
Indah terkejut saat melihat Teguh sudah berada di kamarnya. Indah langsung beranjak berdiri.
"Mas Teguh, kamu pulang?" Indah menatap lekat ke arah suaminya.
Indah kemudian mendekat ke arah Teguh suaminya.
Indah menangkup wajah Teguh dan menatapnya lekat.
"Mas, dari mana aja kamu Mas?" tanya Indah pada suaminya.
Teguh meraih tangan Indah dan menggenggamnya erat.
"Maafkan aku. Aku sudah sempat menelantarkan kamu dan anak-anak. Tidak seharusnya aku melakukan itu."
"Mas, aku lagi nanya sama kamu Mas! ke mana aja kamu selama ini Mas? kenapa kamu harus bohongin aku Mas!" ucap Indah dengan nada tinggi. Dia langsung melepaskan tangan Teguh.
"Maafkan aku Ndah."
Teguh menghela nafas dalam. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi untuk merahasiakan semua ini dari Indah. Teguh ingin jujur pada Indah, kalau selama ini dia sudah menikah lagi.
Teguh duduk di sisi ranjang.Dia hanya bisa menundukan kepalanya.
"Maafkan aku Ndah. Aku harus jujur dengan semua ini."
Indah menatap lekat Teguh.
"Jujur soal apa Mas?"
"Sebenernya aku sudah nikah lagi"
"Apa! kamu sudah nikah lagi?"
***
Irene terkejut saat mendengar teriakan dari dalam kamar Teguh dan Indah.
"Apa. Ada apa lagi sama mereka berdua. Apa mereka berantem?"
Irene buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar Teguh.
"Jahat kamu Mas..! jahat...!" Indah tampak sedang memukul-mukul Teguh.
Irene segera menghampiri Indah untuk menenangkannya.
"Mas Teguh. Apa yang sudah mas Teguh lakukan? bicara apa Mas Teguh dengan Mbak Indah? kenapa Mbak indah bisa histeris lagi begini?" tanya Irene menatap tajam ke arah kakak iparnya.
Teguh hanya bisa menghela nafasnya dalam.
"Maafkan aku Ren. Aku sudah bohong kalian semua. Sebenarnya aku sekarang sudah punya istri lagi. Dan aku..."
__ADS_1
Plak.
Irene langsung menampar kakak iparnya.
"Dasar lelaki brengsek. Apa semua lelaki itu bejat seperti kamu Mas! tidak Mas Irwan, tidak kamu, semua lelaki itu brengsek."
"Pergi kamu Mas! pergi dari kamar kakak aku!" teriak Irene.
Teguh kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Dia kemudian duduk di ruang tengah. Entah apa yang sedang Teguh fikirkan sekarang. Sepertinya dia sama sekali tidak punya rasa penyesalan sedikitpun telah menikah lagi tanpa izin Indah.
Irene mencoba untuk menenangkan Indah. Dia menemani Indah di kamar Indah sampai Indah tertidur. Sementara Teguh, tidur di sofa ruang tengah.
"Tadi aku dengar ada ribut-ribut di kamar Mama. Sejak papa pulang, kenapa mama dan papa malah berantem ya Kak?" tanya Arjun pada Bobi. Mereka juga mendengar suara teriakan Indah dari dalam kamar mereka.
"Entahlah. Kakak juga nggak tahu, dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mama dan papa. Kita itu kan cuma anak kecil. Nggak boleh ikut campur urusan orang tua," ucap Bobi menasihati adiknya.
"Tapi aku nggak suka Mama dan Papa berantem Kak. Kasihan Papa. Karena Papa selalu kalah kalau berantem sama Mama."
"Sssttt...Jangan berisik. Kita tidur aja. Besok kita nggak boleh terlambat datang ke sekolah. Kita harus bangun pagi. Besok Om Ifan yang akan mengantar kita. Karena katanya, Mama itu lagi sakit. Dan nggak bisa mengantar kita."
"Jadi, kita mau berangkat bareng sama Alma dan Tante Iren?" tanya Teguh.
"Iya."
"Kita mau naik mobil dong Kak."
"Asyik... naik mobil."
****
Subuh-subuh, Irene terbangun. Pelan-pelan, dia mengambil ponselnya untuk menelpon Ifan.
