
Sore ini, Ifan sudah mengakhiri pekerjaannya. Dia menutup monitornya dan menatap ke arah Irene.
"Kamu capek?" tanya Ifan pada Irene.
"Nggak juga kok Mas. Aku kan, dari tadi juga cuma duduk aja. Nggak melakukan apapun."
Ifan menatap Alma lekat. Alma yang tampak masih tertidur dengan kepala berada di pangkuan Irene.
"Alma kayaknya kecapean. Dia udah tidur nyenyak begitu," ucap Ifan.
"Kamu udah mau pulang Mas?" tanya Irene.
"Iya."
"Terus, gimana ini anak kamu?" ucap Irene sembari mengelus rambut Alma.
"Nanti aku gendong dia sampai ke mobil," ucap Ifan.
"Iya Mas."
Ifan bangkit berdiri. Dia kemudian memakai jasnya. Setelah itu, dia melangkah mendekat ke arah Irene dan duduk di sisi Irene.
"Ren. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Ifan menatap Irene lekat.
"Apa Mas?" tanya Irene.
"Nggak enak, ngomong di sini."
"Terus?"
"Sepulang dari kantor, kita mampir ke cafe dulu ya."
Irene mengangguk. "Iya Mas."
"Tolong kamu bawakan tas aku. Aku akan gendong Alma sampai ke mobil."
"Iya Mas."
Ifan menggendong Alma ke luar dari ruangannya, diikuti Irene di belakangnya. Mereka kemudian ke luar dari kantor menuju parkiran, untuk mengambil mobil.
"Eh, siapa sih sebenarnya wanita itu. Dia kenapa sepertinya dekat sekali ya dengan si bos," ucap salah satu karyawan Ifan pada karyawan lainnya.
"Itu bukannya pengasuhnya anaknya si bos," seorang lagi menimpali.
"Iya. Tapi, yang aku lihat, Pak Ifan itu seperti punya rasa pada wanita itu. Beda kan dari pengasuhnya yang dulu. Kalau wanita itu, sangat di spesialkan. Buktinya saja, dia selalu duduk di dekat Pak Ifan."
"Iya sih ya. Mungkin saja, mereka punya hubungan spesial. Tapi kita kan tidak tahu. Itu kan urusan bos besar."
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Ifan kemudian melajukan mobilnya ke luar dari halaman kantornya.
"Kita mau ke cafe dulu Mas?" tanya Irene.
"Iya. Kamu nggak apa-apa kan, kalau nanti kamu pulang agak malaman?"
"Iya. Nggak apa-apa. Lagian, aku juga udah nggak tinggal sama suami aku lagi."
Ifan mengangguk. Setelah itu, dia melajukan mobilnya sampai ke cafe.
Sesampai di depan cafe, Ifan turun. Dia kemudian membuka pintu mobil untuk Irene.
"Turun Ren!" pinta Ifan.
__ADS_1
"Iya Mas."
Irene kemudian turun dari mobilnya.
"Aku mau bangunkan Alma dulu, udah lama juga dia tidur," ucap Ifan.
Ifan kemudian membangunkan Alma.
"Alma sayang. Bangun yuk Nak! ucap Ifan sembari menepuk-nepuk pipi Alma.
Alma kemudian mengerjapkan matanya dan menatap ayahnya.
"Papa. Kok aku ada di mobil?" tanya Alma sembari beringsut duduk.
Ifan tersenyum.
"Udah sampai ke rumah ya Pa?" tanya Alma tampak bingung.
"Kita mampir dulu ke cafe sayang. Papa mau ajak kamu dan Tante Iren makan. Kamu pasti laparkan?"
"Mama Iren mana?" Alma menatap ke sekeliling.
"Itu sayang." Ifan menunjuk ke arah Irene.
"Mama Iren belum pulang ya papa?"
"Belum Nak."
"Ayo kita turun!"
Alma mengangguk dan dia langsung turun untuk menghampiri Irene.
Alma, Ifan dan Irene kemudian mencari tempat duduk. Setelah itu, mereka bertiga kemudian duduk.
Ifan kemudian mengundang pelayan untuk memesan makanan.
"Pelayan...!"
Seorang pelayan perempuan menghampiri Ifan.
"Mau pesan apa Pak?" tanya pelayan cafe itu.
