Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Janda cantik


__ADS_3

Sinar mentari di pagi ini, sudah memancar ke dalam celah-celah jendela kamar Irwan. Irwan mengerjapkan matanya. Dia menatap ke sekeliling kamarnya. Tidak dilihatnya Irene ada di dalam kamarnya. Sepertinya Irene memang sudah bangun duluan.


Irwan bangun dari tempat tidurnya. Dia melangkah ke luar dari kamarnya dan menuju ke dapur.


"Ke mana sih Irene. Pagi-pagi gini, dia udah ngilang gitu aja," gerutu Irwan


Irwan melangkah ke meja makan. Meja makan tampak kosong. Tidak ada makanan sama sekali di sana.


"Apa-apaan ini Irene. Jadi dia nggak masak untuk aku. Benar-benar kelewatan. Setelah dia kerja. Malah seperti ini. Dia lalai dengan semua kewajibannya."


Irwan geleng-geleng kepala. Dia tidak tahu saja kalau sekarang Irene sudah pergi pagi-pagi karena khawatir dengan kondisi Alma.


Irwan melangkah ke depan rumah nya. Dia menatap ke arah bola yang tiba-tiba saja menggelinding di depannya.


"Bola siapa ini?" Irwan mengambil bola kecil itu dan menatap ke sekeliling.


"Kenapa bisa ada bola di sini. Nggak anak kecil di sini," gumam Irwan lagi.


Beberapa saat kemudian, Ajeng dan anaknya melangkah menuju ke arah Irwan.


"Maaf Mas. Itu bola anak saya," ucap Ajeng.


Irwan menatap Ajeng lekat. Dia sejak tadi masih tampak terpesona dengan kecantikan Ajeng.


'Ajeng cantik sekali sih.' batin Irwan.


"Mas, bisa kembalikan bolanya?" tanya Ajeng.


"Oh. Iya iya. Ini Nak, bola kamu." Irwan menyodorkan bola pada anak lelaki yang ada di sisi Ajeng.


"Em, Jeng. Itu anak kamu ya?" tanya Irwan.


"Iya Mas. Ini anak aku," jawab Ajeng.


"Ayahnya nggak pernah ke sini?" tanya Irwan lagi.


"Ayahnya udah nikah lagi Mas. Dia udah jarang-jarang nengokin Dio," jelas Ajeng.


"Oh. Nama anak kamu Dio?"


"Iya Mas."


Irwan berjongkok di depan Dio.


"Hai Dio?" Irwan menyapa Dio.


Dio hanya tersenyum.


"Kenalkan, nama saya Irwan. Kamu bisa panggil saya Om Irwan."


Dio menatap ibunya.


"Sayang. Om Irwan ini tetangga baru kita. Dan itu rumahnya," jelas Ajeng.


"Oh."

__ADS_1


"Kapan-kapan, Om ajak kamu main bola lagi ya."


Dio mengangguk."Iya."


Irwan kembali berdiri dan menatap Ajeng.


"Jeng. Anak kamu nurut ya?"


"Iya Mas. Dia memang nurut. Dia juga jarang banget main sama teman-temannya di luar. Dia lebih senang main di rumah."


Irwan tiba-tiba saja memegangi perutnya.


"Kenapa Mas?" tanya Ajeng.


"Nggak apa-apa. Biasa, kalau telat makan, suka sering sakit perut aku."


"Kamu belum makan Mas?" tanya Ajeng.


Irwan menggeleng. "Istriku nggak masak. Di dapur dan di meja makan, nggak ada makanan apa-apa tadi."


"Ya udah. Kebetulan aku masak banyak hari ini. Kita ke dalam aja yuk Mas! Sekalian temani Dio sarapan di dalam."


Irwan tersenyum. "Boleh?"


"Boleh dong. Ayo Mas!"


Ajeng, Irwan dan Dio kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Ajeng. Kebetulan Ajeng dan Dio juga belum sarapan. Karena masakan Ajeng juga baru matang.


Ajeng mengajak Irwan ke ruang makan.


"Duduk Mas! nanti aku ambilkan piring buat kamu."


Irwan kemudian duduk setelah Ajeng mempersilahkan dia duduk.


Sejak tadi Irwan masih memperhatikan Ajeng yang sedang berdiri di dapur.


