Terjerat Cinta Mantan

Terjerat Cinta Mantan
Menemui Irwan


__ADS_3

"Irene. Kamu apa-apaan sih. Kenapa kamu menampar Ajeng. Apa salah Ajeng Irene." Irwan sudah menatap tajam ke arah Irene. Sepertinya dia sangat marah pada Irene. Karena Irene sudah berani menampar Ajeng.


"Dia memang udah salah Mas. Dia udah berani dekatin kamu. Dia itu pelakor yang mau merusak rumah tangga kita. Harusnya kamu nyadar itu dong Mas...!" ucap Irene dengan nada tinggi.


"Ren. Jangan salahkan Ajeng untuk masalah kita. Kalau kamu ingin menyalahkan, salahkan diri kamu sendiri Ren. Kamu selama ini, tidak bisa memberikan aku seorang anak. Kamu sekarang juga sudah mulai berubah setelah kamu kerja. Kamu sudah tidak seperti dulu lagi. Kamu nggak pernah mau melayani aku lagi," ucap Irwan panjang lebar.


"Mas, apa maksud kamu ngomong seperti itu. Aku ini banting tulang setiap hari, karena aku kerja Mas. Aku kerja untuk memenuhi semua kebutuhan kita. Dan coba sekarang kamu fikir, waktu kamu sakit, aku Mas yang membiayai pengobatan kamu. Tapi sekarang kenapa kamu, menyalahkan aku terus sih Mas. Aku selama ini memang selalu salah di mata kamu." Irene benar-benar kesal. Karena selalu dia yang disalahkan di dalam masalah ini. Sementara Irwan sama sekali suami yang tidak mau disalahkan. Dia selalu egois, dan inginnya menang sendiri.


"Cukup...! berhenti! kalian tidak pantas berantem di depan rumah aku. Kalian nggak malu apa, di lihatin anak aku. Kalau kalian mau berantem, di rumah kalian sendiri saja. Jangan di depan anak kecil seperti Dio, anak aku."Tiba-tiba saja, Ajeng mengusir Irene dan Irwan dari depan rumahnya.


Sementara sejak tadi, Dio masih menangis karena takut melihat pertengkaran Irene dan Irwan. Apalagi tadi Dio juga melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Irene sempat menampar Ajeng di depan Dio. Membuat Dio sedikit trauma dan dia masih syok.


Irene dan Irwan saling menatap. Tiba-tiba saja, Irwan menyeret Irene sampai ke depan rumahnya.


"Aduh Mas, lepaskan! tangan aku sakit tahu, kamu tarik-tarik!" ucap Irene sembari melepaskan tangan suaminya dengan kasar.


"Ren. Kamu itu benar-benar udah keterlaluan tahu nggak. Kenapa kamu tampar Ajeng. Ajeng itu nggak salah apa-apa Ren," ucap Irwan dengan nada tinggi.


Dia sama sekali tidak membela istrinya sedikitpun. Dia lebih membela Ajeng janda itu.


"Tapi aku nggak suka, kamu dekat sama dia." Irene menunjuk ke arah rumah Ajeng.


"Kamu fikir, cuma kamu yang bisa cemburu? aku juga bisa cemburu Ren. Emang aku nggak tahu apa kedekatan kamu dengan lelaki itu." Irwan menatap Irene dengan sorot mata nanar.


"Lelaki yang mana?" tanya Irene .


"Jangan pura-pura tidak tahu kamu Irene. Lelaki itu pernah datang malam-malam ke sini dan nyariin kamu. Dan aku tahu, dia memang sengaja datang untuk memancing kemarahan aku."


"Tapi aku nggak punya hubungan apapun sama lelaki itu Mas," ucap Irene mencoba menjelaskan.


"Nah, aku juga Irene. Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Ajeng."


"Kalau bukan karena Ajeng, terus, kenapa kamu mengusir aku dari rumah. Dan kamu juga bilang, kalau kamu akan menceraikan aku. Dan setelah aku pergi, kamu malah asyik-asyik kan sama janda genit itu."


"Kamu mau tahu, kenapa aku mau cerai dari kamu. Karena sudah sekian tahun, kita menikah kamu belum juga punya anak." Irwan tampak menjelaskan.


"Mas. Itu nggak bisa untuk di jadikan alasan. Di luar sana banyak kok wanita yang tidak mempunyai keturunan. Tapi suaminya masih mau menerimanya. Bahkan mereka sampai rela mengadopsi anak di panti asuhan," ucap Irene yang sama-sama tidak mau disalahkan.


