
Bu Atik melangkah dan mendekat ke arah Alma yang sejak tadi masih menangis.
"Alma. Kenapa kamu nangis?" tanya Bu Atik.
"Nenek jahat...! nenek sudah mengusir Mama aku dari sini."
"Apa! Mama? sejak kapan kamu punya Mama dia Alma. Papa kamu itu belum menikah lagi. Papa kamu belum menikah dengan wanita itu. Kenapa kamu harus panggil dia Mama. Jangan pernah lagi, kamu panggil wanita itu Mama! dia itu bukan mama kamu Alma."
Bu Atik sepertinya tidak rela, cucunya itu memanggil Irene Mama. Sejak tadi dia masih memarahi cucunya yang sedang sakit.
"Hiks...hiks... aku sayang ama Tante Iren. Aku mau Tante Iren jadi ibu aku. Tapi, kenapa nenek harus ngusir dia dari sini."
"Cukup Alma...! dia itu wanita jahat. Kamu mau punya ibu tiri seperti dia? dia itu jahat Alma." Bu Atik menatap tajam ke arah Alma.
"Tante Iren nggak jahat. Tante Iren sayang sama aku! "ucap Alma penuh penekanan.
Bu Atik menghela nafas dalam.
"Aku nggak tahu, apa yang sudah wanita itu lakukan terhadap cucuku. Pengaruh apa yang sudah dia berikan pada anak dan cucuku. Kenapa dia bisa tiba-tiba datang di kehidupan Ifan. Dan kenapa bisa Alma memanggil dia Mama. Aku benar-benar nggak tahu dengan Ifan. Ketemu di mana dia dengan Irene," gumam Bu Atik.
Widi menatap iba ke arah Alma. Dia kemudian mendekat ke arah Alma dan duduk disisinya.
"Tan. Alma jangan di marahin terus Tan. Kasihan dia Tan. Dia lagi sakit. Tante juga seharusnya jangan tampar Irene di depan Alma. Alma itu masih kecil. Gimana nanti kalau dia trauma," ucap Widi.
Bu Atik hanya diam. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun telah menampar Irene di depan Alma.
"Sayang. Jangan nangis ya. Maafkan kesalahan nenek kamu ya." Widi mencoba untuk menenangkan Alma.
****
Ifan menghentikan mobilnya setelah dia sampai di tempat parkir.
Ifan turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Setelah sampai di depan ruangan Alma, Ifan membuka pintu ruangan Alma. Dia terkejut saat melihat ibunya dan wanita yang bernama Widi itu sudah ada di dalam ruangan Alma.
"Ibu. Widi. Kalian kok bisa ada di sini? sejak kapan kalian datang? dan di mana Irene?" tanya Ifan yang tidak melihat ada Irene di ruangan Alma.
Bu Atik mendekat ke arah Ifan. Dia kemudian mengajak Ifan untuk ke luar.
"Ikut ibu Ifan! ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu."
Bu Atik ke luar dari ruangan Alma di ikuti Ifan di belakangnya. Bu Atik menatap Ifan tajam.
"Ifan. Apa yang sudah kamu lakukan Ifan! jadi selama ini kamu sudah bohongin ibu?"
__ADS_1
Ifan tidak tahu apa maksud ibunya.
"Bohongin apa Bu?" tanya Ifan.
"Kenapa Irene bisa ada di sini heh...!"
"Oh itu. Ceritanya panjang Bu. Aku nggak bisa cerita sekarang. Bu, di mana Irene?"
"Irene sudah pergi. Ibu sudah mengusirnya tadi."
"Lho. Kok di usir Bu."
"Ibu nggak suka Irene dekat dengan Alma. Ibu nggak mau sampai kamu jatuh cinta lagi dengan wanita itu. Karena ibu akan menjodohkan kamu dengan Widi."
Ifan menghela nafas dalam.
"Di usir? kenapa ibu ngusir Irene? Irene Itu pengasuhnya Alma Bu. Dia kerja di rumah aku sekarang, menjadi pengasuhnya Alma."
"Apa! kenapa kamu memperkerjakan dia di rumah kamu Ifan. Untuk apa...!" ucap Bu Atik dengan nada tinggi.