Beberapa saat kemudian, Ajeng melangkah ke arah ruang makan. Dia menyajikan masakannya di atas meja makan.


Irwan sebenarnya malu juga harus ikut makan di rumah Ajeng. Tapi, mau bagaimana lagi. Irene tidak memasak hari ini. Dan Irwan juga sudah merasa sangat lapar. Apalagi semalam dia juga tidak makan.


"Ayo Mas di makan! Nggak usah malu-malu. Saya di sini itu kan cuma tinggal berdua sama anak saya saja. Jadi kalau saya masak, sering nggak habis. Kadang, saya buang tuh makanan di tong sampah."


"Wah, sayang banget dong."


"Iya Mas.".


Irwan, Ajeng dan Dio kemudian makan bersama di ruang makan rumah Ajeng. Irwan sama sekali tidak merasa canggung ikut makan di rumah janda muda itu.


****


Irene sejak tadi masih mondar-mandir di kamar Alma. Dia panik juga karena sejak tadi Alma masih mengigau memanggil-manggil ibunya.


"Mama... mama..."


Irene duduk di sisi Alma.

__ADS_1


"Kasihan kamu Alma. Tunggu sebentar ya. Papa kamu lagi meeting dulu. Selesai meeting, dia juga nanti akan pulang kok." Irene mengelus rambut Alma.


Tok tok tok...


Suara ketukan sudah terdengar dari depan kamar Alma. Irene buru-buru melangkah untuk membuka pintu.


"Mbok. Ada apa Mbok?" tanya Irene saat melihat Mbok Inah sudah berdiri di depan pintu.


"Gimana Non Alma? dia masih panas juga?" tanya Mbok Inah.


"Iya. Panasnya dari semalam nggak turun-turun. Padahal sejak tadi udah aku kompres,"jelas Irene.


"Udah telpon Pak Ifan lagi?"


"Belum Mbok. Dia nggak bisa di ganggu. Lagi ada meeting penting."


"Oh."


Mbok Inah menatap Alma lekat.


"Kasihan Non Alma. Kalau sakit, suka lama sekali sembuhnya. Kasihan Pak Ifan kalau Non lagi sakit," ucap Mbok Inah.


"Gitu ya Mbok."


"Iya. Tapi sampai sekarang, Pak Ifan belum mau menikah lagi. Padahal kalau dia punya istri kan mending aja. Dia nggak terlalu susah banget begitu ngurusin Alma."


"Mungkin Pak Ifan itu belum dapat yang cocok kali Mbok."


"Iya. Padahal neneknya Alma sering sekali mau mencarikan calon istri untuk Pak Ifan. Tapi, Pak Ifannya nggak pernah mau."


Irene menatap si Mbok.


"Neneknya Alma?"


"Iya. Bu Atik namanya."


"Dia sering ke sini?" tanya Irene penasaran.


"Jarang sih. Paling Pak Ifan dan Alma yang sering ke rumah Bu Atik."


"Kalau belum jodoh ya susah Mbok. Mau di paksa seperti apapun, tetap aja nggak bisa. Sama halnya seperti rumah tangga aku dulu sama suami pertama aku."


"Maksud Mbak Irene. Mbak Irene pernah gagal menikah?"


"Iya. Dulu. Delapan tahun yang lalu. Aku cerai dengan suami pertama aku. Mungkin karena kami memang tidak berjodoh. Jadi mau dipaksa seperti apapun, tetap saja akhirnya cerai."


"Iya Mbak Iren. Kalau sekarang Mbak udah nikah lagi?"


"Iya. Mudah-mudahan dengan suami yang sekarang akan langgeng, sampai kakek nenek."


Mbok Inah dan Irene saling diam. Mereka sejak tadi masih menatap ke arah Alma.


"Si Mbok sudah masakin bubur untuk Non Alma. Non Alma sejak semalam belum makan. Dia mintanya makan bubur," ucap Mbok Inah.


"Iya Mbok. Kalau sudah matang, bawa sini saja. Biar saya nanti yang akan menyuapi Alma. Kalau si Mbok lagi banyak kerjaan, mending si Mbok, kerjakan dulu aja kerjaan si Mbok yang lain."

__ADS_1


"Iya Mbak Iren."


Mbok Inah kemudian melangkah pergi ke luar dari kamar Alma. Dia akan menyiapkan bubur untuk Alma makan.


__ADS_2