"Aku mau pesan steak daging satu sama orange jus satu. Kalian mau pesan apa?" Ifan menatap ke arah Alma dan Irene.
"Aku samain aja sama kamu Mas," ucap Irene.
"Kalau Alma apa?" Ifan menatap ke arah anaknya.
"Aku mau burger aja papa. Sama minumannya, kayak papa aja," ucap Alma.
"Pelayan, pesan orange jus tiga, steak daging dua, sama burger ya."
"Iya Pak."
Ifan dan Irene menunggu pelayan itu. Mereka masih saling diam. Irene sejak tadi masih ngobrol dengan Alma, sementara Ifan masih membalas chat dari orang kantornya.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu membawakan pesanan Ifan dan meletakannya di atas meja.
"Silahkan Pak, Bu, selamat menikmati." ucap pelayan itu.
"Makasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
Setelah pelayan cafe itu pergi, Alma dan Ifan kemudian makan. Sementara Irene masih menatap ke arah makanan itu. Dia hanya bisa diam tidak menyentuh makanan itu sedikit pun.
"Kenapa Ren? kenapa di diamin aja?" tanya Ifan.
"Makan dong!" pinta Ifan..
"Iya Mas."
Irene kemudian menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Namun, makan malam kali ini rasanya sangat hambar. Irene ada bersama Alma dan Ifan, namun fikirannya masih tertuju pada surat cerai yang tadi pagi dia terima.
"Kamu lagi mikirin apa sih Ren?" tanya Ifan.
Irene yang ditanya hanya diam. Dia seperti tidak mendengar apa yang Ifan ucapkan.
"Ren. Kamu kenapa?" Ifan sedikit mengeraskan suaranya.
"Eh. Iya Mas. Kenapa tadi?"
"Kamu ngelamun? kamu lagi ngelamunin apa sih?" tanya Ifan.
"Nggak Mas. Aku nggak ngelamunin apa-apa kok," jawab Irene.
"Kamu lagi mikirin suami kamu?"
Irene diam. Tiba-tiba saja, Ifan sudah menggenggam tangan Irene dengan erat.
Irene buru-buru melepaskan tangannya.
"Maaf Mas. Jangan seperti ini. Nggak enak dilihatin orang. Apalagi ada Alma di sini."
"Oh. Maaf Ren. Aku nggak sengaja. Kalau kamu mau cerita, cerita aja Ren. Kamu sebenarnya punya masalah apa sama suami kamu?"
Irene diam.
"Aku cuma ingin jadi pendengar yang baik untuk kamu. Kalau kamu punya masalah, ceritakan saja sama aku. Siapa tahu, aku bisa membantu kamu untuk menyelesaikan masalah kamu. Dan siapa tahu, nanti dengan kamu ceritakan semua masalah kamu ke aku, akan bisa mengurangi beban di hati kamu."
"Aku nggak apa-apa kok," ucap Irene.
Lagi-lagi Irene bilang dia tidak apa-apa. Padahal Ifan tahu, kalau Irene sedang tidak baik-baik aja. Ifan sudah bisa melihatnya dari tatapan mata Irene. Kalau Irene memang sedang punya masalah besar.
"Ren. Kemarin aku melihat suami kamu dengan seorang wanita. Dan sepertinya wanita itu tinggal di dekat rumah suami kamu."
Irene langsung menatap Ifan.
"Yang benar Mas? aku yakin, kalau perempuan itu Ajeng. Dia tetangga baru yang tinggal di samping rumah suamiku."
"Terus, apa yang kamu lihat kemarin?" tanya Irene penasaran.
"Waktu aku ke rumah kamu, Irwan suami kamu, akan pergi dengan wanita itu. Dan bersama seorang anak kecil yang sepertinya, anak wanita itu."
Irene menghela nafas dalam. Dia tidak sanggup untuk berkata-kata lagi.
"Sebenarnya, Mas Irwan sudah mentalak aku Mas. Dia sudah mengajukan gugatan cerainya ke pengadilan."
"Apa! kamu yang benar aja Ren?"
"Iya Mas. Tadi pagi, aku sudah menerima surat cerainya."
"Kenapa kamu nggak cerita sama aku. Kenapa kamu harus pendam sendiri masalah seberat ini Ren?" Ifan tampak iba melihat kondisi mantan istrinya saat ini.
__ADS_1