"Bu. Alma itu susah untuk dekat dengan orang lain. Kalau aku cari pengasuh baru, belum tentu ada yang betah Bu. Dan Alma juga belum tentu mau. Tapi kalau sama Irene, mereka sudah cocok Bu."
"Tapi Ifan. Ibu tetap nggak suka sama Irene. Dia mendekati kamu pasti ada maunya. Pasti sekarang dia ingin kembali sama kamu karena sekarang kamu itu sudah menjadi orang kaya."
"Bu. Ibu ini kenapa sih. Dari tadi ibu itu fikirannya negatif terus ke Irene. Belajarlah untuk berfikir positif Bu. Irene itu mana mungkin ingin kembali lagi sama aku. Dia itu sudah punya suami Bu."
"Wajarlah mereka dekat. Irene itu kan pengasuhnya Alma."
"Pokonya ibu ngga mau, wanita itu hadir lagi di kehidupan kamu Ifan. Kamu masih ingat kan dengan perlakuan orang tua Irene ke kamu."
"Bu. Sudahlah. Jangan ingat-ingat lagi kejadian yang dulu. Itu semua sudah masa lalu Bu. Nggak baik, kita menyimpan dendam. Apalagi itu sudah delapan tahun yang lalu."
"Ibu tetap saja tidak terima dengan perlakuan orang tua Irene itu ke kamu Ifan."
"Untuk apa ibu mikirin peristiwa delapan tahun yang lalu. Nggak ada untungnya Bu."
Ifan tidak mau berdebat terlalu lama dengan ibunya. Ifan kemudian melangkah pergi masuk ke dalam ruangan anaknya.
"Hiks...hiks... Mama..."
Ifan mendekat ke arah Alma dan duduk di sisi Alma.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ifan.
"Nenek udah ngusir Tante Iren dari sini Papa."
__ADS_1
"Iya Papa tahu itu. Kamu jangan sedih ya. Nanti Papa yang akan telpon Tante Iren dan menyuruhnya kembali."
"Benar Pa?" Alma menatap Ifan lekat.
"Iya benar."
"Aku nggak mau Tante Iren pergi."
"Iya sayang, iya."
Bu Atik hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Alma. Dia tidak mungkin terus menerus marah-marah di depan Alma. Karena saat ini cucunya sedang sakit.
"Tunggu ya sayang. Papa akan telpon Tante Iren."
Ifan kemudian mencoba untuk menelpon Irene. Namun, telpon Irene tidak aktif.
"Nggak biasanya nomer Irene nggak aktif," ucap Ifan.
***
Di sisi lain, Irene sudah sejak tadi melangkah ke luar dari rumah sakit. Saat ini, dia masih menapaki jalan raya, melangkah menyusuri kegelapan malam.
Irene masih menangis. Dia masih merasakan sakit, setelah Bu Atik menamparnya.
"Apa salah aku. Kenapa ibu menampar aku. Padahal dulu, dia sayang banget sama aku. Tapi sekarang dia sudah berubah," ucap Irene.
Kilat di langit, tampak menyambar-nyambar. Petir pun sudah mulai bersahut-sahutan. Sepertinya malam ini, akan turun hujan.
Sejak tadi, Irene menunggu taksi. Tapi, taksi itu tidak kunjung datang. Mungkin karena waktu sekarang sudah hampir jam sembilan malam. Dan cuaca malam ini, sangat mendung.
Irene merasakan dingin yang amat sangat di sekujur tubuhnya. Dia sejak tadi berjalan kaki, menyusuri jalanan yang gelap.
Jalanan yang biasanya padat merayap, malam ini sungguh sangat sepi.
"Kenapa nggak ada taksi lewat sih," gumam Irene.
Sejak tadi, Irene masih celingak-celinguk menunggu taksi.
Jederrr...
Suara petir sudah mulai terdengar. Membuat Irene takut. Gerimis pun mulai mengguyur jalanan malam ini.
Irene mencari tempat untuk berteduh. Irene tersenyum saat melihat ada sebuah ruko yang cukup besar yang terasnya juga luas.
Irene berlari ke arah ruko itu untuk berteduh.
__ADS_1
Irene mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
"Yah, batrenya habis lagi. Bagaimana cara aku untuk menghubungi Mas Irwan. Pasti sekarang Mas Irwan sudah menunggu aku di rumah. Aku juga nggak bisa nelpon Mas Ifan."