"Itu untuk mereka. Tapi tidak untuk aku Ren. Aku nggak mau punya anak adopsi. Aku hanya ingin punya anak dari rahim istriku. Kalau kamu tidak bisa memberikan aku seorang anak, siap-siap saja kamu aku ceraikan. Kalau nggak, aku akan cari istri lagi, yang bisa ngasih aku seorang anak."

__ADS_1


Irene tidak sanggup lagi untuk mendengar kata-kata Irwan. Irene menangis di depan Irwan.


"Jahat banget kamu sama aku Mas. Kamu anggap aku ini apa Mas! aku sudah menemani kamu dari nol. Sampai kamu naik jabatan. Dan waktu kamu sakit, aku yang cari uang untuk biaya pengobatan dan biaya operasi kamu. Tapi kamu tega banget sama aku ngomong kayak gitu Mas."


"Sudahlah Ren. Aku lagi malas berdebat dengan kamu. Sekarang, aku minta kamu pergi dari sini...! dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."


Irene mengusap air matanya. Dia kemudian menghela nafas dalam.


"Baik. Baik Mas. Aku akan pergi. Tapi ingat Mas. Kamu sudah melukai aku. Dan Tuhan itu tidak tidur Mas. Dia melihat apa yang kamu lakukan sama aku. Aku yakin, suatu saat Allah akan menghukum kamu dengan semua perbuatan yang udah kamu lakukan sama aku."


Irwan tidak mau lagi mendengar ucapan istrinya. Dia kemudian masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat.


Setelah Irwan menutup pintu depan rumahnya, akhirnya Irene mau buru-buru pergi melangkah meninggalkan rumah Irwan.


Irene menangis ke luar dari halaman depan rumah Irwan. Irene melangkah sampai ke tepi jalan. Tiba-tiba saja, tukang ojek itu menghampirinya.


"Neng. Kenapa Neng?" tanya tukang ojek itu.


"Aku nggak apa-apa," jawab Irene.


Irene mengusap air matanya.


"Iya. Nggak apa-apa."


"Aku mau pulang Bang."


"Iya Neng. Ayo naik...!"


"Iya."


Irene kemudian naik dan membonceng Abang ojek itu untuk pulang ke rumah Indah kakak perempuannya.


Di perjalanan pulang, tiba-tiba Abang ojek itu berhenti.


"Lho. Kenapa kita berhenti di sini Bang?" tanya Irene.


"Maaf. Sepertinya ada masalah dengan motornya," jawab Abang tukang ojek itu menjelaskan.


"Masalah apa?" tanya Irene mulai serius.

__ADS_1


"Nanti, saya cek dulu. Bisa turun dulu Neng sebentar?"


"Iya Bang."


Irene kemudian turun dari motor Abang ojek. Begitu juga dengan Abang ojek itu. Abang ojek, kemudian memeriksa motornya.


Pertama dia melihat ke arah bannya. Dia terkejut saat melihat bannya sama sekali tidak mempunyai angin. Dan sepertinya, bannya bocor.


"Astaga, jadi ternyata sejak tadi, bannya itu kempes," ucap Abang ojek. Sedikit terkejut saat melihat kelas.


"Oh. Kempes ya Bang."


"Iya. Kempes Neng. Sepertinya bocor deh."


"Bocor? terus gimana?" tanya Irene. Khawatir.


"Ya terpaksa harus di tambal dulu."


"Duh, kalau pakai acara tambal segala, nggak lama Bang?"


"Ya lama Neng. Mungkin, Neng bisa nunggu satu sampai dua jam."


"Duh lama amat Bang."


"Saya saranin, untuk naik taksi atau cari ojek lain aja Neng. Bir bisa cepat nyampe rumah


"Jadi, Abang nggak bisa nih, ngantar aku sampai ke rumah? tanya Irne.


"Maf neng, nggak bisa Neng. Ini bannya bocor dan harus di tambal dulu. Neng mau nunggu, apa mau cari ojek lain?"


"Em, gimana ya. Naik ojek lain aja deh Bang."


"Ya udah kalau begitu. Saya mau pergi cari bengkel."


Irene kemudian mengembalikan helmnya pada Abang ojek. Setelah itu, Abang ojek pun pergi meninggalkan Irene di tepi jalan.


Irene hanya bisa melongo. Siapa yang akan menolongnya sekarang.


*****

__ADS_1


__ADS_2