demi aku?"


"Baiklah. Aku akan tinggalkan wanita itu demi kamu dan anak-anak."


Indah terkejut saat mendengar ucapan suaminya. Dia kemudian menatap suaminya lekat.


"Benarkah, kamu mau meninggalkan wanita itu?"


"Iya Indah. Aku sadar, kalau aku memang tidak sanggup untuk punya istri dua. Dan aku juga nggak sanggup kalau harus di cuekin kamu terus. Apalagi untuk bercerai dari kamu."


"Kamu yakin, Mas dengan ucapan kamu itu?"


"Iya Indah. Aku yakin. Dan aku juga udah ngga mau ke rumah dia lagi. Aku akan menemani kamu dan anak-anak di rumah. Dan aku juga ingin membuka lembaran hidup baru bersama kamu dan anak-anak kita."


"Aku belum bisa percaya dengan ucapan kamu Mas. Bisa saja kamu mau bohongin aku lagi. Aku itu juga perlu bukti Mas. Kalau kamu benar-benar berubah."


"Nggak. Aku nggak mau bohongin kamu. Kalau kamu nggak percaya, aku akan buktikan perkataan aku Indah. Mulai sekarang aku akan di rumah terus menemani kamu dan anak-anak di sini."


Indah diam. Dia tidak tahu, kenapa suaminya tiba-tiba saja berubah.


'Apa yang sudah membuat Mas Teguh tiba-tiba saja berubah begini. Ah, tapi aku nggak mau fikirkan. Kalau iya dia mau berubah. Alhamdulillah aku akan pertahankan rumah tangga aku dengan dia. Tapi kalau nggak, ya sudahlah. Aku tetap ingin cerai dari dia."


****


Siang ini, Irene terbangun dari tidurnya. Irene masih tampak memegangi kepalanya karena masih pusing.


Irene kemudian keluar dari kamarnya. Dia menatap ke arah Indah yang sedang ngobrol dengan suaminya di ruang tengah.


"Mbak Indah, Mas Teguh. Kalian udah baikan?" tanya Irene.


Indah tersenyum. Dia kemudian mendekat ke arah Irene.


"Iya Ren. Mas Teguh udah minta maaf sama Mbak. Dan dia sudah janji kalau dia akan pergi meninggalkan wanita itu demi Mbak dan anak-anak."


"Mbak yakin, dengan ucapan Mas Teguh. Bisa saja dia bohongin Mbak kan," bisik Irene pada Indah.


"Udahlah Ren. Lagian aku juga kasihan sama Arjun dan Bobi. Kalau Mas Teguh udah mau sadar, dan minta maaf, aku akan maafin dia. Demi anak-anak aku. Dan dia juga janji akan meninggalkan wanita itu demi Mbak."


"Ya udah deh. Terserah Mbak aja. Toh, rumah tangga ini yang menjalaninya kan Mbak."


Indah menatap Irene.


"Kamu kenapa? kamu masih sakit?" tanya Indah.


"Iya Mbak."


"Kamu mau periksa ke dokter?"


"Nggak perlu Mbak. Nanti juga aku akan baikan kok."


"Kalau kamu mau periksa, nanti Mbak antar ke dokter."


"Nggak usah. Aku masih punya obat kok Mbak. Nanti aku mau minum obat lagi. Nanti juga sembuh sendiri."

__ADS_1


__ADS_2