"Halo Mas."
"Ada apa sayang? tumben subuh-subuh gini nelpon. Kamu kangen ya."
"Mas Teguh, semalam pulang. Dan dia semalam berantem sama Mbak Indah. Ngeri banget aku Mas."
"Kenapa bisa berantem?"
"Pokoknya ceritanya panjang Mas. Apa aku bisa minta tolong kamu."
"Minta tolong apa?"
"Mas mau nggak ngantar Bobi dan Arjun ke sekolah. Soalnya, kondisi Mbak Indah, masih belum stabil."
"Oh. Bisa. Tapi kan, bukannya ada ayahnya?"
"Biarin ajalah. Dia itu kan ayah nggak guna. Nggak pantas Arjun dan Bobi punya ayah seperti dia. Dia lebih-lebih brengseknya dari Mas Irwan."
__ADS_1
"Oh. Begitu. Aku masih nggak ngerti apa maksud kamu itu Ren."
"Nanti juga kamu tahu kok. Aku nggak bisa bicara panjang-panjang di telpon."
"Ya udah. Terus kamu mau menemani Mbak Indah?"
"Iya Mas. Kasihan . Jiwanya masih terluka. Dan tambah terluka lagi setelah suaminya pulang."
"Duh ya udah sayang. Nanti aku ke rumah kamu deh."
"Iya Mas."
Setelah bangun dari tidurnya, Irene kemudian turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah ke luar dari kamar Indah. Dia menatap Teguh, yang masih berada di atas sofa ruang tengah.
"Ih. Ngeselin banget sih kalau aku lihat Mas Teguh. Mau di usir dari sini, orang ini rumahnya. Nggak di usir, nyebelin banget. Jadi mengingatkan aku sama Mas Irwan lagi. Benci banget aku lihat lelaki pengkhianat. Mudah-mudahan nggak akan nular ke Mas Ifan."
Irene kemudian duduk di sofa ruang tengah. Tiba-tiba saja, Teguh mengerjapkan matanya. Dia mengucek matanya dan menatap ke arah Irene adik iparnya.
"Kamu udah bangun? di mana istriku?"
"Dia masih tidur."
"Ren. Aku mau ke kamar istriku."
"Nggak usah. Mbak Indah udah tenang. Dan dia masih nyenyak tidur. Nggak usah di ganggu."
"Tapi Ren. Aku akan menjelaskan sesuatu sama dia."
"Tidak perlu ada yang dijelaskan Mas Teguh. Semuanya sudah jelas. Kalau kamu itu sudah mengkhianati Mbak aku. Karena kamu sudah nikah lagi dengan wanita lain. Tanpa izin darinya
Teguh menghela nafasnya dalam.
"Iya. Aku akui aku memang salah. Tapi aku melakukan ini juga karena terpaksa."
"Sudah. Nggak usah banyak alasan Mas Teguh. Lebih baik sekarang Mas Teguh, kembali aja ke rumah istri ke dua Mas. Biarkan Mbak Indah bersama aku di sini. Aku yakin, dia akan baik-baik saja bersama aku dan ke dua anaknya."
"Kamu ngusir aku Ren?"
"Aku nggak ngusir kamu Mas. Aku nggak punya hak untuk mengusir kamu dari rumah ini. Karena rumah ini punya kamu. Tapi Mas Teguh tahu kan? tahu bagaimana Mbak Indah semalam. Tolonglah, biarkan dia tenang dulu, jangan ganggu dia"
"Baiklah. Aku ingin bicara baik-baik dengan Indah. Aku mau minta maaf sama dia."
"Terserah lah Mas apa mau kamu. Tapi tolonglah Mas. Jangan persulit keadaan. Mbak Indah itu lagi nggak bisa di ajak bicara. Mengertilah Mas."
Setelah bicara dengan Teguh, Irene kemudian bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah ke arah dapur. Dia akan membuatkan sarapan untuk ke dua ponakannya.
"Masak apa ya hari ini. Biasanya Mbak Indah, masak nasi sama goreng telur untuk anak-anak. Tapi, ini nasi udah ada. Apa aku buat nasi goreng aja ya."
Irene kemudian memasak nasi goreng untuk ke dua ponakannya sebelum Ifan menjemput mereka berdua.
__ADS_1